Bahan Khotbah Minggu ke-36, 3 September 2017. KASIH YANG MEMIKUL SALIB (Umpassan Kayu Pea'ta' Lan Pa'kaboro')
Bahan Khotbah Minggu ke-36, 3 September 2017
KASIH YANG MEMIKUL SALIB
(Umpassan Kayu Pea’ta’ Lan Pa’kaboro’)
| Mazmur | : Mazmur 26:1-8 |
| Bacaan 1 | : Yeremia 15:15-21 |
| Bacaan 2 | : Roma 12:9-21 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Matius 16:21-28 |
| Nas Persembahan | : Imamat 27:30 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yesaya 54:10 |
Tujuan:
1. Jemaat terhindar dari sikap yang selalu membenarkan diri dan menghakimi sesama
2. Jemaat semakin membenci kejahatan dan semakin mencintai kebaikan
3. Jemaat memahami dan memberlakukan kasih yang benar dan sejati
Pendahuluan
Napoleon Bonaparte (Panglima perang Perancis) sangat dikenal dengan ambisinya yang besar untuk menaklukkan dunia. Ia memiliki angkatan perang terlatih, persenjataan lengkap, dan kapal-kapal perang yang besar jumlahnya untuk memenangkan seluruh bagian dunia. Namun dengan segala kepunyaannya itu, ternyata ia hanya mampu menaklukkan sepersepuluh dunia saja. Menjelang akhir hayatnya, ia bertemu dengan seorang pendeta. Ia berkata kepada pendeta itu, “Bapak Pendeta, seumur hidup, saya berusaha menaklukkan dunia dengan angkatan perang terlatih, kapal perang dan anggaran yang tidak sedikit, tetapi hanya sebagian kecil saja yang dapat saya jangkau. Yesus berhasil memenangkan sepertiga dunia hanya dengan tiga setengah tahun. Apa sih rahasianya?” Sang Pendeta menjawab, “Kamu memenangkan dunia dengan pedang, perang, dan kekerasan. Tetapi Tuhan Yesus memenangkan dunia dengan kasih”.
Pemahaman Teks
Apakah kasih itu? Roma 12:9-21 adalah salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut. Kata “kasih” yang digunakan dalam perikop ini merupakan terjemahan dari kata agape (ay.9), yang berarti kasih yang tidak bersyarat, dan jenis kasih ini adalah kasih yang tertinggi yang hanya pantas diperuntukkan untuk kasih Allah bagi manusia. Kasih agape tersebut keluar dari hati Allah yang terdalam dan termurni. Allah mengasihi manusia dengan kasih agape, dan kasih ini telah ditunjukkan-Nya dengan sempurna melalui karya penebusan Kristus di kayu salib. Orang Kristen di jemaat Roma yang telah dikasihi dan ditebus Allah seharusnya merespons kasih Allah tersebut dengan mengasihi Allah dan sesama dengan kasih yang tak bersyarat atau kasih yang murni.
Panggilan bagi jemaat Roma untuk hidup dalam kasih Allah sangatlah penting mengingat kondisi jemaat Roma pada waktu itu tidaklah baik. Kondisi ini disebabkan oleh munculnya masalah dari dalam tubuh jemaat Roma sendiri, yakni konflik antara orang Kristen berlatar belakang Yahudi dengan orang Kristen non-Yahudi, dan ditambah lagi adanya penganiayaan dari pemerintahan Romawi. Awal mula konflik bermula ketika orang Kristen berlatar belakang Yahudi yang dahulunya merupakan mayoritas orang Kristen di Roma diusir oleh Kaisar Claudius pada tahun 49, dan setelah Claudius meninggal, orang Yahudi Kristen kembali lagi ke Roma. Mereka kaget ketika mendapati bahwa gereja Roma telah didominasi oleh orang Kristen non-Yahudi. Hal inilah yang mengakibatkan timbulnya ketegangan sosial di antara mereka. Yahudi Kristen dan Kristen non-Yahudi saling mengejek, dan menganggap dirinya paling benar.
