Bahan Khotbah Minggu Ke-9 Tanggal 1 Maret 2020 Prapaskah 1 dan Penutupan Pekan Anak Gereja Toraja HANYA OLEH ANUGERAH Sangadinna Pa’kamasean

Bahan Khotbah Minggu  Ke-9 Tanggal 1 Maret 2020
Prapaskah 1 dan Penutupan Pekan Anak Gereja Toraja
HANYA OLEH ANUGERAH
Sangadinna Pa’kamasean

Bacaan Mazmur : Mazmur 32:1-11
Bacaan 1   : Kejadian 2:15-17 dan 3:1-7
Bacaan 2   : Roma 5:12-21 (Bahan Utama)
Bacaan 3 : Matius 4:1-11
Nas Persembahan   : Amsal 11:24-25
Petunjuk Hidup Baru : Roma 5:1

Tujuan:

1.  Jemaat Jemaat memahami bahwa melanggar perintah Allah adalah dosa.

2. Jemaat meyakini bahwa hanya karena Anugerah Allah, kita diselamatkan.

Korelasi
Keempat bacaan ini memperlihatkan hubungan yang sangat erat. Kejadian 2:15-17, 3:1-7, memperlihatkan bahwa sedari awal, iblis memang selalu menggoda manusia untuk melawan Allah, bahkan Yesus pun dicobai (Mat. 4:1-11). Manusia tergoda untuk melakukan bujukan dan rayuan iblis yang mengakibatkan manusia berdosa. Akibatnya manusia harus dihukum. Namun Yesus berhasil menang dari godaan iblis, bahkan kemudian iblis diusir dari hadapan-Nya. Sehubungan dengan itu pula dipahami, bahwa jika dosa masuk ke dalam dunia karena ketidaktaatan Adam, maka di dalam Yesus Kristus kita memperoleh kasih karunia Allah sehingga setiap orang yang percaya diselamatkan (Roma 5:12-21) dan setiap orang yang diampuni dosanya, berbahagia (Mzm.32).

Pemahaman Teks
Mazmur 32:1-11 menggambarkan sukacita Daud yang lahir bukan karena harta benda yang berlimpah atau karena kemenangan di medan perang, tetapi sukacita karena kesalahannya diampuni (ay.1-2). Selama ini ada beban yang tidak dapat dilepaskan, serta kesesakan dalam hati yang telah menjadi pengalaman yang sangat buruk baginya.  Ia tidak dapat mencari kelepasan, kelegaan ataupun berlari untuk menghindarinya (ay.3-4). Penyebab penderitaannya ialah karena dosanya sendiri. Satu-satunya jalan kelepasan ialah melalui cara Allah. Pengakuan “Dosaku keberitahukan kepada-Mu…, aku akan mengaku kepada Tuhan” (ay.5), merupakan pintu mendapatkan kelepasan dari kungkungan dosa.  Manusia tidak dapat menyembunyikan dosanya atau memanipulasi pelanggarannya. Hanya dengan mengaku dan menghampiri takhta kekudusan-Nya, manusia akan diterima oleh Allah (ay.2, 6). Allah adalah tempat manusia mencari kelegaan, pengampunan, kelepasan dari beban hidup, perasaan bersalah, perasaaan dihakimi dan sebagainya (ay.7). Allah adalah pengasih. Ia menuntun umat-Nya pada jalan-Nya, jalan penuh damai dan keselamatan.

Kejadian 2:15-17;3:1-7 memuat bahan yang sering jadi topik diskusi menarik. Dalam sebuah kesempatan di ruang kuliah, muncul pertanyaan “Mengapa harus ada larangan untuk makan buah pohon pengetahuan? Bukankah lebih baik jika manusia di Taman Eden diberikan kebebasan tanpa batas?” Tentang hal ini sesungguhnya cukup jelas, betapa larangan yang diberikan tentunya dimaksudkan agar manusia tetap berada dalam tuntunan dan rencana Tuhan sepenuhnya. Manusia diciptakan tidak sebagai robot. Tuhan menganugerahkan kebebasan bagi mereka, namun kebebasan tersebut adalah kebebasan yang memiliki batasan / larangan, yakni batasan yang membuat mereka tetap hidup rencana Tuhan.

