Minggu, 27 Mei 2018 Roma 8:12-17 WARISAN UNTUK CUCU
Minggu, 27 Mei 2018 Roma 8:12-17
WARISAN UNTUK CUCU
Di acara kedukaan, saya bercerita dengan seorang ibu. Ia bercerita, “Dalam keterbatasan...syukur ada yang saya bisa tinggalkan untuk anak-anak. Saya sudah bagikan semua.” Saya: “Senangnya anak-anak ibu. Tidak capek, langsung dapat warisan.” Ibu: “Malah mereka masih sempat protes, mempersolakan bagiannya karena saya bagi empat, padahal mereka hanya bertiga.” Saya: “Kenapa bisa?”. Ibu: “…Yang satunya untuk cucu pertama. Sejak kecil saya membawanya. Jadi saya anggap dia juga “anak” dan berhak dapat waisan,” sang ibu menjelaskan.
Paulus mengingatkan Jemaat Roma sebagai orang yang berhutang (ayat 12). Ada yang memandang keselamatan didapatkan sebagai hasil usaha manusia. Namun dalam Injil, tidak demikian. Kita diselamatkan karena kasih karunia Allah bukan berdasarkan perbuatan baik. Itulah hutang kita. Hutang kepada Allah. Kita diterima menjadi anak-Nya melalui Roh (ayat 15). Ada anggapan bahwa yang menjadi anak Allah ialah yang melakukan Hukum Taurat atau keturunan langsung dari Abraham dan Sara. Namun melalui Roh, kita bisa berseru kepada Allah, “ya Abba, ya Bapa!”. Status sebagai anak menjadikan kita berhak menerima warisan (ayat 17). yaitu keselamatan yang Allah nyatakan dalam Yesus.
Sang ibu menetapkan anaknya yang berhak jadi ahli waris, tetapi tidak hanya itu, seorang cucu pun berhak. Itulah warisan, tanpa tetasan keringat. Keselamatan dari Allah pun demikian. Kita menerimanya melalui pengorbanan Kristus. Jika kita diselamatkan, orang yang tetap percaya dan akan menerima janji Allah.
Warisan terbaik dari Allah
ialah kepastian keselamatan.
Diposting tanggal 24 May 2018