Masalah yang muncul dari luar ialah bahwa orang Kristen tidak lepas dari penganiayaan orang Yahudi, Yunani, maupun Romawi. Orang Kristen dianggap batu sandungan oleh orang Yahudi, orang bodoh oleh orang Yunani, dan pemberontak oleh orang Romawi. Semua penganiayaan orang Kristen disebabkan karena mereka menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Tentunya keadaan ini merupakan sebuah pergumulan bagi jemaat Roma untuk mengasihi orang yang telah berbuat jahat kepada mereka. Walaupun tidak mudah, namun itulah kasih yang seharusnya ditunjukkan orang percaya kepada sesama dan dunia.
Apa pesan Paulus tentang sifat-sifat kasih itu? Roma 12:9-21 menyatakan dengan jelas sifat-sifat kasih itu, antara lain sebagai berikut:
1. Kasih tidak pura-pura (ay.9).
Kata “pura-pura” (munafik) adalah istilah drama untuk “berbicara di balik sebuah topeng”. Dengan kata lain, si pemain drama yang bermain dalam sebuah drama berbicara dengan menggunakan topeng. Jadi melalui ayat ini, Paulus hendak mengajar jemaat Roma bahwa kasih agape bukanlah kasih yang bertopeng. Berbicara mengenai topeng, seseorang sebenarnya berbicara mengenai kepalsuan. Kasih tidak boleh bersandiwara atau palsu (bnd. 2 Kor. 6:6). Kasih adalah sifat khas orang percaya (bnd. Yoh. 13:34-35; 15:12,17; 1 Yoh. 3:11,18; 4:7-21) karena ini adalah sifat Allah.
2. Kasih menjauhi yang jahat (ay.9).
Kata “Jauihilah” mengandung makna “sangat membenci” (bnd. Alkitab Terjemahan Lama, Bahasa Indonesia Sehari-hari dan Sura’ Madatu). Kasih yang murni adalah kasih yang sangat membenci kejahatan. Artinya, Pertama, kasih bukan hanya menjauhi kejahatan (bukan hanya mengenai jauh atau dekat), tetapi benar-benar membenci dan jijik terhadap kejahatan. Kasih yang membenci kejahatan artinya kasih yang tidak mau melihat kejahatan sedikitpun.
3. Kasih melakukan yang baik (ay.9).
Ungkapan “lakukanlah yang baik” berarti “berpegang erat pada yang baik” atau “berpegang pada yang baik” atau “melekat pada yang baik”. Kasih yang murni bukan hanya membenci dan jijik terhadap kejahatan, tetapi juga melekat pada yang baik. Kedua bagian ini, yaitu membenci yang jahat dan melekat pada yang baik saling berkaitan. Kasih yang murni adalah kasih yang membenci yang jahat dan sekaligus setelah itu langsung melekat pada yang baik. Kata “baik” di sini bukan hanya baik secara standar moral saja, tetapi juga dikaitkan dengan kehendak Allah, berkenan kepada Allah (menyenangkan Allah), dan sempurna. Dengan kata lain, melekat pada yang baik berarti bergabung dengan yang baik, berguna, berkenan kepada Allah, menyenangkan-Nya, dan sempurna. Setelah bergabung, tentu orang Kristen di Roma dituntut untuk menjalankannya. Jadi makna bergabung, bukan hanya sekadar bergabung seperti bergabung di dalam sebuah anggota kelompok, tetapi juga berpartisipasi di dalamnya.
4.Saling mengasihi (ay.10).
Ungkapan “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara” berhubungan dengan kasih yang terdapat dalam keluarga, yaitu kasih persaudaraan dan kasih kekeluargaan. Jemaat Roma adalah sebuah keluarga. Sebagai satu keluarga, jemaat Roma diperintahkan untuk saling mengasihi (bnd. 1 Tes.4:9). Kasih di dalam keluarga merupakan contoh kasih yang tulus, yaitu kasih orang tua kepada anak-anaknya. Kasih yang keluar dengan sendirinya, tanpa dipaksa, dan tanpa mengharapkan imbalan. Orang tua mengasihi anaknya, dan pastilah orang tua tahu bahwa anaknya tidak mampu untuk membayar pengorbanan yang sudah mereka berikan.
5.Saling mendahului dalam memberi hormat (ay.10).
Ungkapan “saling mendahului dalam memberi hormat” berarti orang percaya harus memperlakukan sesama mereka lebih penting dari diri sendiri (bnd. Ef. 4:2; Flp. 2:3).
