Bahan Khotbah Minggu ke-13 Tanggal 31 Maret 2019 Prapaskah IV CELA YANG TERHAPUSKAN (Diseroimo tu kamaruttakan )
Bahan Khotbah Minggu ke-13 Tanggal 31 Maret 2019
(Prapaskah IV)
CELA YANG TERHAPUSKAN
(Diseroimo tu kamaruttakan )
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 32:1-7 |
| Bacaan 1 | : Yosua 5:1-12 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 2 Korintus 5:16-21 |
| Bacaan 3 | : Lukas 15:11-32 |
| Nas Persembahan | : Maleakhi 3:10 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 2 Korintus 5:17 |
Tujuan :
- Jemaat menyadari bahwa cela manusia karena dosa telah terhapus oleh anugerah Allah.
- Jemaat menghidupi anugerah Allah dengan hidup sebagai ciptaan baru.
Pemahaman teks
Mazmur 32:1-7, Pemazmur merasa dikejar-kejar oleh kesalahan yang pernah ia lakukan, ia berusaha untuk menyembunyikannnya, tetapi ia merasa tangan Tuhan begitu kuat menekannnya (ay. 3-4). Tangan Tuhan yang menekan itu adalah tanda kasih Tuhan yang menuntun hambaNya tiba pada pertobatan, sehingga akhirnya dia datang kepada Tuhan mengakui dosanya: “dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidak kusembunyikan….” (ay. 5). Pemazmur sangat lega, karena Tuhan berkenan mengampuni dosanya; itulah sebabnya ia berkata: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi. Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitunkan Tuhan kepadanya” (ay.1-2).
Yosua 5:1-12, Bangsa Israel sudah menginjakkan kaki di negeri perjanjian Kanaan. Masuknya mereka di negeri pernjian dengan cara menyeberangi sungai Yordan secara ajaib (psl. 3-4) sama seperti penyeberangan laut Tiberau (Kel. 14:15-31). Peristiwa penyeberangan yang ajaib itu membuat tawar hati bangsa-bangsa Kanaan (ay. 1). Sesudah peristiwa penyeberangan itu Tuhan memerintahkan Yosua menyunat seluruh laki-laki Israel. Musa diperintahkan membuat pisau dari batu dan menyunat orang Israel :”sunatlah lagi orang Israel itu untuk kedua kalinya” (ay. 5). Orang-orang Israel yang masuk negeri Kanaan adalah generasi kedua yang belum disunat, sementara generasi yang keluar dari Mesir semuanya telah binasa dipadang gurun karena doa pemberontakan mereka; 40 tahun di padang gurun sunat tidak dilaksanakan.
Sesudah Yosua menyunat semua laki-laki bangsa itu, maka berfirmanlah Tuhan tentang umat itu : “ Hari ini telah kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu” (ay. 9). Cela Mesir menunjuk kepada dosa penyembahan berhala mereka sebagaimana orang Mesir, dan yang membuat mereka selalu ingin kembali ke Mesir, ketika mereka menghadapi masalah. Dosa penyembahan berhala atau pemberontakan mereka yang menyebabkan mereka tidak disunat. Sunat adalah tanda perjanjian yang ditetapkan Tuhan. Kini umat itu disunat berarti Allah dalam anugerahNya telah mengambil prakarsa menarik umat itu kedalam perjanjian dengan diri-Nya. Tempat melaksanakan sunat itu diberi nama Gilgal, yang berarti “menggelindingkan”, mengandung arti bahwa cela umatNya telah digelindingkan jauh, dijauhkan, disingkirkan. Sesudah peristiwa sunat, maka umat Israel merayakan paskah. Dengan perayaan paskah itu mereka mengingat peristiwa dimana Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir. Perayaana paskah ini myekinkan umat Israel bahwa Tuhan sungguh telah mebebaskan mereka dan memberikan negeri perjanjian Kanaan kepada mereka. Bukan hanya itu, merekapun langsung memakan hasil bumi negeri itu, mengolahnya menjadi roti tidak beragi. Peristiwa ajaib penyeberangan sungai Yordan, peristiwa sunat dan makan hasil negeri Kanaan adalah tanda bahwa Yahweh tetaplah Tuhan bagi bangsa Israel dan Israel tetaplah umat bagi Tuhan.
