Bahan Khotbah Minggu ke-10 Tanggal 8 Maret 2020 Prapaskah 2 PERCAYA DAN HIDUP BARU Ma’patongan sia Tuo Ba’ru
Bahan Khotbah Minggu ke-10 Tanggal 8 Maret 2020
Prapaskah 2
PERCAYA DAN HIDUP BARU
Ma’patongan sia Tuo Ba’ru
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 121:1-8 |
| Bacaan 1 | : Kejadian 12:1-9 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : Roma 4:1-15 |
| Bacaan 3 | : Yohanes 3:1-21 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 9:2-3 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Mazmur 121:7-8 |
Tujuan :
1. Jemaat memahami dan percaya kepada karya penyelamatan Allah dalam Kristus.
2. Jemaat menghidupi karya keselamatan tersebut melalui kehidupan baru.
Pemahaman Teks
Mazmur 121 menjelaskan keyakinan pemazmur atas kuasa Allah, bahwa Tuhan Allah yang disembah adalah Tuhan yang sepanjang sejarah terus menerus memelihara. Ia tidak terlelap dan tidak tertidur (ay.4). Tuhan konsisten menjaga umatNya, lebih dari seorang ibu yang sedang menjaga anaknya. Lebih dari itu, sebagai penjaga dan tempat bernaung yang kekal, Tuhan bukan hanya menjaga kita dari berbagai persoalan hidup, Ia pun menjaga nyawa kita. Pemazmur menyatakan dalam (ay.2) bahwa “Tuhan-Nya beda dengan Tuhan yang disembah nabi-nabi Baal”. Dalam 1 Raja 18:27, saat diadakan pertarungan meminta api dari langit antara Nabi Elia dengan nabi-nabi Baal, terlihat jelas betapa Baal yang disembah para nabi Baal ternyata sama sekali tidak bisa memenuhi permintaan para nabi Baal. Para nabi bahkan telah menari-nari hingga lelah, namun api tak kunjung turun dari langit. Itulah sebabnya Elia mengejek mereka, katanya “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian, barangkali ia tertidur dan belum terjaga.” Seruan Elia yang kemudian dijawab Allah dengan cara menurunkan api dari langit jelas menegaskan betapa Tuhan Allah Israel adalah Allah yang selalu mendengar dan tidak pernah tertidur.
Kejadian 12:1-9 mengisahkan panggilan Tuhan kepada Abram untuk meninggalkan apa yang dikasihinya. Abram dipanggil Tuhan untuk meninggalkan negerinya, sanak saudaranya dan rumahnya menuju ke tempat yang belum jelas, yakni yang akan ditunjukan Allah kepadanya. Ini merupakan pergumulan berat bagi Abram. Berdasarkan konteks dekat dalam Kejadian 11:27-32 dan konteks jauh dari Kisah 7:24 ada pemikiran, bahwa panggilan Tuhan kepada Abram dalam kejadian 12:1-4a merupakan panggilan yang kedua. Sebelumnya Tuhan telah memberikan perintah yang sama kepada Abram di tanah kelahirannya, akan tetapi Abram masih membawa keluarganya yaitu ayahnya yang ikut dalam perjalanan panggilannya. Setelah ayahnya meninggal di Haran, Tuhan kembali mengulangi perintah-Nya kepada Abram. Ini menunjukkan betapa Abram sangat bergumul untuk menaati panggilan atau perintah Tuhan. Tetapi dengan iman dan kepercayaan Abram kepada Tuhan, ia pun menaati perintah Tuhan. Dalam panggilan Tuhan yang kedua ini, Tuhan