Bahan Khotbah Minggu ke-14 Tanggal 14 April 2019 Prapaskah VI TETAPLAH RENDAH HATI (Tontongko Umpamadiong Penaa)
Bahan Khotbah Minggu ke-14 Tanggal 14 April 2019
(Prapaskah VI)
TETAPLAH RENDAH HATI
(Tontongko Umpamadiong Penaa)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 118:19-29 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 50:4-9 |
| Bacaan 2 | : Filipi 2:1-11 |
| Bacaan 3 | : Lukas 19:28-44 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 57:10 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Filipi 2:2-4 |
Tujuan:
- Warga Jemaat mengerti dan memahami arti Kerendahan Hati Yesus
- Warga Jemaat Menghidupi Kerendahan hati Yesus
Pemahaman Teks
Mazmur 118:19-29 berisi puji-pujian yang dinyanyikan oleh umat Israel ketika mereka dalam peziarahan ke Yerusalem melakukan perayaan besar. Mulai dengan Mazmur 114, kemudian Mazmur 115, 116, 117 dan terakhir Mazmur 118, saat rombongan besar memasuki kota Yerusalem. Mazmur ini menempatkan TUHAN sebagai pusat dan satu-satunya pemilik dan penentu segala yang menghidupakan dan menyelamatkan. Sukacita memasuki Yerusalem terungkap dalam syair demikian: “Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN” (ay. 26). Syair ini muncul dengan tambahan “...sebagai raja...” dalam pujian-pujian yang dinyanyikan saat menyembut Yesus masuk Yerusalem (Luk. 19: 38)
Dalam bagian Mazmur ini, kata “TUHAN” muncul sebanyak 10 kali, disebut dalam bentuk orang kedua (Engkau, -Mu) empat kali dan dalam bentuk orang ketiga ( Dia, -Nya) sebanyak dua kali. Apa yang dilakukan TUHAN adalah : (1) menjawab (doa), (2) menerangi, (3) menjadikan hari, memberi hidup, (4) menyelamatkan, memberi kemujuran. TUHAN yang adalah Allah membuat perkara besar: membuat yang dianggap tak bernilai dan terbuang (batu) menjadi yang pokok dan menentukan: batu yang terbuang menjadi batu penjuru). Allah yang sedemikian itu adalah Allah yang kasi setia-Nya kekal (selama-salamnya). Hanya Dia sajalah alamat segala syukur, pengorbanan dan doa.
Yesaya 50:-4-9 merupakan nubuat Yesaya sebagai nabi ikut yang telah mengalami tekanan berat dalam kehidupan sebagai pribadi dan warga umat Israel yang hidup di pembuangan. Dalam konteks demikian, Yesaya sebagai nabi, sekaligus, sebagai representasi umat Allah, diperlakukan dan bersikap sebagai hamba yang taat sepenuhnya karena ia telah mendengar dan yakin sepenuhnya bahwa keberadaannya dijamin oleh Allah, Penolong, dan yang menyatakan kebenaran (menyatakan ia benar). Itulah murid sejati, yang berlaku sebagai hamba. Penderitaan karena perlakuan keji tidak membuat ia mundur dan berpaling. Sebagai nubuatan, gambaran murid (hamba) yang taat ini menunjuk kepada Mesias yang akan datang sebagai hamba yang taat sepenuhnya, mengalami penderitaan yang tiada bandingnya, sebab tidak ada jalan lain untuk menyelematkan dunia ini. Injil Markus, antara lain, mencatat bagaimana Yesus mengalami perlakuan seperti digambarkan dalam Yesaya 50: 6 (Mrk. 10:34).
Filipi 2:1-11 adalah lanjutan dari nasihat Paulus yang mengungkap keprihatinannya tentang masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan jemaat di Filipi, khususnya siskap-sikap pribadi yang mengancam keutuhan jemaat. Pokok nasihatnya adalah mengutamakan dan meneladani Kristus sebagai jalan untuk mewujudkan kesatuan Jemaat dan kehidupan kristiani.
