Bahan Khotbah Minggu ke-22 Tanggal 3 Juni 2018 (Minggu Penghayatan Pentakosta II) SABAT: ANUGERAH PEMULIHAN TUHAN BAGI MANUSIA Allo Katorroan: Pa’kamaseanNa Puang Matua Ullendokan Torro Tolino
Bahan Khotbah Minggu ke-22, Tanggal 3 Juni 2018
(Minggu Penghayatan Pentakosta II)
SABAT: ANUGERAH PEMULIHAN TUHAN BAGI MANUSIA
(Allo Katorroan: Pa’kamaseanNa Puang Matua Ullendokan Torro Tolino)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 81:1-10 |
| Bacaan 1 | : Ulangan 5:12-15 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 2 Korintus 4:5-12 |
| Bacaan 3 | : Markus 2:23-3:6 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 50:23 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yesaya 58:6-7 |
Tujuan:
- Jemaat memahami makna Hari Sabat.
- Jemaat mewujudkan makna Sabat untuk memulihkan kehidupan sesama.
Pemahaman Teks
Menarik memperhatikan alasan perayaan Sabat yang dikemukakan dalam Kitab Ulangan ini. Jika dalam kitab Keluaran 20:11, yakni bagian yang sering dikemukakan dalam penyampaian Dasa Titah, dituliskan, bahwa dasar bagi perayaan Sabat adalah perhentian Tuhan sendiri pada hari ketujuh dalam riwayat penciptaan, maka dalam kitab Ulangan 5:15 dikemukakan alasan yang sedikit berbeda. Dalam hal ini, alasan bagi umat Tuhan untuk memelihara Sabat, adalah “Sebab haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (Ul. 5:15). Persoalannya, ialah bagaimana harus memahami kedua hal yang memberi penekanan sedikit berbeda ini? Bagaimana memahami dasar perayaan Sabat yang pada satu sisi memberi penekanan pada dimensi teologis, yakni untuk memelihara kekudusan Tuhan dan pekerjaan Tuhan dalam diri umat-Nya, lalu pada sisi yang lain, juga memberi penekanan pada dimensi sosial, yakni relasi antar kehidupan umat manusia?
Saat menjelaskan mengenai Sabat dalam kisah penciptaan, Walter Brueggemann mengatakan, bahwa sabat memang terkait dengan istirahat Allah setelah bekerja enam hari lamanya. Namun dengan mengingat keberadaan manusia sebagai gambar Allah, maka ketika “Allah istirahat” sesungguhnya pula merupakan janji bagi istirahat manusia. Melalui sabat, maksud dari penciptaan menjadi jelas, yakni membawa damai sejahtera bagi umat manusia (Brueggemann, Genesis , 1982, hlm.36).
Pandangan Harold Dressler juga tidak jauh berbeda. Menurutnya, makna perhentian dalam Kejadian pasal 2 memang makin menegaskan pesan untuk beristirahat. Kejadian pasal 2 sesungguhnya tidak mengemukakan istilah “sabat” sebagai sebuah perayaan dan aturan. Yang ada ialah istilah “hari ketujuh” (yome shebiyiy) dan istilah shabath yang diartikan sebagai beristirahat (bnd. Alkitab KJV, NRSV, NIV: rest). Dalam hal ini, bentuk antropopatisme[1] Allah untuk beristirahat (shabath) tidaklah dimaksudkan hanya untuk menjelaskan aktivitas Allah, melainkan menjelaskan pada manusia tentang apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, makna “Allah beristirahat” dalam kisah penciptaan, sesungguhnya hendak mengingatkan sebuah dasar bagi perayaan sabat umat Israel di kemudian hari, yakni pemulihan Allah bagi umat manusia (Harold H.P.Dressler, “The Sabbath In The Old Testament” 1982, hlm. 28-30). Itu sebabnya, dalam perayaan sabat, Mazmur 126 seringkali dibacakan guna memperlihatkan adanya pengharapan mengenai pemulihan kehidupan. Dalam hal ini, air mata dan penderitaan akan segera dihapuskan, lalu digantikan dengan kemenangan dan sorak-sorai (Larsson, Bound For Freedom, hlm. 149).
Dalam konteks kisah keluaran dari tanah Mesir, yang menjadi latar peristiwa pemberian Dasa Firman (termasuk perintah tentang Sabat), gagasan ini tampak makin jelas. Betapa tidak, salah satu penyebab utama penderitaan mereka di Mesir, ialah pemanfaatan tenaga mereka di luar batas kemampuan mereka. Pekerjaan yang mereka lakoni bukan lagi pekerjaan dalam terang rencana Tuhan, melainkan sebuah kerja paksa (sebalah) yang diharuskan secara kejam atas diri mereka (Kel. 1:11). Mereka bahkan kemudian harus memproduksi batu bata dengan menyiapkan sendiri bahan baku berupa jerami (Kel. 5:10-11, 18-19).