berjanji kepada Abram, bahwa Tuhan akan memberkati Abram (ay.3). Namun, fokus Abram bukanlah tertuju pada berkat itu sendiri, melainkan pada panggilan Tuhan, yakni diutus untuk pergi dan menjadi berkat. Dalam tata bahasa Ibrani, kata-kata “Engkau akan menjadi berkat” mempunyai fungsi menyatakan tujuan dari janji Allah kepada Abram mengenai penyataan pelayanan Abram bagi Allah dalam kesetiaannya kepada panggilan Tuhan. Jadi Tuhan menghendaki agar saat Abram menjadi berkat, maka orang lain yang juga percaya akan terberkati. Hal inilah yang menjadi tujuan utama dari Abram untuk terus percaya bahwa Allah sanggup menjawab doa-doanya ketika mengikuti kehendakNya,
Roma 4 merupakan kelanjutan uraian Paulus yang dalam pasal 3 berbicara tentang iman dan hukum taurat. Iman menyelamatkan dan hukum taurat adalah ginoskou atau pengetahuan pengenalan akan dosa. Dalam perikop bacaan ini, Paulus memakai Abraham sebagai contoh mengingat keberadaan Abraham sebagai nenek moyang bangsa Yahudi, yang melaluinya diturunkan perjanjian Allah dengan Israel. Paulus membuka uraiannya dengan pertanyaan retorika mengenai Abraham. Paulus mengiringi paradigma orang Kristen Yahudi mengenai keselamatan Abraham. Menurut Paulus, pembenaran Abraham bukanlah berdasarkan hukum taurat atau perbuatannya, sebab iman Abraham diperhitungkan sebagai kebenaran justru sebelum ia disunat. Sunat adalah meterai dari kebenaran berdasarkan iman yang telah ia tunjukkan sebelumnya (Rm. 4:11). Karena itu dasar pembenaran Abraham adalah percaya atau beriman kepada Tuhan. Iman Abraham diperhitungkan (Yun. logizomai) Tuhan menjadi kebenaran. Hal yang terlihat jelas, adalah keselamatan itu inisiatif aktif Tuhan, dimana Tuhan memperhitungkan ketidaklayakan manusia untuk menerima anugerah-Nya yang besar. Kebenaran yang diperhitungkan kepada seseorang berdasarkan imannya bukanlah sebuah upah atau hak, melainkan sebagai hadiah. Wujud iman Abraham menjadi lebih jelas ketika kita melihat konteks paralel dalam Ibrani 11:8-12, yakni melalui iman dan pengharapan akan penggenapan janji Tuhan.
Pembenaran oleh iman ini tentu tidak hanya dimaksudkan bagi Abraham. Ini berlaku bagi segenap umat manusia. Paulus mengutip mazmur Daud yang menyadari, bahwa perbuatan baik yang dilakukan manusia tidaklah dapat menyenangkan hati Allah sehingga kemudian ada pembenaran. Pembenaran terjadi karena Tuhan penuh kasih karunia. Ia mengampuni dan tidak memperhitungkan pelanggarannya (Maz.32:1-2). Pembenaran bukanlah karena hukum taurat atau sunat. Karena itu pembenaran tidaklah bersifat ekslusif, yakni bagi sekelompok orang saja, tetapi bagi semua orang yang beriman, baik dari kaum bersunat maupun tidak bersunat, serta dari semua bangsa tanpa kecuali. Keberadaan Abraham sebagai bapa segala orang percaya, juga menegaskan hal tersebut. Abraham bukan lagi hanya milik bangsa Yahudi, tetapi menjadi bapa bagi semua orang beriman.