Lukas 19:28-44, dalam seluruh penuturan kisah Yesus dalam kitab-kitab Injil, banyak ditemukan kalimat-kalimat atau pernyataan-pernyataan Yesus yang terasa amat kontroversial, menyorot secara tajam, bahkan ada yang membuat bingung pendengarnya. Dalam kisah ini (dicatat dalam keempat kitab Injil) bukan hanya perkataan Yesus yang mengundang kontroversi, melainkan simbol-simbol, baik tindakan maupun benda yang diginakan. Ada keledai muda tertambat yang belum pernah ditunggangi, ada nama tempat, ada pakaian diapakai sebagai alas dan dihamparkan di jalan. Mengikuti kebiasaan para nabi, ketika kata-kata nubuat telah disampaikan secara berulang, namun umat tidak juga mengerti dan berubah, maka nabi menggunakan berbagai bentuk ekspresi bermakna simbolis, tindakan-tindakan sebagai bentuk bahasa non-verbal. Mislanya mengoyakkan pakaian (1 Raj. 11:29-31), menyembunyikan ikat pinggang (Yer. 11:1-7), mengawini perempuan sundal (Hos. 1:2). Sudah tiga tahun Yesus melakukan pelayanan dan pemuridan secara khusus, namun hingga sejauh itu, orang Yahudi, termasuk murid-murid-Nya belum juga mengerti. Hal Kerajaan Allah dan kemesiasan-Nya masih tetap tersembunyi bagi mata mereka (ayat 42).
Saatnya kian mendekat, dan para muridpun belum mengenal siapa Yesus sesungguhnya, apa makna semua persitiwa dan ajaran Yesus terkait dengan pengharapan umat Israel mengenai Mesias yang akan datang. Kini, Yesus menggunakan model komunikasi dalam bentuk drama teatrikal, menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan secara tegas kepada umum siapa Dia sebenarnya, bahwa Dialah Mesias, Raja yang telah lama dinantikan. Nampaknya semua simbol yang digunakan oleh Yesus adalah simbol-simbol yang biasa dalam kehidupan Israel yakni:
-
Nama tempat: Betfage dan Betani, dan bukit Zaitun (ay. 29). Banyak tempat yang dilalui oleh Yesus, tetapi tiga tempat ini dicatat dalam konteks pejalanan Yesus menuju Yerusalem, suatu perjalanan yang dibayangkan oleh pengikut-Nya sebagai perjalanan menuju takhta kerajaan Israel, perjalanan menuju saat dan tempat diurapi-Nya Yesus sebagai Raja. Betfage artinya rumah buah ara awal/mentah dan Betani berarti rumah ara yang matang. Bukit Zaitun sendiri adalah tempat yang bisa dibayangkan sebagai jalan yang dilalui raja menuju Yerusalem (Zak. 14:4). Dari tempat ini, seluruh kota Yerusalem dapat dilihat dengan jelas, dan sebaliknya kelihatan dengan jelas dari kota Yerusalem (letaknya saling berhadapan). Dari Yerusalem orang dapat melihat pemandangan yang jarang terjadi, yakni adanya pergerakan rombongan yang menyertai calon raja. Dari bukit Zaitun, calon raja dengan rasa yang tak terlukiskan memandang kota idaman yang mengagumkan. Disebutnya nama tempat Betfage dan Betani mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan oleh Yesus tentang kaum sebangsa-Nya: apakah Ia akan menemukan mereka sebagai ara yang matang atau buah ara yang mentah, dan karena itu dikutuki (Matius 21:18-22). Ingatlah bahwa, pohon ara digunakan juga sebagai simbol kesejahteraan (1 Raj. 4:25).
