GIAT DALAM RENCANA ALLAH BAGI SEMUA (Parruk Umpana’ta’ Tanan Penaan-Na Puang Matua Lako Mintu’na)
Bahan Khotbah Minggu ke-33, 13 Agustus 2017
GIAT DALAM RENCANA ALLAH BAGI SEMUA
(Parruk Umpana’ta’ Tanan Penaan-Na Puang Matua Lako Mintu’na)
| Mazmur | Mazmur 85:9-14 |
| Bacaan 1 | 1 Raja-raja 19:9-18 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | Roma 10:5-15 |
| Bacaan 3 | Matius 14:22-33 |
| Nas Persembahan | I Tawarikh 29:17 |
| PHB | I Korintus 15:58 |
Tujuan
1. Agar jemaat dikuatkan untuk tetap giat bagi Tuhan walaupun berhadapan dengan kendala besar.
Pemahaman Teks
Kisah tentang Elia dan Elisa mencakup 1 Raj. 17 sampai 2 Raj. 13. Di bawa raja Ahaz, Israel (kerajaan utara) sungguh murtad dari Tuhan dan menyembah Baal. Kedua nabi ini dipanggil untuk membawa Israel kembali ke jalan Tuhan, dan pada akhir kehidupan Elisa, sudah ada raja Yehu yang giat bagi Tuhan. Dalam 1 Raj. 17-18, Elia menjadi sarana untuk Tuhan untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah dan bukan Baal. Hal itu terjadi dengan kemarau panjang, dan pertarungan dengan nabi-nabi Baal di gunung Karmel. Setelah umat Israel menonton pertarungan itu, mereka memilih Allah dan hujan turun kembali.
Hal itu kemenangan besar bagi Elia sebagai nabi Tuhan. Namun, setelah nyawanya terancam, ternyata dia melarikan diri (19:1-4). Dalam kecemasan yang tinggi atas kerapuhannya, ada malaikat yang menjamah dia, dan dia berjalan empat puluh hari ke gunung Horeb (juga dikenal sebagai gunung Sinai). Hal itu mengingatkan kita akan perjalanan Israel selama empat puluh tahun dari Sinai ke tanah perjanjian, hanya arahnya terbalik.
Dalam perikop kita, Elia dikuatkan untuk kembali giat dalam rencana Tuhan. Dua kali pertanyaan Tuhan kepada Elia, dengan jawaban yang persis sama. Elia menceritakan keadaan Israel yang parah, yang bukan hanya meninggalkan perjanjian dengan Tuhan tetapi juga menindas orang yang setia kepada Tuhan. Dia mengaku giat bagi Tuhan, tetapi mengeluh bahwa tinggal dia yang masih setia kepada Tuhan, dan nyawanya pun terancam. Kali pertama, Tuhan menyuruh Elia keluar dari guanya untuk berhadapan dengan Tuhan. Sebelum Elia keluar, Tuhan menampakkan kuasa-Nya, dengan angin kuat, gempa, dan api (19:11-12). Kita teringat dengan penampakkan Tuhan kepada Israel ketika mereka baru berkumpul di gunung Sinai (Keluaran 19:16-19). Dengan penampakan ini, Tuhan mengingatkan Elia akan kuasa-Nya yang tidak bergantung pada penerimaan manusia akan Dia. Namun, dalam penampakan kuasa itu, Tuhan tidak ada; Elia belum berjumpa dengan Tuhan sendiri, hanya dengan kuasa-Nya. Baru setelah ada bunyi yang hampir tidak kedengaran, Elia sadar bahwa Tuhan sudah hadir dan keluar untuk menjumpai-Nya (19:13). Kali kedua ini, dia siap mendengar.
Tuhan tidak lagi menanggapi kecemasan Elia, tetapi menugaskannya (19:15-18). Tuhan telah menetapkan caranya untuk menghukum para penyembah Baal, melalui seorang raja Aram (Hazael) dan seorang raja Israel (Yehu). Kedua orang ini belum naik takhta, tetapi justru Elia yang diutus untuk mengurapi mereka menjadi raja. Ternyata penerusnya, Elisa, yang melakukannya. Dalam 2 Raj. 8-9, ada intervensi dari Elisa sehingga kedua orang yang ditetapkan Tuhan naik takhta dan menunaikan tugas Allah. Firman Allah berkuasa atas dunia politik untuk memenuhi rencana-Nya, lebih dari angin besar, gempa, dan api.
Pokok-pokok untuk dikembangkan
1. Allah memiliki rencana yang mulia bagi ciptaan-Nya. Mazmur 85 memberi suatu gambaran tentang suatu dunia yang di dalamnya kasih dan keadilan tidak lagi berlawanan, dan dalam Rm.10:5-15 kita membaca cara Allah di dalam Kristus supaya kita bisa ikut di dalam dunia baru itu. Pada masa Elia, rencana itu kelihatan terancam oleh kemurtadan besar-besaran dalam umat Allah sendiri. Elia giat untuk Tuhan, dan telah dipakai untuk membuktikan kuasa Allah di gunung Karmel, tetapi raja Ahab dan ratu Izebel makin mau membunuh dia. Elia ketakutan, dan melarikan diri (ay.9-10). Dalam dunia sekarang, giat bagi rencana Allah bagi semua orang akan mendapat perlawanan juga, dan bisa saja kecemasan seperti yang terjadi pada Elia terjadi bagi orang percaya yang setia.
2. Bagaimana orang percaya bisa keluar dari kecemasan itu? Seringkali kita mengatakan bahwa, seandainya kita melihat mujizat, kita akan percaya dengan kuat. Elia diingatkan tentang kuasa Tuhan, seperti juga yang pernah dilihat Israel di gunung Horeb/Sinai (ay.11-12). Tetapi hal-hal itu hanya "mendahului" Tuhan. Baru dalam suara yang sangat pelan, Elia mengenali hadirat Tuhan. Tuhan menyapa dia, dan dia mengulang keluhannya kepada Tuhan (ay.13-14). Kita pun perlu mengingat kuasa Tuhan, tetapi iman kita akan pulih ketika kita mendengarkan suara Tuhan dan mencurahkan keluhan kita kepada-Nya.
3. Elia dipulihkan supaya dia bisa giat kembali dalam rencana Allah (ay.15-16). Dunia ini belum menjadi baik; penugasan Elia ini menyangkut hukuman Allah terhadap bangsa-Nya sendiri yang murtad (ay.17). Namun, di luar dugaan Elia, Tuhan memelihara sekelompok orang yang setia sehingga pelayanan Elia tidaklah sia-sia (ay.18). Peran kita dalam rencana Allah bagi semua tidak sama dengan Elia, tetapi muncul dalam Rm.10:5-15. Namun, kita bisa yakin bahwa Tuhan semesta alam yang berkuasa, juga akan menyapa kita dan menguatkan kita kembali untuk melakukan tanggungjawab kita masing-masing.
Diposting tanggal 09 Aug 2017
