Bahan Penelaahan Alkitab, 21-26 Agustus 2017 ALLAH MERANGKUL ORANG LAIN JUGA (Nakarimmanni Duka Puang Matua tu Tosenga’) Matius 15:21-28
Tujuan: Lihat tujuan khotbah hari Minggu, 20 Agustus 2017
Pembimbing
Melihat orang yang kita kasihi mengalami sesuatu yang membuatnya menderita, tentunya membuat kita bersedih, sehingga tidak sedikit di antara kita yang berusaha menolong agar ia tidak lagi mengalami penderitaan, walau untuk itu, kita harus mengorbankan harta, waktu, bahkan tidak sedikit ada yang mengorbankan harga dirinya.
Seorang ibu dari Sidon (merupakan wilayah di luar Israel, sebuah wilayah tempat di Kanaan yang digambarkan sebagai tempat hidup orang-orang yang bukan umat Tuhan) mengalami pergumulan sebab anak perempuannya sedang sakit keras. Ketika ia mendengar bahwa Yesus datang, maka ia berupaya menjumpai Yesus lalu menyampaikan maksudnya namun justru mendapat perlakuan yang sangat menyakitkan. Pertama-tama Yesus menolak (ay.24) dan yang kedua ia disamakan dengan anjing untuk permohonan yang disampaikannya (ay.26). Sungguh ungkapan yang tidak manusiawi dimana perempuan dan anaknya disamakan dengan anjing. Tetapi sesungguhnya dalam kehidupan orang Yahudi ungkapan “anjing” adalah untuk merujuk kepada bangsa non-Yahudi atau yang seringkali pula dikatakan sebagai orang kafir. Kata anjing yang digunakan disini adalah kunarion yang berarti anjing kecil. Hal ini memaparkan maksud perkataan Yesus dengan mengunakan kata kurion bahwa anjing yang dimaksud adalah anjing-anjing rumah yang dapat berkawan dengan manusia. Sebab itulah, ayat 26 dikatakan bahwa "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Lalu dijawab oleh perempuan tersebut "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Dengan demikian perempuan tersebut menyadari bahwa kasih Allah sejatinya adalah untuk umat Tuhan yaitu orang-orang Yahudi. Itulah sebabnya ia tidak tersinggung ataupun marah. Kelanjutan dari sikap perempuan itu, terlihat pada ungkapan, anjingpun masih dapat menikmati remah-remah atau sisa-sisa dari tuannya. Sikap ini menunjukkan bahwa ia masih berharap bahwa Yesus tetap peduli untuk permohonannya. Menyikapi sikap itu Yesus mengabulkan permohonan ibu tersebut yang akhirnya anaknya menjadi sembuh.
Karena “kasihnya” yang begitu besar untuk melihat anaknya sembuh, sang ibu menembusi batas budaya, keagamaan dan eksklusivisme yang ada. Ia yang tadinya datang kepada Yesus dengan “tujuan” memperoleh kasih Yesus supaya anaknya sembuh namun dengan percakapan dengan Yesus sikap perempuan “menjadi” percaya kepada Yesus. Dari sudut Yesus, kehadirannya di daerah Sidon karena tidak diterima oleh kaum-Nya sendiri telah menjadi berkat bagi ibu tersebut. Bahkan lewat sang ibu ini Yesuspun menunjukkan sikap terbuka. Sikap yang menunjukkan bahwa kaum “goyim” juga rindu untuk dirangkul oleh Allah untuk percaya kepada-Nya dan menjadikan diri-Nya sebagai Allah mereka karena Allah juga sungguh mengasihi mereka. Jadi kehadiran Yesus membebaskan dan melepaskan ikatan kasih terbatas menjadi tidak terbatas.
Pertanyaan :
1. Apakah yang mendorong sang ibu untuk menjumpai Yesus dan memohonkan agar anaknya disembuhkan?
(Apara tu umpabatta’i te misa’ indo’ male umpesitammi Yesu umpalakuan kamalekean anakna?
2. Apakah tujuan kita dalam memberitakan Injil. Apakah supaya orang menjadi kristen atau menjadi percaya kepada Yesus?
(Apara patunna tu tu umpatale’ kareba kaparannuan? Dikua raka anna sarani tu tau ba’tu dikua raka anna ma’patongan lako Puang yesu?)
Diposting tanggal 18 Aug 2017
