Senin, 18 Maret 2019 Keluaran 33:1–23 AKRAB DENGAN TUHAN Sikadamak Puang Matua
Senin, 18 Maret 2019 Keluaran 33:1–23
AKRAB DENGAN TUHAN
Sikadamak Puang Matua
Bagaimana perasaan saudara saat berjalan berdampingan dengan seseorang yang saudara andalkan dalam kehidupan ini? Tentu saja kita akan merasa aman, tenteram dan tenang. Itulah yang dirasakan oleh setiap orang percaya yang senantiasa berjalan berdampingan dengan Tuhan.
Setelah peristiwa anak lembu emas, Musa membentangkan sebuah kemah di luar perkemahan orang Israel agar setiap orang yang mencari Tuhan dapat datang ke kemah itu (ay. 7). Ini merupakan anugerah bagi bangsa Israel (ay. 5), mengingat mereka adalah bangsa yang telah berdosa terhadap Tuhan. Dosa menghalangi keakraban mereka dengan Tuhan. Namun anugerah-Nya tetap nyata bagi mereka melalui kemah pertemuan. Di kemah pertemuan itu, Tuhan berbicara dan menyatakan janji penyertaan-Nya kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temanya (ay. 11). Hal ini menunjukkan keakraban antara Tuhan dengan Musa, bukan semata-mata teofani (Penampakan atau Penyataan). Keberanian Musa meminta untuk melihat kemuliaan Tuhan dan kesediaan Tuhan mengizinkan Musa untuk melihat belakang-Nya, menunjuk eratnya keakraban antara Musa dengan Tuhan.
Akrab dengan Tuhan hanya boleh terjadi karena anugerah-Nya, dan anugerah itu harus direspons dengan penyembahan dan ketaatan kita pada kehendak-Nya. Untuk menjadi akrab dengan Tuhan, tentu tidak harus selalu melihat dengan mata jasmani, melainkan cukup dengan merasakan dan menikmati hadirat Allah. Di dalam Kristus, kita dapat bergaul akrab dengan Allah, melalui persekutuan pribadi dengan Allah setiap waktu. Keakraban dengan Tuhan harus mewujud dalam cara hidup suci serta taat pada kehendak-Nya.
Diposting tanggal 08 Mar 2019