Dalam cerita selanjutnya, ketetapan yang Allah berikan akhirnya dilanggar oleh manusia. Penyebabnya ialah kecerdikan ular yang memutarbalikkan segala perintah Allah (ay.1-3). Manusia lebih tertarik terhadap perkataan iblis yang disertai dengan bujukan, “kamu tidak akan mati melainkan akan sama seperti Allah”. Tipuan iblis ini jelas tampak lebih menarik dibandingkan dengan larangan dan hukuman yang dikemukakan oleh Allah (ay.4-5). Tak heran jika manusia lebih memilih mendengar perkataan iblis walaupun di baliknya ada kedahsyatan hukuman Allah yang tidak terhindarkan. Ajakan iblis lebih menyenangkan, kelihatan lebih menguntungkan, lebih baik dan pasti. Maka manusia pun mengikutinya. Sang perempuan mengambil dan memakannya, bahkan memberikannya juga kepada suaminya (ay.6). Akibatnya bisa ditebak, mata mereka terbuka dan sadar bahwa mereka telanjang. Mereka telah melanggar dan berdosa, bahkan kemudian diusir keluar dari taman Eden (ay.7).

Roma 5:12-21 sepertinya memberi kesan terjadi ketidakadilan. Jika hanya ada satu orang, yakni Adam yang berdosa, mengapa semua orang harus menjadi berdosa? Firman Allah jelas, bahwa dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang. Maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Karena dosa itulah, maka maut berkuasa atas semua manusia yang dinyatakan dalam Hukum Taurat sejak dari jaman Musa (ay.13,14). Namun demikian, kasih karunia Allah yang dilimpahkan dalam Yesus Kristus adalah jauh lebih besar, sehingga melalui Dia semua yang percaya diselamatkan (ay.15). Logikanya sudah jelas. Karena dosa Adam semua manusia berdosa dan menerima penghukuman. Akan tetapi lebih besar lagi kasih karunia dan kemurahan Allah dalam Yesus Kristus, yang membuat semua orang percaya dibebaskan dari hukuman (ay. 17). Dia telah membenarkan manusia. Oleh ketaatan-Nya, semua orang menjadi benar (ay.18,19). Dalam Hukum Taurat orang mengenal dosa, tetapi di dalam Yesus Kristus manusia mengenal pembenaran untuk hidup yang kekal dalam Tuhan (ay. 20-21).

Matius 4:1-11 menjadi gambaran bagi manusia bahwa pekerjaan iblis itu terus menerus dan konsisten untuk menjatuhkan dan menggoda. Perikop ini memperjelas, bahwa bukan hanya manusia yang digoda namun Yesus juga. Pencobaan di padang gurun ini sendiri pada dasarnya berawal dari satu “percobaan besar”, yakni apakah Yesus sungguh berkuasa? Yesus yang tidak makan empat puluh hari empat puluh malam, pastilah sangat lemah, lapar dan membutuhkan kekuatan. Apakah dalam keadaan ini Ia memang berkuasa? Apakah Ia dapat mengubah batu menjadi roti (ay.3)?  Apakah Allah sungguh berkuasa bisa menatang Yesus agar tidak terantuk ke batu (ay.6)? Hal yang terakhir, ialah apakah memang Ia berkuasa dan memiliki seluruh kemegahan dunia ini (ay.9)? Pada akhirnya, Yesus mengusir setan (ay.10,11). Hanya kepada Allah manusia berbakti dan hanya Allah saja yang berkuasa atas semua.   

Pokok-pokok pengembangan khotbah

a.   Manusia membutuhkan anugerah
Jika dilihat sepintas, syarat menikmati semua kenikmatan yang Allah sediakan di dalam Taman Eden, sangat sederhana. Manusia diberikan tanggung jawab untuk berkuasa dan mengelola, serta menaati satu aturan yang Allah berikan, “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya”.  Tidak ada yang berat dari aturan itu, sebab bukankah banyak buah yang lain?  Jelas terlihat, awalnya Adam dan Hawa menaati perintah itu. Namun kehadiran Iblis yang memberikan “harapan” baru dan dengan lihai memutarbalikkan perintah Allah dengan mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,...dan kamu akan menjadi seperti Allah,...”, telah membuat manusia berpaling dari Tuhan. Keinginan manusia untuk menjadi sama seperti Allah dan kelicikan ular memutarbalikkan perintah Allah adalah sumber semua kejatuhan itu.