2 Korintus 5:16-21, berisi kesaksian rasul Paulus mengenai cara Alah menyelesaiakan dosa manusia, yaitu dengan jalan memberikan Anak TunggalNya, Yesus Kristus, sebagai perantara yang mendamaikan kita dengan diriNya. Oleh peristiwa pendamaian itu, maka setiap orang percaya telah menjadi manusia baru :” Jadi barang siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang “ (ay. 17) yang memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yang baru di dalam Kristus.
Lukas 15:1-3; 11b-32, Perumpamaan yang disampaikan Yesus sebagai tanggapan atas sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut karena Yesus bergaul dan makan dengan orang-orang berdosa”. Yesus mengisahkan seorang Bapak yang punya dua orang anak dengan karakter yang amat berbeda.
Anak bungsu meminta hak warisannya kepada ayahnya. Walaupun dalam adat istiadat Yahudi, hak warisan baru dapat diambil setelah sang Bapak meninggal, namun anak bungsu sudah memintanya dan sang Bapa memberikannya. Si bungsu pun menjual semua haknya dan pergi meninggalkan rumah Ayahnya dengan hidup berfoya-foya dan akhirnya jatuh melarat yang akhirnya menjadi penjaga babi bahkan ingin makan dari ampas makanan babi. Dalam kemelaratannya, ia teringat akan keadaan dirumah Bapanya yang tak ada kekurangan makanan sedikirpun. Maka ia memutuskan untuk kembali meminta maaf kepada Bapanya dan siap bekerja sebagai upahan di rumah Bapanya. Ia pun bangkit dan pergi untuk menjumpai Bapaknya.
Ketika Bapanya melihat anaknya dari jauh, maka hatinya tergerak oleh belas kasihan, iapun berlari menyambut anaknya itu memeluknya, menciumnya dan memerintahkan hambanya untuk mengenakan kepadanya jubah, cincin dan sepatu, serta mengadakan pesta dengan sukaria. Dalam kisah ini, subjek utama adalah Sang Bapa, bukan pada anak yang hilang dan kemudian kembali, tetapi Sang Bapak yang tergerak oleh belas kasihan, yang segera berlari dan menyambut anak bungsunya yang tersesat sebelum ia mengaku dosa dan keselahannnya, memeluknya,mengenakan jubah, cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya, dan kemudian berpesta ria. Kata Sang Bapak : “sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali (ay. 24). Sikap Sang Bapa dalam kisah ini, dipakai Yesus untuk menggambarkan sikap Allah yang penuh kasih kepada manusia, yang tergambar dalam sikap Yesus yang menyambut dan bergaul dengan orang berdosa, bahkan yang kemudian mati demi untuk orang berdosa.
Anak sulung, yang tinggal siang malam dengan Bapanya, menolak kembalinya adiknya. Ia marah terhadap Bapanya yang yang mau menerima kembali adiknya yang dinilainya tidak layak lagi untuk diterima di rumah Bapa. Ia merasa diri benar dan hanya dialah yang mesti dikasihi Bapanya. Inilah sikap orang Parsi dan ahli taurat yang merasa diri kelompok orang benar, yang suci dan layak dihadapan Bapa. Orang berdosa, seperti pemungut cukai perempuan sundal, tidak layak dihadapan Bapa, karena itulah dijauhi dalam pegaulan hidup sehari-hari. Sikap anak sulung juga sering menjadi sikap kita dalam kehidupan sehari-hari.
Korelasi keempat Pembacaan.
Dosa membuat manusia tercela dihadapan Allah penciptanya, yang menyebabkan Allah murka terhadap manusia. Tetapi oleh kasihNya Allah menyatakan anugerah pengampunanNya yang dinyatakan dengan kesediaan menyambut orang yang berdosa dan mendamaikannya dengan diriNya dan menjadikannya manusia baru melalui pengorbanan Anak TunggalNya, Yesus Kristus.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan.
Pertama: Cela manusia, Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “cela” berarti: Sesuatu yang menyebabkan kurang sempurna; cacat; kekurangan, juga berarti aib atau noda”. Allah memanggil bangsa Israel menjadi umatNya dengan membawa bangsa itu keluar dari Mesir, agar beribadah kepada Tuhan. Tuhan memberikan hukum untuk menjadi pedoman hidup sebagai umat Tuhan. Tetapi bangsa Israel tidak setia. Mereka memberontak dengan menyembah berhala sebagaimana cara hidup mereka di Mesir. Semangat berhala Mesir begitu kuat mempengaruhi mereka dalam perjalanan di padang gurun yang nyata melalui sikap mereka yang selalu ingin kembali ke Mesir. Akibat dari pemberontakan – pemberontakan mereka,Tuhan menghukum semua generasi pertama yang keluar dari Mesir. Sikap Israel yang hidup dalam pemberontakan adalah juga gambaran hidup kita sehari-hari sebagai orang yang menyebut diri beriman kepada Tuhan.