-
Keledai adalah hewan piaraan yang dipakai untuk angkutan. Penggunaan secara khusus adalah menjadi tunggangan raja dalam masa damai (tak ada perang). Berbeda dengan kuda, yang digunakan dalam perang. Keledai muda yang belum pernah ditunggangi tentu memiliki makna khusus. Ada maksud khusus, berbeda dari biasanya. Boleh dikata, dikuduskan untuk suatu tujuan khusus: menyampaikan pesan perdamaian dan rendah hati. Perlu diingat bahwa pada masa itu, menjadi suatu kebanggaan juga bagi seseorang bila keledainya dipinjam oleh seorang raja. Dengan ini Yesus menyatakan dan mengumumkan bahwa Ia datang sebagai raja damai. Dengan cara itu pula terpenuhilah nubuat nabi Zakaria (Zak. 9:9-10)
-
Pakaian sebagai alas kuda dan karpet di jalan yang dilalui Yesus. Penggunaan pakaian dengan cara demikian adalah salah satu pengharagaan tertinggi yang diberikan kepada seorang raja
Yesus hendak menyatakan secara tegas bahwa Dialah Mesias yang dijanjikan dan dinantikan. Kali ini pernyataan hendak ditegaskan melalui rangkaian peristiwa yang biasanya terjadi dalam prosesi menyongsong pengurapan seorang raja. Yesus membuat rencana dan persiapan yang khusus untuk perjalanan menuju akhir di Yerusalem. Sudah saatnya untuk mengumumkan di hadapan umum bahwa Dialah Mesias. Jelas sekali, keberanian Yesus menantang arus yang menentangnya terlihat dalam kisah ini. Betapa tidak, Ia sungguh sadar bahwa perlawanan terhadap-Nya semakin kuat seiring dengan semakin meluasnya dampak dari pengajaran dan pelayanan-Nya.
Persepakatan resmi untuk pembunuhan dan penangkapan-Nya sudah direncanakan dan diumumkan oleh para pemimpin Yahudi (Yoh. 11:57). Dalam situasi demikian, Yesus justru dengan sengaja merencanakan dan mengatur sedemikian rupa, bahkan dramatis, perjalanan-Nya ke Yerusalem dipandang sebagai perjalanan menuju saat dan tempat pengurapan-Nya sebagai Raja. Masuk ke Yerusalem dengan rombongan dan perarakan yang khas untuk prosesi pengurapan, penyambutan ala kerajaan pastlah dipahami sebagai pernyataan terbuka yang menantang siapapun yang hendak menghalangi dan melawan-Nya. Ini semua untuk menyatakan bahwa inilah hari untuk mengumumkan bahwa semakin dekatlah saat yang dinantikan itu, bahwa Yesuslah Mesias. Bayangkanlah peristiwa itu terjadi ketika umat Israel dalam jumlah yang sangat besar berkumpul di Yerusalem untuk persiapan perayaan besar, Paskah dan Hari raya Roti Tak Beragi.
Ketegasan itu dinyatakan juga secara verbal (dengan kata-kata), ketika orang Farisi yang menyertai Yesus meminta-Nya menegor murid-murid-Nya yang menyanyikan syair mazmur: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan,...” (ayat 38). Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.” Dengan ini Yesus menegaskan bahwa inilah harinya, tak ada apapun dan siapun yang dapat menghalanginya.
Kemarahan semua penentang-Nya sebenarnya bersumber pada ketidakmengertian dan perbedaan pandangan dan sikap dalam hal terwujudnya kerajaan yang dikehendaki Allah. Dengan menggunakan keledai, Yesus mengumumkan kerajaan-Nya sebagai kerajaan damai beralaskan kasih yang akan terwujud dengan menaati secara total dan sepenuh-Nya kehendak Bapa-Nya. Untuknya Ia harus mengosongkan diri , menyangkali kemuliaan-Nya sebagai Anak, merendahkan diri, rela mengorbankan segala-Nya (Fil. 2:6-8) untuk menanggung dosa dan maut, menggantikan dan menebus manusia.
