Bahan Khotbah Minggu ke-44 Tanggal 3 November 2019 BERIMAN DALAM KETIDAKAMANAN (Ma”patongan Lan Katangrapasan)
Bahan Khotbah Minggu ke-44 Tanggal 3 November 2019
BERIMAN DALAM KETIDAKAMANAN
(Ma'patongan Lan Katangrapasan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 32:1-7 |
| Bacaan 1 | : Habakuk 1:1-4; 2:1-4 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 2 Tesalonika 1:1-4,11-12 |
| Bacaan 3 | : Lukas 19:1-10 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 96:8 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Habakuk 2:4 |
Tujuan:
1. Jemaat mengetahui bahwa Tuhan tidak akan berdiam diri melihat umat-Nya tertindas.
2. Jemaat tetap teguh beriman di tengah berbagai ketidaknyamanan/kekuatiran hidup.
Pemahaman teks
Gambaran secara ringkas tentang isi atau berita yang terdapat dalam tiap bacaan tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut:
Mazmur 32:1-7 merupakan mazmur atau nyanyian syukur orang yang diampuni dosanya. Selama hidup dalam dosa, ia merasa berada di bawah penindasan Tuhan. Tetapi tatkala ia membuka diri, mengakui dosanya di hadapan Tuhan, ‘mencari’ dan menemui Tuhan, ia akhirnya merasakan betapa Tuhan itu murah hati: dosanya diampuni. Tuhan terbuka menerima orang berdosa yang datang kepada-Nya; Ia berkenan menjadi tempat perlindungan umat-Nya dari berbagai ancaman, Ia adalah penjaga dalam kesesakan, dan penolong dalam bahaya. Itu sebabnya pemazmur sungguh merasakan kebahagiaan sebagai orang tebusan Allah.
Habakuk 1:1-4; 2:1-4 berisi teriakan seorang yang tertindas kepada Tuhan. Ia merasa ditinggalkan, dan Tuhan seakan tidak peduli akan keadaannya. Namun demikian, Tuhan memastikan bahwa apa yang dijanjikan-Nya akan nyata. Ia akan membebaskan umat-Nya sementara itu orang yang sombong akan berlalu. Sebab itu, berbahagialah mereka yang percaya/beriman.
Bacaan 2 Tesalonika 1:1-4, 11-12 memperlihatkan dua hal yang dilakukan Paulus terkait dengan sikap Jemaat Tesalonika. Pertama, Paulus mengucap syukur melihat kepercayaan dan kasih jemaat Tesalonika yang semakin bertambah walaupun di tengah penderitaan dan penganiayaan. Kedua, Paulus mendoakan mereka supaya tetap tabah menjelang kedatangan Tuhan menghadapi penganiayaan dan penindasan.
Lukas 19:1-10 mengisahkan tentang Zakheus, seorang pemungut cukai. Orang yang menggeluti pekerjaan seperti Zakheus termasuk yang sangat dibenci oleh orang Yahudi, karena mereka dianggap berpihak kepada pemerintah penjajah (Romawi). Karena keberpihakan itu pula, mereka pun dipandang melawan kehendak Allah sebab hanya kepada Allahlah persembahan layak diberikan (bukan kepada manusia, termasuk Kaisar Romawi). Dengan demikian, mereka tergolong orang berdosa sehingga patut disisihkan dari masyarakat (Yahudi). Namun demikian, sikap Yesus yang menerima Zakheus menunjukkan bahwa Tuhan menerima orang yang berdosa dan tersisih dari masyarakat. Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Bertolak dari Habakuk 1:1-4; 2:1-4 (sebagai bahan utama), kita dapat merumuskan kesatuan pesan yang terdapat dalam keempat bahan bacaan di atas, yaitu bahwa penindasan atau ketertindasan nyaris tak terelakkan dari kehidupan umat Allah. Kehadiran Allah sendiri bahkan seringkali dialami oleh umat-Nya sebagai pribadi yang menindas dengan tangannya (Mzm. 32:1-7). Dalam ketertindasan, Nabi Habakuk sudah berkali-kali berseru kepada Allah untuk dilepaskan, namun Tuhan seakan tidak peduli. Namun demikian, ia percaya pada janji Tuhan, bahwa akan tiba masanya Tuhan akan membebaska umat-Nya. Untuk hal itu, Nabi Habakuk percaya pada janji Allah. Sikap percaya pada janji Allah juga ditunjukkan oleh jemaat di Tesalonika. Hal itu yang memungkinkan mereka bertekun dalam iman di tengah-tengah penderitaan. Perbuatan Allah yang membebaskan umat-Nya dari penindasan itu telah dialami oleh Zakheus. Ia yang tersisih dari masyarakat dirangkul oleh Tuhan Yesus. Buahnya, Zakheus mengalami perubahan hidup.
Fokus pada Habakuk 1:1-4; 2:1-4, kita menemukan adanya teologi salib versi Perjanjian Lama. Terlihat, betapa kehadiran Tuhan tidak hanya ditemukan (atau bahkan terutama) di titik-titik tinggi kehidupan, yakni di kala kehidupan dipandang baik, melainkan Ia juga hadir dan memenuhi kehidupan kita dalam pelbagai penderitaan yang kita alami.