Kedua: Kasih Allah yang membebaskan dari cela. Sekalipun Allah telah membinasakan generasi pertama dari bangsa itu karena cela mereka, tidaklah berarti bahwa Allah gagal pada rencanaNya. Ia memelihara dan mengizinkan generasi yang lahir di padang gurun untuk memasuki negeri perjanjian. Allah tetap setiap pada janjiNya, bahwa Israel adalah umatNya dan tanah Kanaan adalah milik pusaka umatNya. Peristiwa penyebarangan sungai Yordan secara ajaib, adalah peristiwa yang menegaskan ulang bahwa Yahweh tetaplah Allah bagi bangsa Israel, dan Israel tetaplah umat Allah.
Setelah bangsa itu berada di dataran Yeriko, maka Tuhan memerintahkan Yosua untuk menyunat semua laki-laki dari bangsa itu. 40 tahun di padang gurun sunat tidak dilaksanakan sebagai akibat dari dosa pemberontakan yang terus terjadi dalam hidup mereka. Bangsa itu disunat adalah tanda bahwa Allah mengembalikan bangsa itu ke dalam hubungan perjanjian dengan diriNya. Sesudah penyunatan itu Tuhan berfirman : “ Hari ini telah kuhapuskan cela Mesir dari padamu” (ay. 9). Menghapuskan cela Mesir berarti uhan telah mengamuni dosa pemberontakan umat itu. Tempa itu diberi nama “Gilgal” yang berarti menggelindingkan. Cela Mesir, dosa umat itu, telah digelindingkan jauh dari mereka. Semua karena kasih, karena kemurahan Allah, anugerah Allah.
Tindakan anugerah Allah yang menjauhkan cela Mesir, secara konkrit dinyatakan dalam diri Kristus, yang dalam hiup dan pelayananNya menggambarkan sikap Allah yang penuh kasih, menyambut orang-orang berdosa dan mengampuni mereka, bahkan yang berkorban sebagai korban pendamaian. Oleh korban Kristus kita telah menjadi anggota keluarga Allah (umat Allah) tanda dan meterai dari itu ialah “Baptisan Kudus”. Adakah kita mengamini bahwa cela kita telah dihapuskan?
Ketiga: Mengalami dan menghidupi hidup baru. Sesudah Tuhan menjauhkan cela umatNya dengan membawa mereka kembali kedalam perjanjian kekal, maka orang Israel merayakan paskah. Perayaan paskah adalah pembebasan dari Mesir. Perayaan paskah ini menegaskan keyakinan bangsa Israel bahwa Tuhan benar-benar telah membebaskan mereka dari Mesir, dan Tuhan telah memberikan negeri itu yang dinyatakan dengan makan hasil dari negeri itu. Umat Israel dibebaskan untuk menjalani suasana hidup baru sebagai Umat milik Tuhan. Masih banyak tantangan yang dihadapi seperti perang melawan bangsa-bangsa yang mendiami negeri itu, tetapi kini mereka melangkah dengan pasti bersama Tuhan.
Kita telah dibebaskan oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitanNya. Kristus telah menjadikan kita manusia baru. Kita dipanggil melangkah memasuki masa depan bersama Tuhan. Dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus kita akan terus mengalami dan menikmati hidup baru sebagai milik Kristus. Roh Kudus akan menolong kita untuk bangkit dari kelemahan-kelemahan iman kita seperti anak bungsu yang tidak mau tinggal dalam keterpurukannya, tetapi mengambil skap bangkit dan pergi kepada Bapanya. Roh Kudus menolong kita untuk terus menyatakan kasih dan pengampunan kepada sesama serta menuntun sesama datang kepada Tuhan dan mengalami hidup baru. Dalam kenyataannya kita banyak kali mengambil contoh dan sikap anak sulung, yang tidak ingin orang lain mengalami kuasa dan kasih Tuhan.
Diposting tanggal 26 Mar 2019