Sehubungan dengan itu, kiranya menjadi cukup jelas betapa sabat memang tidak hanya merupakan hari yang dikuduskan bagi Tuhan, tetapi juga saat pemulihan umat manusia, bahkan segenap ciptaan lainnya: “Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah” (Kel. 23:12, bnd.Ul.5:14, Im.25:5). Bekerja memang merupakan bagian dari kehendak Tuhan, namun Tuhan pun menghendaki ada waktu untuk beristirahat dan melepaskan lelah. Dalam hal ini, sabat memang merupakan saat untuk mengingat kekudusan dan perjanjian Tuhan, namun sekaligus juga mengingatkan manusia tentang karakter kekudusan Allah tersebut, yakni dengan melakukan keadilan dan kebenaran, serta pemulihan bagi sesama dalam hidup mereka. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus pada orang-orang Farisi, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Mrk. 2:27).
Pemulihan ini sendiri tidak hanya mencakup pemulihan diri pribadi-pribadi. Lebih dari itu, perayaan sabat sesungguhnya juga memulihkan relasi-relasi dalam kehidupan masyarakat. Saat di mana semua orang, termasuk para buruh dan budak bisa beristirahat, adalah saat kesetaraan itu nyata dalam kehidupan masyarakat. Saat semua bisa beristirahat adalah saat eksploitasi bagi mereka yang lemah bisa dihentikan. Tak heran jika sabat pun seringkali dilihat sebagai dunia yang ideal pada hari terakhir, yakni hari yang memperlihatkan adanya harmoni antara Tuhan dan seluruh ciptaan lainnya (Brueggemann, Genesis, 35-36. Bnd. Larsson, Bound For Freedom, 148-149).
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
-
Aturan sabat tampak begitu penting bagi kehidupan umat Israel. Betapa tidak, sanksi yang diterapkan untuk pelanggaran hukum ini, adalah kematian (Kel.31:15; 35:2). Pada zaman Tuhan Yesus, persoalan Sabat juga amat sering menjadi pangkal perdebatan dengan orang-orang Yahudi. Setelah umat Israel kembali dari pembuangan di Babel, perayaan sabat juga menjadi sebuah ketentuan yang diberi perhatian serius oleh Nehemia. Nehemia melarang orang untuk melakukan pekerjaan pada hari sabat, baik untuk mengirik anggur, maupun untuk berjualan. Oleh Nehemia, hal tersebut dipandang sebagai sebuah kejahatan yang melanggar kekudusan Allah (Neh.13:17). Yang mungkin menjadi soal, ialah mengapa ketentuan ini dianggap begitu penting, sehingga harus disertai dengan sanksi yang amat keras?
Tentang hal ini, menarik memperhatikan latar belakang perayaan Sabat, yakni peristiwa perbudakan di Mesir yang telah mengharuskan mereka menjadi pekerja-pekerja dengan tingkat produktivitas yang amat tinggi dan tanpa sadar sesungguhnya telah membuat mereka hidup di bawah perhambaan seorang tuan, yakni produktivitas (yang ditetapkan oleh Firaun). Dalam hal ini mereka dipaksa untuk menghasilkan nilai produksi yang begitu besar, yakni yang bahkan berada di luar batas kemampuan mereka (bnd. Kel. 5:13-14). Karena itu, peristiwa pembebasan dari Mesir yang kemudian diikuti dengan perintah melaksanakan Sabat, sesungguhnya juga merupakan pembebasan dari perhambaan nilai produktivitas itu sendiri. Peristiwa pembebasan hendak mengingatkan, bahwa satu-satunya yang harus disembah adalah Allah sendiri dan bukan nilai produktivitas. Dengan demikian, melalui perayaan Sabat umat Israel bahkan sekaligus menyatakan penolakannya terhadap berbagai dewa dan juga pandangan hidup lain yang sering kali menjadi andalan manusia. Sabat adalah sebuah penegasan betapa satu-satunya yang menjamin kelangsungan kehidupan umat manusia adalah Allah sendiri. Kehidupan manusia tidak dapat terjamin melalui tindakan-tindakannya sendiri, sebab segala bentuk kehidupan sesungguhnya merupakan anugerah dari Allah sendiri. Dalam kisah pemberian manna dari langit sebagai makanan bagi bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun, pesan tersebut tampak begitu jelas. Saat hari Sabat tiba dan manna tidak diturunkan dari langit, kebutuhan umat Tuhan akan tetap saja terpenuhi dan mereka tidak perlu kuatir akan hal tersebut. Pada hari ke-enam, yakni pada hari sebelum Sabat, Tuhan akan memberikan roti yang cukup untuk dimakan dalam dua hari. Karena itu, tetap bekerja mencari manna pada hari Sabat, bisa dipahami sebagai bentuk ketidakpercayaan pada pemeliharaan Tuhan (Kel. 16:25-31).