Habakuk memberikan dua gambar atau potret kehidupan beriman. Yang pertama, adalah bahwa orang benar hidup sekarang dalam terang janji yang telah mereka terima. Tuhan selalu memiliki rencana yang baik atas kehidupan umat-Nya. Janji dan rencana itu pasti akan diwujudkan-Nya. Kehidupan beriman menjanjikan visi itu. Kita hidup sekarang dengan iman penuh bahwa janji dan tindakan yang Tuhan lakukan untuk mewujudkan janjinya itu akan terlaksana. Oleh sebab itu, kendatipun di sekeliling sekarang ini, kita melihat dunia di mana terlalu sering "orang jahat mengelilingi orang benar," Tetapi kita percaya bahwa visi Tuhan akan kebaikan umatnya pasti akan datang.
Gambaran kedua dari kehidupan iman adalah bahwa orang-orang yang mengasihi Tuhan akan selalu bersukacita. Sukacita itu melampaui keadaan ketika lumbung, ranting, dan padang rumput kosong. Ini adalah gambaran hati yang mengasihi Tuhan: ia bukan hanya bersukacita kala berkat-berkat Tuhan melimpah, kala karunia-karunia Allah nyata. Orang beriman tahu dan menerima kenyataan bahwa titik-titk terendah dalam hidup bukanlah suatu pertanda bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Percaya yang benar menerima dan mengakui bahwa Allah sesungguhnya akan menemukan kita pula di dalam penderitaan kita.
Pokok-pokok pengembangan khotbah
-
Tuhan selalu hadir dalam kehidupan umat-Nya. Tanda kehadiran-Nya tidak hanya ketika umat-Nya merasa terberkati. Allah pun hadir kadangkala justru ketika umat-Nya merasakan bahwa kehdupan ini diliputi dengan berbagai kesulitan dan penderitaan.
-
Orang beriman adalah orang yang mengasihi dan menerima pelbagai cara Tuhan hadir dan memelihara kehidupannya. Ia percaya bahwa Tuhan selalu merancangkan kebaikan bagi kehidupannya. Kebaikan itu harus dilihat pertama-tama dari sudut pandang Alllah, bukan manusia. Dalam hal inilah, apa yang baik dalam pemandangan Allah, bisa tampak tidak baik dalam pemandangan manusia.
-
Kita mesti berhati-hati untuk tidak melihat kehidupan secara fatalis. Kita tidak boleh memandang bahwa semua penderitaan yang terjadi dalam hidup itu disebabkan oleh tindakan Allah. Banyak kali, hal itu terjadi karena tindakan kita sendiri; karena dosa yang kita lakukan. Oleh sebab itu, manusia perlu selalu berbenah diri, jangan membiarkan diri hidup dalam dosa.
-
Perbuatan dosa kendatipun untuk sesaat memberi kenikmatan, pada akhirnya pasti akan membawa penderitaan. Sebaliknya, tindakan Allah, kendatipun untuk sesaat memberi penderitaan, pada akhirnya akan membawa kehidupan dan keselamatan.
-
Memahami dan meyakini bahwa rencana dan tindakan Allah selalu baik bagi umat-Nya, akan membuat orang percaya dimampukan untuk selalu beriman dalam ketidakamanan hidup yang dijalaninya.
Aplikasi
Apakah hidup anda saat ini sudah aman dan nyaman? Apakah berkat-berkat Tuhan selalu anda rasakan? Sukacita selalu dan senantiasa melingkupi hidup anda di semua tempat dan bidang kehidupan yang anda jalani? Mungkin tidak banyak, bahkan tidak ada orang, yang dengan yakin akan menjawab “Ya” atas semua pertanyaan tersebut. Hal itu terjadi karena situasi tak aman dan nyaman selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, termasuk umat Allah.
-
Jika ketidakamanan itu terjadi karena dosa dan kesalahan kita, segeralah bertobat dan tinggalkanlah dosa itu. Percayalah, Allah terbuka menerima dan mengampuni kita (bandingkan bacaan Mazmur dan Zakheus). Oleh pengampunannya, kita pasti berbahagia. Dosa selalu membebani kita di hadapan Allah. Bandingkan saja ketika kita berhutang kepada seseorang, kepada Bank, apalagi kepada rentenir. Hari-hari kita dipenuhi dengan beban, rasa bersalah, dan ketertekanan. Hidup kita tidak aman dan nyaman. Namun seandainya Bank atau pemiutang kita menyatakan “hutangmu sudah tidak kuperhitungkan lagi”, kita pasti bersukacita. Demikianlah dalam kasih dan keterbukaan Allah menerima kita yang berdosa. Jika kita datang kepadanya kita pasti akan bersukacita karena ia berkenan mengampuni dan melunaskan “hutang” dosa kita.
-
Jika ketidakamanan itu terjadi di saat kita telah hidup dalam jalan-Nya, janganlah meninggalkan jalan kebenaran yang telah kita pilih. Tetaplah hidup dalam jalan-Nya. Karena jalan-Nya pasti membawa kita kepada kehidupan yang baik yang telah dijanjikan-Nya. Jangan mengukur kehadiran Allah berdasarkan berkat-berkat yang kita terima, tetapi ukurlah berkat-berkat Allah dari sudut pandang Allah sendiri yang selalu berencana dan bertindak demi kebaikan dan keselamatan umat-Nya.
Diposting tanggal 29 Oct 2019