Yohanes 3:1-21 menjelaskan Tuhan Yesus yang sedang berdialog dengan Nikodemus di malam hari. Kemungkinan Nikodemus mendatangi Yesus pada malam hari karena dia tidak ingin ada orang yang mengetahui bahwa ia juga tertarik dengan ajaran Yesus. Sebagai seorang tokoh agama, tentu Nikodemus sudah terbiasa dengan bahasa sopan dan hati-hati dalam berbicara. Nikodemus membuka pembicaraan dengan berkata, “Rabi kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai Guru yang diutus Allah…” Dari pernyataan ini terlihat bahwa Nikodemus percaya bahwa Yesus bukanlah manusia biasa. Ia adalah utusan Allah. Yesus pun tahu apa yang ada di dalam hati Nikodemus. Itu sebabnya, Yesus menjelaskan bahwa untuk melihat kerajaan Allah manusia mengalami lahir baru. Yesus menjelaskan panjang lebar kepada Nikodemus tentang keselamatan dan lahir baru. Dikatakan bahwa keselamatan adalah karunia. Hal “dilahirkan kembali” bukanlah masalah masuk kembali ke dalam rahim ibu, melainkan hidup terarah total kepada Bapa dengan menanggalkan atau meninggalkan, bahkan mematikan pola hidup lama untuk menjalani hidup baru bersama dengan Tuhan. Kepada Nikodemus, Yesus mengatakan bahwa hanya orang yang memiliki iman dan pengharapan yang dapat melihat kerajaan sorga. Yesus mau menjelaskan bahwa kelahiran baru merupakan pintu gerbang untuk masuk dalam kehidupan yang baru. Sekalipun ia adalah orang yang mempraktekkan agama dengan baik dan punya keinginan yang besar untuk datang pada Allah seperti Nikodemus, tetapi tanpa dilahirkan kembali, manusia pada dasarnya mati karena manusia telah berbuat dosa. Beriman kepada Yesus sebagai juruselamat adalah hidup orang Kristen sejati. Jadi hidup baru adalah hidup dalam iman dan iman itu ditunjukkan dalam perbuatan.
Pokok-pokok Pengembangan Khotbah
1. Mengikuti Perintah Tuhan Dengan Iman
Tuhan memanggil Abraham yang adalah seorang seorang penduduk Ur Kasdim untuk meninggalkan negeri asal dan sanak saudaranya untuk menuju ke suatu negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya namun belum diketahui olehnya letak dan kondisi negeri tersebut. Abraham mengikutih perintah Allah. Dia pergi dengan hati yang tenang dan sukacita mengikuti apa yang Allah perintahkan kepadanya. Sekalipun ia belum mengetahui negeri yang akan ditujunya, namun Abraham bersedia pergi karena Allah sendiri yang akan menunjukkan kepadanya. Jelas terlihat bahwa Abraham sangat percaya kepada firman dan janji Allah. Ia percaya kepada perintah Tuhan dan mengikutinya tanpa keraguan.
2. Berharap sepenuhnya kepada Tuhan
Tuhan menegaskan kepada umatnya untuk tidak menaruh harap kepada sesama manusia, melainkan sepenuhnya berharap hanya kepada Allah, Penguasa tunggal kehidupan manusia dan alam semesta ini. Seruan pertolongan hendaknya hanya diserukan kepada Tuhan, dan bukan kepada allah-allah atau pihak-pihak lain yang pada dasarnya bukan Allah. Tuhan adalah penjaga yang tidak pernah tertidur dan terlelap
3. Orang percaya dibenarkan karena Iman
Prinsip pembenaran karena Iman adalah prinsip keselamatan di dalam Alkitab. Ini bukan hanya pengajaran perjanjian baru tetapi prinsip ini berlaku dalam perjanjian lama. Seseorang dibenarkan bukan karena melakukan taurat melainkan karena percaya (Hab.2:4). Orang yang dibenarkan karena iman tidak lagi merasa kuatir kehilangan keselamatan. Ketidak-berdayaan karena dibelenggu dosa dan di bawah bayang-bayang murka Allah, oleh kasih karunia Kristus telah diubah menjadi kedamaian. Manusia yang dibenarkan karena iman memiliki pengharapan bahwa satu hari kelak hidupnya akan dipermuliakan oleh kemuliaan Allah. Pemahaman ini menggugah orang untuk berani menghadapi penderitaan. Melalui penderitaan imannya itu justru semakin teguh dan teruji, serta semakin bertambah teguh dalam pengharapan kepada Tuhan.
Diposting tanggal 05 Mar 2020