Manusia (orang Yahudi) menolaknya karena mereka memahami dan menantikan terwujudnya kerajaan Israel yang menaklukkan segala kerajaan di dunia ini. Karena itu yang mereka harapkan adalah perlawanan dan perang terhadap penjajah. Terhadap pandangan dan sikap demikian, Yesus menyatakan (menubuatkan) apa yang akan terjadi kemudian sebagai akibat dari pilihan yang salah ini (baca ayat 43-44). Sebagai penulis, yang menulis Injil sesudah kejatuhan dan kehancuran Yerusalem pada tahun 70, Lukas meyakini bahwa peristiwa itu telah dinubuatkan oleh Yesus, ketika kaum sebangsanya tetap menolak kerajaan damai yang ditawarkan dan dinyatakan-Nya. Keruntuhan Yerusalem adalah akibat dari pilihan menolak Yesus dan memilih jalan pemberontakan melalui perang.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
-
Bukan Perang, bukan kekuasaan
Umat manusia, sebagaimana halnya orang Yahudi pada zaman Yesus, umumnya menghendaki terwujudnya damai sejahtera dengan cara sebagaimana yang mereka pikirkan: kerajaan yang ditata secara duniawi dalam kebenaran dan keadilan sebagaimana diyakini. Cara-cara yang biasa untuk semua kerajaan pun dipakai. Pasukan berkuda, kereta perang, penaklukan, dan berbagai cara merebut dan mempertahankan kekuasaan demi melindungi diri dan membangun kehidupan duniawi menjadi hal normal. Dalam konteks demikian, jalan Tuhan: kerajaan (kemesiasan) yang bersifat rohani dengan misi kedamaian beralaskan kasih sayang menjadi tak terterima. Dengan mengendarai keledai, Yesus menyatakan jalan lain yang dikehendaki Bapa-Nya: kerajaan damai yang hanya mungkin terwujud dengan pengorbanan diri Anak tunggal-Nya, pengorbanan karena kasih untuk dunia yang berdosa. Pengorbanan yang hanya mungkin karena kasih yang memberi diri (beranugrah). Pemberian diri yang hanya mungkin karena penyangkkalan kemuliaan/pengosongan diri untuk menjadi hamba yang taat sampai mati.
-
Akuilah Yesus sebagaimana dikehendaki-Nya
Mengaminkan karya penyelamatan Kristus melalui pengakuan iman dalam liturgi dan kata-kata dalam hidup sehari-hari mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi amatlah sering kita mengalami kesulitan untuk mengakui Dia sebagaima Ia menghendaki-Nya. Ia menghendaki kita menerima-Nya, dan karena itu mengakui jalan yang dilalui-Nya untuk menyelamatkan kita. Murid-murid Yesus masih terjebak dalam pemahaman dan pengharapan mesianis orang Yahudi, maka mereka menghendaki Yesus menjadi Mesias sebagai yang mereka harapkan. Mereka mau mengakui Yesus sebagai Mesias tetapi seperti yang mereka kehendaki, bukan seperti yang Yesus sendiri kehendaki. Kita tergoda untuk membangun kerajaan bagi diri dan kelompok kita sendiri sebagimana yang kita impikan dan kehendaki. Keinginan berkuasa dan diakui sebagai raja kecil, ingin dipuji dan dihormati sebagai penentu, membuat kita sulit mengalami kerajaan damai beralaskan kasih sayang. Dalam hal ini, nasehat Paulus kepada orang Kristen di Filipi untuk meneladani Yesus menjadi sangat relevan (Fil. 2: 5-8).
-
Merendahkan diri (rendah hati) tak mengurangi apapun
Yesus ditinggikan justru karena Ia datang dan memerintah dalam damai dengan kasih. Tak satu bagian pun pada diri-Nya yang menjadi buruk dan memalukan hanya karena Ia mengalami segala bentuk perlakuan buruk. Mengikut Yesus dengan setia melalui jalan yang telah dilalui-Nya adalah tidak lazim di dunia ini. Kalau kita ditolak, dihina dan bahkan diperlakukan tidak wajar karena memilih jalan-Nya, itu tidak akan mengurangi apapun. Tetaplah rendah hati dan menjadi pembawa damai, apapun masalahnya dan bagaimanapun situasinya karena itulah jalan Yesus untuk mewujudkan kerajaan-Nya.
Diposting tanggal 11 Apr 2019