6. Jangan kendor dalam hal kerajinan (ay.11).
Ungkapan “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor” menunjukkan bahwa kasih sejati menghasilkan tenaga yang besar (bnd. Gal.6:9). Orang Kristen di Roma yang melakukan kehendak Allah tidak akan menjadi malas.
7. Bersabar dalam kesesakan (ay.12).
Kata “sabarlah” berarti “ketahanan yang aktif, sukarela, dan tetap.” Bersabar dalam kesesakan berarti ketika sedang dalam masalah, kesulitan, tantangan atau beban hidup, orang Kristen di Roma tidak lagi bersungut-sungut atau mengeluh. Bersabar juga berarti mau menunggu waktu Tuhan dinyatakan sehingga orang Kristen di Roma tidak akan pernah mengambil jalan pintas dan menuruti kemauannya sendiri tanpa harus mempersoalkan apakah masa penantian itu cepat atau lambat. Orang yang sabar menantikan waktu Tuhan dalam hatinya selalu ada ucapan syukur; ia mengucap syukur bukan untuk penderitaan atau kesesakan yang menimpanya, tetapi untuk penyertaan dan kasih setia Tuhan yang senantiasa dinyatakan dalam hidupnya. Ketika Tuhan menyertai hidupnya di sepanjang hari, segala perkara dapat ia atasi dan lalui, karena "...Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan..." (Rm. 8:28).
8. Membantu dalam kekurangan orang-orang kudus (ay.13).
Ungkapan “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus” bisa berarti “bersekutu dengan”. Kata ini memiliki arti yang luas bagi Paulus, yaitu mencakup baik persekutuan dalam Injil maupun kebutuhan jasmani (bnd. Gal.6:6). Ini bahkan digunakan dalam hal berbagi penderitaan Kristus (bnd. Flp. 3:8-10; 1 Ptr. 4:13) dan penderitaan Paulus (bnd.Flp.4:14). Dipersatukan dengan Kristus berarti dipersatukan dengan umat-Nya di setiap tingkatan. Karunia Anugerah Allah melalui Kristus telah memulihkan persekutuan umat manusia dengan-Nya dan sesama saudara. Ini menegaskan hubungan horizontal (manusia dengan manusia) yang disebabkan oleh hubungan vertikal (manusia dengan Sang Khalik). Ini juga menekankan keperluan akan sukacita dari masyarakat Kristen. Kata kerjanya menekankan dimulainya dan kelanjutan dari pengalaman masyarakat ini (bnd.Rm.1:3 dan 12:6,7). Kekristenan adalah kebersamaan.
9. Memberkati dan bukan mengutuk (ay.14).
Ungkapan “berkatilah siapa yang menganiaya kamu” berarti orang-orang percaya harus berusaha setidaknya menyamai pelayanan Yesus yang mengasihi kehidupan dengan mati bagi nafsu-nafsu manusia yang berpusat pada diri sendiri (bnd. 2 Kor. 5:14-15; Gal. 2:20; 1 Yoh. 3:16).
10. Bersukacita dengan orang yang bersukacita (ay.15).
Ungkapan “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” menunjukkan bahwa orang Kristen adalah sebuah keluarga. Orang-orang percaya tidak berada dalam persaingan, namun harus memperlakukan satu sama lain dalam kasih kekeluargaan.
11. Sehati sepikir (ay.16).
Ungkapan “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama” bisa dilihat dalam hubungan dengan konflik antara: Pertama orang percaya Yahudi dan orang percaya Bukan Yahudi dalam gereja Roma (bnd. 11:13-24); Kedua konflik sejak dulu kala antar kelas ekonomi; dan Ketiga perbedaan karunia-karunia rohani.
12. Jangan menganggap diri pandai (ay.16).
Ungkapan “Janganlah menganggap dirimu pandai” (bnd. Ams. 3:7; Yes.5:21; 1 Kor.10:12; Gal.6:3) berarti orang-orang percaya tidak boleh berlagak lebih dari orang lain atau bersikap angkuh terhadap masyarakat yang belum percaya. Bukankah padi yang semakin berisi semakin merunduk? Demikian jugalah manusia yang pandai (bnd. Yes.5:21, Ams.3:7; 26:12, 1 Kor.1:19-20, 25, Yak.1:5; 3:13-17).
13. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan (ay.17).
Ungkapan “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan” berarti terserah kepada Allah untuk meluruskan segala sesuatu, bukan orang percaya (bnd. Ams.20:22; 24:29; Mat.5:38-48; Luk.6:27; 1 Tes.5:15; 1 Ptr. 3:9). Orang yang dibarui, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan seperti yang biasa dilakukan di dunia ini, tetapi mereka selalu memikirkan belumnya apa yang dapat dilakukan bagi orang lain sebagai wujud kasih yang tidak pura-pura. Hidup dalam kasih seperti sudah diuraikan di atas adalah jalan untuk memenangkan dunia ini. Paulus mengajar dan mengajak orang Kristen di Roma untuk dapat mengasihi lebih dari yang biasa dilakukan orang banyak, sebab sekalipun telah disakiti sedemikian rupa, diharapkan orang percaya dapat tetap memberikan kasih yang mengalahkan segala bentuk kejahatan betapa pun beratnya dan sulitnya semua itu harus dialami.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan.
Ungkapan “memikul salib” (Mat.16:24) adalah istilah untuk hal menempuh jalan yang berat dan penuh penghinaan. Begitulah seorang pengikut Kristus harus rela menderita karena Kristus, dan rela untuk dipisahkan dari orang-orang yang lain. Jadi yang dimaksudkan Yesus ialah bahwa seorang Kristen, yang karena kasihnya kepada Kristus, bukan saja harus rela menderita dan dihina, melainkan juga harus rela mati demi Kristus. Inilah kasih yang memikul salib.
Kasih yang memikul salib sama dengan memberi diri. Memberi diri bukan berarti membiarkan diri diperlakukan dengan semena-mena oleh orang lain. Ketika Yesus ditampar oleh seorang penjaga, la memprotes, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” (Yoh.18:23). Memberi diri adalah menyediakan diri dengan setulus-tulusnya untuk membela atau menolong orang lain. Memberi diri adalah bersedia mengalahkan kepentingan sendiri demi kepentingan orang lain.
Memberi diri adalah hidup untuk orang lain tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun. Memberi diri adalah berkorban. Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Gaya hidup memberi diri betul-betul melawan arus yang lazim sebab kebanyakan orang justru berpola hidup mengarah pada kepentingan diri sendiri. Kebanyakan orang mengasihi atau memberi diri terbatas hanya kepada orang yang menyenangkan hati atau yang dianggap menguntungkan, terbatas kepada keluarga, kelompok, sepersekutuan dalam gereja. Terbatas kepada teman dan sahabat. Tetapi orang yang dianggap merugikan, dianggap saingan, dianggap musuh, yang berbuat jahat, baginya kasih tidak berlaku. Kasih hanya berlaku bagi yang mengasihi. Tetapi Yesus mengatakan, “… Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? … Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” (Mat. 5:46-47). Tak mengherankan bila pada umumnya orang akan menganggap gaya hidup memberi diri sebuah kebodohan. Paulus menulis, “… pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa … tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang … suatu kebodohan” (1 Kor. 1:18, 23).
Pelayanan kristiani mungkin juga merupakan kebodohan menurut kelaziman umum. Sebab dalam pelayanan, kita memberi, mulai dari memberi waktu, memberi uang, memberi bakat, sampai memberi diri; padahal kita tidak menerima apa-apa sebagai imbalan. Akan tetapi, justru itulah kekuatan-orang yang mendengar panggilan Allah untuk melayani. Kekuatannya terletak pada sikap mau dan bisa memberi diri.
Kasih yang murni adalah memberi diri, dan salib adalah lambangnya. Adalah ironis kalau orang memakai lambang salib, namun gaya hidupnya sama sekali tidak suka memberi diri. Jangankan memberi diri, mengalah sedikit pun tidak mau. Maunya selalu menang sendiri, memaksakan kehendak, masa bodoh terhadap perasaan dan kepentingan orang lain. Ironis bila orang memakai lambang salib, namun tidak jijik dengan kejahatan, suka mendendam, tidak mau merendah, mengalah, memaafkan, mengampuni, berkorban dan memberi diri.
Diposting tanggal 30 Aug 2017