Dalam hal peringatan Tahun Sabat, pemeliharaan Allah tampak lebih nyata lagi. Tahun Sabat yang merupakan tahun perhentian penuh bagi tanah sehingga tidak boleh ditaburi, jelas akan menimbulkan sebuah pergumulan: apa yang akan menjadi makanan bagi umat Tuhan selama satu tahun tersebut? Jawab Tuhan jelas, yakni: Apabila kamu bertanya: Apakah yang akan kami makan dalam tahun yang ketujuh itu, bukankah kami tidak boleh menabur dan tidak boleh mengumpulkan hasil tanah kami? Maka Aku akan memerintahkan berkat-Ku kepadamu dalam tahun yang keenam, supaya diberinya hasil untuk tiga tahun (Imamat 25:20-21).
Dalam hal inilah, bacaan 2 Korintus 4:5-12 menjadi relevan. Kekuatan yang nyata dalam diri Rasul Paulus dan semua pemberita Injil lainnya bukanlah kekekuatan yang datang dari dalam diri mereka sendiri. Sebaliknya, Allah dalam diri Yesus Kristuslah yang menjadi sumber kekuatan bagi mereka. Merayakan Sabat adalah percaya, bahwa Tuhanlah satu-satunya Pemelihara kehidupan.
-
Dalam perkembangannya kemudian, pelaksanaan Sabat memang lantas terjebak dalam sebuah legalisme yang kehilangan makna. Tak heran jika Yesus seringkali mengkritik secara keras kebijakan pelaksanaan sabat tersebut. Jika mengingat kisah penyembuhan pada hari Sabat yang sengaja dilakukan oleh Tuhan Yesus di tepi Kolam Bethesda atas diri seorang yang telah menderita sakit selama 38 tahun, cukup jelas makna dari tindakan Yesus tersebut (Yohanes 5:1-18). Dalam sebuah diskusi, ada yang bertanya: “mengapa Tuhan Yesus tidak menunda sehari saja untuk menyembuhkan orang ini? Mengapa harus disembuhkan di hari Sabat? Untuk orang yang sudah sakit selama 38 tahun, tentu tidak akan jadi soal jika kesembuhannya diundur sehari saja bukan?” Jawabannya cukup jelas, Tuhan Yesus secara sengaja menyembuhkan orang tersebut pada hari Sabat, justru untuk menjelaskan makna Sabat yang sesungguhnya, yakni peringatan bagi kekudusan Allah sebagai satu-satunya sumber kesembuhan dan kehidupan yang terwujud dalam pemulihan kehidupan umat manusia.
-
Kekudusan Allah yang jadi fokus perayaan Sabat, haruslah tercermin dalam kehidupan umat Tuhan, yakni kehidupan yang hanya bergantung pada penjagaan dan pemeliharaan Tuhan semata oleh karya Roh Kudus. Jhon Calvin (Tokoh Reformasi) menegaskan tentang makna sabat dalam hubungannya dengan karya Roh Kudus bahwa: “Pemberi hukum di sorga itu, dengan memerintahkan istirahat pada hari ketujuh, telah bermaksud menggambarkan bagi umat Allah suatu istirahat rohani yang membuat orang-orang percaya melepaskan pekerjaan mereka sendiri supaya Allah dapat bekerja dalam diri mereka oleh kuasa Roh Kudus.
Dengan keyakinan demikian, umat Tuhan tentu juga akan diyakinkan untuk hidup dalam kebenaran dan tak perlu melakukan hal-hal yang dapat merusak dan merugikan kehidupan orang lain, termasuk dalam hal ini merampas hak-hak milik orang lain. Merayakan Sabat namun pada saat yang juga tetap merampas hak-hak orang lain, hidup dalam keserakahan dan keegoisan, atau enggan berbagi kehidupan dengan orang lain, sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap perayaan Sabat itu sendiri.
[1] Antropopatisme adalah gambaran mengenai sifat-sifat dan kegiatan Allah dalam penggambaran manusia, misalnya: Berjalan, berbicara, beristirahat dll. Ada juga yang menggunakan istilah Antropomorphisme yang menggambarkan Allah dalam wujud manusia.
Diposting tanggal 02 Jun 2018