Gambaran manusia pertama dalam Taman Eden adalah gambaran kehidupan manusia sepanjang jaman. Mari kita memperhatikan dengan baik, tidak ada kelas di sekolah yang mengajarkan mata pelajaran berbohong, tetapi anak-anak kita bisa berbohong. Tidak ada fakultas korupsi, tetapi banyak lulusan perguruan tinggi jadi koruptor. Tidak ada jurusan selingkuh, tetapi yang sudah nikah pun punya pria idaman lain dan wanita idaman lain. Inilah gambaran bahwa manusia memang tidak dapat melepaskan diri dari dosa dan pelanggaran kehendak Allah. Akibatnya, manusia semakin jauh dan menjauhkan diri dari Allah. Dalam keterpisahan dengan Allah, manusia pasti tidak tenteram, gelisah dan tertekan.  Keadaan manusia yang demikian digambarkan dalam PGT, “Dosa adalah putusnya hubungan manusia dengan Allah dan sebagai akibatnya manusia mati.”  Manusia tidak dapat mengusahakan sendiri kelepasan dan keselamatannya. Segenap perbuatan baik tidak akan membawa manusia kepada Allah. Manusia selamat hanya karena Allah yang datang mencari dan menyelamatkan manusia.

b.   Allah Memang Mahakasih
Pemahaman ini merupakan inti iman Kristen. Ada banyak alasan agama lain mengatakan bahwa “ada banyak jalan ke Roma” atau “semua tujuan agama adalah ke sorga”. Orang Kristen pun kadang dengan enteng mengatakan “semua agama sama, sebab semuanya mengajarkan tentang kebaikan”. Jika ada orang Kristen yang masih mengatakan hal yang demikian, maka ia sebenarnya belum memahami dan mengimani siapa Allah dalam iman Kristen. Vonis yang dijatuhkan pada seseorang jelas tidak bisa dihapus dengan uang ataupun dengan berbuat baik. Seseorang hanya bisa bebas melalui pengampunan, atau jika ia memang sudah selesai menjalani seluruh proses penghukuman tersebut. Jelas menurut Roma 5:12, betapa semua orang berdosa dan upah dosa ialah maut. Manusia tidak bisa menghapus dosa dengan perbuatan baik atau amal. Sebaliknya manusia bisa dipulihkan hanya karena pengampunan yang Allah berikan melalui pengorbanan Kristus yang bersedia menanggung hukuman yang seharusnya ditimpakan bagi umat manusia.

Allah adalah Maha Kasih. Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh pelanggaran satu orang saja, tetapi kasih karunia Allah telah dinyatakan oleh satu orang yaitu Yesus Kristus sehingga semua orang telah mendapatkan pembenaran itu (Rm. 5:17).  Manusia yang berdosa telah divonis harus menghadapi maut, ternyata kasih karunia Allah. Yesus Kristus telah menanggung semua beban dosa dan maut tersebut. Atas dasar itulah Gereja Toraja dalam Mukadimah PGT mengemukakan dengan tegas, “Yesus Kristus itulah Tuhan dan Juruselamat”.

c.   Mempertanggung-jawabkan Anugerah Allah
Seorang Majelis Gereja yang menolak diteguhkan saat terpilih menjadi Majelis Gereja di suatu Jemaat Gereja Toraja bercerita,  “Saat saya menolak untuk diteguhkan, teman-teman MG yang lain memberikan nasihat agar tidak menolak panggilan Tuhan. Mereka menceritakan kisah seorang bapak dan anaknya yang terpilih menjadi anggota Majelis Gereja, namun kemudian menolak. Tidak lama kemudian, sang anak meninggal dan sang  ayah menderita stroke yang mengakibatkan kelumpuhan. Sangat menderita. Terhadap kisah itu, saya menjawab teman-teman Majelis Gereja, bahwa Allah kita itu bukan Allah yang kejam, suka menghukum dan suka menyiksa”. Mendengar ceritanya, saya terkesima. Pengakuan dan pengenalannya tentang Allah yang maha kasih, sungguh luar biasa.

Bagaimana pandangan kita tentang Allah yang maha kasih ini? Ada banyak orang yang memakai pandangan “Allah maha baik, tidak kejam dan penuh kasih bagi manusia”, sebagai kesempatan berbuat dosa. Bayangkan saja jika seorang koruptor mengatakan Allah maha baik, jadi tidak apa-apa saya korupsi. Atau seseorang yang terus saja mencuri karena alasan Tuhan Maha kasih. Paulus menentang keras pandangan ini. Kasih karunia Allah bukanlah kesempatan untuk berbuat dosa. Seorang ibu pasti mengasihi anak-anaknya. Namun, bayangkan jika anaknya kemudian tidak mau ke sekolah, atau menggunakan uang untuk membayar uang sekolah untuk traktir temannya dan main game ke mall. Apakah ibunya akan senang? Pasti tidak.

