Bahan Penelaahan Alkitab, 4-9 September 2017. KASIH YANG MEMIKUL SALIB (Umpassan Kayu Pea’ta’ Lan Pa’kaboro’) Yeremia 15:15-21
Bahan Penelaahan Alkitab, 4-9 September 2017
KASIH YANG MEMIKUL SALIB
(Umpassan Kayu Pea’ta’ Lan Pa’kaboro’)
Yeremia 15:15-21
Lihat tujuan minggu 3 september 2016
Pembimbing Teks
Perikop ini merupakan penggalan dari salah satu pengakuan Yeremia dari lima pengakuan pergumulannya di hadapan Allah (Yer. 12:1-6; 15:10-21; 17:14-18; 18:18-23; 20:7-18). Ayat 15-18 menjelaskan pergumulan psikologis yang dialami oleh Nabi Yeremia. Di dalam pelayanannya, Nabi Yeremia menyampaikan apa yang benar yang dikatakan oleh Allah kepadanya, senantiasa melakukan hal yang baik dan ia rela mengorbankan masa muda dan pergaulannya hanya untuk melayani Allah. Namun pada kenyataannya yang terjadi malah masalah, aniaya dan ancaman-ancaman yang dihadapinya, padahal tidak ada hal jahat yang dilakukannya. Dalam ayat-ayat ini, hampir dengan putus asa Yeremia berbantah dengan Allah untuk membalaskan dendam kepada para penganiayanya. Mengingatkan Allah bagaimana Yeremia, menjadi pengantara musuh-musuhnya (ay.11,15), bagaimana ia senang dengan firman Allah (ay.16), dan bagaimana ia menyebabkan menderita kesepian yang tak tertahankan (ay.17).
Dalam ketertekanannya sebagai pihak yang lemah, Yeremia menuduh Tuhan seperti sungai yang curang dan tidak dapat dipercayai (Yer.15:18). “Sungai yang curang” lebih baik diterjemahkan dengan “sungai yang menipu”. Ungkapan ini merupakan luapan Yeremia yang paling hebat menentang Allah. Yeremia memprotes bahwa ia telah ditipu, dibujuk oleh Allah ke dalam suatu tugas yang sangat mendasar tapi berbagai akibatnya disembunyikan bagi dia selama ini. Seperti ketika musim kering, orang yang dalam perjalanan menemukan bahwa sungai yang darinya ia berharap dapat minum ternyata sudah kering, demikianlah Yeremia menuduh Allah sebagai yang tidak dapat dipercayai (bnd. Ayb. 6:15-20).
Meskipun ada nuansa penipuan dalam ayat ini, namun Yeremia bukanlah menghina dan menghujat Tuhan. Bagi Yeremia, janji tinggal janji. Kenyataan yang dialami Yeremia bertolak belakang dengan janji Tuhan seperti ketika ia dipanggil menjadi nabi (Yer.1:4-18). Pelayanannya sebagai seorang nabi dalam memberitakan kebenaran firman Tuhan ternyata tidak mendatangkan apa-apa baginya, kecuali menjadikan dirinya sebagai korban kejahatan, tertawaan dan olok-olokan. Apa yang dikeluhkan Yeremia ialah bahwa aksinya (melakukan kebaikan) tidak sama dengan reaksi (bukan kebaikan yang diterima tetapi kejahatan dan kebencian sedemikian rupa). Yeremia berkeluh sebab ia merasa apa yang dialaminya tidak sepatutnya. Ia sendiri menanggung kebencian orang-orang yang dikasihinya, yakni orang-orang yang menikmati kebaikan justru yang diberitakan Yeremia.
Ayat 19-21 merupakan jawaban Allah atas pergumulan dan bahkan tuduhan Nabi Yeremia. Di dalam ayat-ayat ini, Allah memberikan bukti kepada Nabi Yeremia kalau Diri-Nya tidak tinggal diam. Allah senantiasa peduli dan menjawab setiap seruan Nabi Yeremia untuk memberikan kekuatan kepadanya di dalam menghadapi setiap pergumulan. Tidak hanya sekali Allah memberikan jawaban, melainkan berkali-kali Allah menjawab seruan Nabi Yeremia. Allah menjawab setiap pergumulan yang diutarakan oleh Nabi Yeremia, menguatkan dan bahkan memulihkan keadaan Nabi Yeremia. Tetapi Yeremia sendiri perlu bertobat (kembali kepada Allah) dan memperhatikan benar jawabannya sendiri kepada Allah (ay.19a). Jika ia melakukan itu, ia akan tetap menjadi “penyambung lidah” dari Allah dan Allah akan bersamanya melawan para penganiaya (ay.19b-21). Tuhan menegur Yeremia, sebab jelas Tuhan tidak pernah membiarkan semua itu menjadi sia-sia walau memang Tuhan tidak pernah menjanjikan hal itu akan mudah dijalani. Tuhan mengingatkan bahwa penyertaan-Nya adalah nyata sehingga Yeremia pasti mampu mengemban tugas panggilannya. Nabi Yeremia memberikan inspirasi kepada setiap pengikut Yesus bahwa selama ia hidup di dunia, pasti akan mengalami pergumulan, dan jangan pernah beranggapan bahwa ketika menjadi pengikut Kristus tidak ada pergumulan. Seperti halnya Yeremia, sekalipun ia seorang Nabi, ia juga menghadapi pergumulan di dunia ini. Yang harus diyakini ialah bahwa Allah akan melepaskan umat-Nya dari setiap pergumulan yang dihadapi asalkan umat-Nya setia dan percaya kepada-Nya. Nabi Yeremia juga memberikan inspirasi kepada pengikut Yesus agar tetap teguh di dalam tugas panggilan sebagai seorang Kristen, untuk senantiasa menjadi teladan dalam membahasakan kasih, menegor apabila ada sesuatu yang tidak baik tentu dengan teguran yang beretika, yaitu disampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak menghakimi. Inspirasi nabi Yeremia menjadi satu alasan mengapa pengikut Yesus menjadi berbeda dengan dunia, mengapa pengikut Yesus memilih memikul salib dari pada tenggelam dalam kesenangan dunia, mengapa pengikut Yesus rela kehilangan segala-galanya bahkan nyawa sekalipun.
Pertanyaan diskusi:
1. Dalam kehidupan yang penuh dengan berbagai pergumulan, bagaimana kita sebagai pengikut Kristus membantu orang lain agar setia di dalam memikul salibnya?
(Lan te katuoan tu naponnoi ma’rupa-rupa a’gan, umba latakua tu kita tomenturu’ lako Puang Yesu untundui tomai to senga’ anna makaritutu umpassan kayu pea’ta’)
2. Menurut Anda, apa yang membuat orang Kristen pada masa kini sangat sulit memberlakukan kasih?
(Apara naposaba’ anna lan attutotemo butung masussamo to to sarani umpapayan pa’kaboro’)
Diposting tanggal 30 Aug 2017
