Rabu, 30 Januari 2019 Yeremia 36:27-32 KRITIK ITU KEBUTUHAN Diparallui tu pa’timbangan
Rabu, 30 Januari 2019 Yeremia 36:27-32
KRITIK ITU KEBUTUHAN
Diparallui tu pa’timbangan
Ada peribahasa mengatakan, “Manis jangan lekas ditelan, pahit jangan lekas dimuntahkan”. Artinya kata-kata manis atau sanjungan dan pujian jangan terlalu cepat dipercayai. Sebaliknya pula, kata-kata yang keras atau kritik jangan cepat ditolak, sebab biasanya bemaksud baik.
Perikop ini mengisahkan, bahwa ketika mendengar nubuat Firman Tuhan yang dituliskan oleh Barukh langsung dari mulut nabi Yeremia, raja Yoyakim justru menanggapi perkataan Tuhan itu dengan amarah. Bahkan tanpa merasa bersalah, ia membakar gulungan kitab itu setiap selesai dibacakan. Ia tidak ingin mendengarkan nubuatan, bahwa raja Babel akan datang memusnahkan negeri dan melenyapkan dari dalamnya manusia dan hewan. Akibatnya Yoyakim tidak akan mempunyai keturunan yang akan menduduki takhta Daud. Berbagai malapetaka yang lain juga akan ditimpakan kepadanya sebagai akibat kedegilan hatinya itu. Tentu disayangkan, sebab maksud dari Firman Tuhan itu sesungguhnya untuk kebaikan mereka, yakni agar mereka bertobat Allah dan akan mengampuni dosa mereka (ay. 3)
Kritik itu sesungguhnya merupakan kebutuhan, sekalipun tentu akan memunculkan perasaan tidak nyaman, khususnya bagi yang menerima kritikan. Karena itu kritik sebaiknya ditanggapi dengan positif, yakni dengan melihat hal tersebut sebagai cermin untuk mengevaluasi diri demi melakukan hal yang lebih baik lagi di masa mendatang. Kritik tidak harus membuat kita marah, apalagi bereaksi melakukan hal-hal berlebihan yang justru makin keliru. Kalaupun kritik yang diterima dipandang kurang tepat atau cenderung berlebihan, kita tentu dapat menjawabnya secara bijak dan dengan semangat untuk terus memperbaiki diri bersama.
Diposting tanggal 29 Jan 2019