Demikianlah Allah kita. Ia memang maha kasih dan bukan Allah yang kejam. Ia mengasihi setiap anak-anak-Nya. Anugerah-Nya adalah kesempatan bagi kita untuk menjawab kasih-Nya yang tidak terbatas itu,  kesempatan bagi kita untuk melakukan perbuatan baik, mengasihi sesama, menerima panggilan Allah tanpa syarat, melayani dan mengambil bagian dalam kerajaan-Nya. Itulah cara kita menyambut kasih Allah yang benar.

d.   Kepastian Keselamatan dari Allah
Setiap orang membutuhkan kepastian, baik kepastian untung dalam sebuah usaha, kepastian bagi orang tua dalam mendidik anak-anak, kepastian petani menanti hasil panennya atau kepastian bagi seorang istri yang mengharapkan keselamatan suaminya yang pergi bekerja.  Setiap penumpang pesawat juga ingin memastikan ada kepastian keselamatan dalam penerbangan. Untuk itu manusia membuat “alat keselamatan”, pelampung di kapal laut dan pesawat, masker oksigen di pesawat, airbag di mobil, helm bagi pengendara motor dan sebagainya. Apakah semuanya menolong? Jelas ya, sebab sudah banyak nyawa terselamatkan dan terhindar dari maut karena “alat keselamatan” itu. Inilah gambaran bahwa manusia membutuhkan alat keselamatan untuk kepastian keselamatan. Namun pernahkah kita renungkan bahwa “alat keselamatan itu” dibuat bukan oleh penumpang tetapi oleh produsen alat keselamatan?

Setiap orang percaya tentu juga membutuhkan alat untuk “keselamatannya”. Alat ini tidak dibuat oleh manusia yang paling hebat sekalipun, tetapi dibuat oleh Allah sendiri buat bagi setiap yang percaya. Mengapa harus Allah? Karena setiap orang sementara dalam perjalanan menuju kehidupan kekal dan hanya Allah yang berotoritas akan hal itu.  Manusia tidak mampu menggapai kehidupan kekal dengan usahanya. Untuk itu, hanya oleh anugerah Allah dalam Yesus Kristus sajalah, kita dapat sampai pada kehidupan kekal. Anugerah Allah ini bukan hanya “alat keselamatan” saja tetapi sekaligus memastikan keselamatan bagi setiap orang yang percaya. 


Diposting tanggal 26 Feb 2020

Daftar Artikel

Bahan Penelaahan Alkitab, 4-9 September 2017. Perikop ini merupakan penggalan dari salah satu pengak.....

Selengkapnya ..

Bahan Khotbah Minggu ke-36, 3 September 2017. Yesus berhasil memenangkan sepertiga dunia hanya denga.....

Selengkapnya ..

Bahan Penelaahan Alkitab, 28 Agustus - 2 September 2017. Sesuatu yang pasti biasanya akan selalu mem.....

Selengkapnya ..

Bahan Khotbah Minggu ke-35, 27 Agustus 2017. Sebagaimana yang difirmankan Allah bahwa keselamatan ya.....

Selengkapnya ..

Bahan Penelaahan Alkitab, 21-26 Agustus 2017. Melihat orang yang kita kasihi mengalami sesuatu yang .....

Selengkapnya ..

Ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan dari negeri Babel, hal pertama yang ditekankan oleh All.....

Selengkapnya ..

Bahan Khotbah 17 Agustus 2017 (HUT Kemerdekaan RI ke- 72). HUT kemerdekaan ini mengharuskan kita unt.....

Selengkapnya ..

Bahan Penelaahan Alkitab, 14-19 Agustus 2016. Dalam pasal 9-11, Paulus mau menjelaskan mengapa Israe.....

Selengkapnya ..

Bahan Khotbah Minggu ke-33, 13 Agustus 2017. Dalam perikop kita, Elia dikuatkan untuk kembali giat d.....

Selengkapnya ..

Bahan Penelaahan Alkitab, 7-12 Agustus 2017. Ada tiga alasan sederhana dan wajar mengapa Yesus ingin.....

Selengkapnya ..

Bahan Khotbah Minggu ke-32, 6 Agustus 2017. Yesaya tahu bahwa Allah memakai kekuatan orang Asyur unt.....

Selengkapnya ..

Bahan Khotbah Minggu ke-18, 30 April 2017. Dalam Mazmur 116:1-19, Pemazmur bertekad memenuhi janjiny.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...