BERSUKACITA KARENA BERJUMPA TUHAN YANG BANGKIT (Parannu Belanna Sitammu Puang tu Mangka Malimbangun)
Bahan Penelaahan Alkitab, 24 – 29 April 2017
BERSUKACITA KARENA BERJUMPA TUHAN YANG BANGKIT
(Parannu Belanna Sitammu Puang tu Mangka Malimbangun)
(1 Petrus 1:3-9)
Pembimbing:
Surat Filipi, yang ditulis oleh Paulus, sering disebut surat sukacita; karena berisi ungkapan-ungkapan sukacita Paulus sebagai pengikut Kristus. Namun demikian, label “surat sukacita” juga dapat dikenakan kepada surat 1 Petrus yang ditulis langsung oleh rasul Petrus. Kemungkinan besar Petrus menulisnya dari Roma pada tahun 60-63 M, setahun sebelum pertumpahan darah yang mengerikan oleh Nero dimulai (th. 64 M). Suasana teror dan intimidasi yang dialami orang Kristen pada waktu itu sangat mencekam. Namun demikian, hal tersebut tidak menyurutkan sukacita Petrus memberitakan Kristus. Petrus menulis surat pengharapan yang penuh dengan sukacita ini untuk memberikan kepada orang percaya pandangan yang ilahi dan abadi bagi kehidupan di bumi. Ia berusaha memberikan bimbingan kepada umat Kristen yang mulai mengalami penderitaan yang berat sebagai orang Kristen di dalam masyarakat kafir.
Dalam bacaan hari ini, terdapat beberapa kata yang mengisyaratkan kesukacitaan: “Terpujilah” (ay.3) dan “bergembiralah…” (ay.6). Alasan untuk memuji Tuhan sangat jelas, yaitu karena Tuhan sudah menyelamatkan mereka/kita melalui kebangkitan Yesus Kristus. Keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita seharusnya menyebabkan kita memuji Tuhan, kendati apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Kita hanya mungkin bisa bersukacita/bergembira sekalipun mengalami berbagai-bagai pencobaan, apabila kita memandang dan mengarahkan pikiran kita pada keselamatan dan warisan kita di sorga.
Pertanyaan Diskusi:
1. Apa yang membuat kita seringkali tidak dapat bersukacita menjalani kehidupan ini? Kemukakan alasan dan contohnya. (Bila perlu, untuk memperkaya diskusi tentang hal ini, pelayan membaca bahan khotbah hari minggu kemarin dan mengembangkan pemahamannya tentang hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow). (Apara tu nenne’ tangdipomatana ullingkai te katuoan?Pokadai tu susinna sia ma’apari to?) Basai sule tu ulelean allo minggu , umba susi siulangna tu kaparalluan situru’ tu nasanga Abraham Maslow)
2. Bacalah ayat 7. Di situ tertulis “…iman lebih tinggi daripada emas…” Apakah hal itu benar bagi saudara? Bukankah emas (harta) lebih bernilai daripada iman? Mengapa orang pada jaman ini tampaknya cenderung lebih memilih bersukacita dengan emas/harta benda daripada iman? (Basai tu ay 7. Dipokada kumua ….Kapatonganan mandu keangga' na iatu bulaan….Tongan raka te kada situru’ pahangta? Tae’ raka anna mandu keangga’ tu bulaan ba’tu eanan anna kapatongan ? Matumbai anna lan lino totemo inang mandu napoparannu tau tu unnampui bulaan sia eanan anna ia tu kapatonganan
Diposting tanggal 29 Mar 2017
