Bahan Khotbah Minggu ke-18 Tanggal 3 Mei 2020 Hardiknas dan Hari Buruh Internasional GEMBALA DAN PEMELIHARA JIWAMU To Mangkambi' sia to Ungkatirinnai Deatammi
Bahan Khotbah Minggu ke-18 Tanggal 3 Mei 2020
Hardiknas dan Hari Buruh Internasional
GEMBALA DAN PEMELIHARA JIWAMU
(To Mangkambi' sia to Ungkatirinnai Deatammi)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 23:1-6 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 2:41-47 |
| Bacaan 2 | : 1 Petrus 2:18-25 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Yohanes 10:1-10 |
| Nas Persembahan | : Ulangan 16:16b-17 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Matius 28:19-20 |
Tujuan
1. Jemaat memahami Tuhan sebagai Gembala dan Pemelihara jiwa umat-Nya.
2. Jemaat menjadikan dirinya sebagai gembala dan pemelihara jiwa sesamanya.
Pemahaman Teks
Mazmur 23:1-6 merupakan mazmur pengakuan Daud tentang Allah sebagai Gembala yang baik. Pengakuan ini kemungkinan besar dilatarbelakangi oleh peristiwa ketika Daud dikejar-kejar oleh Saul. Sekalipun ada juga yang mengatakan ini adalah Mazmur yang dinyanyikan Daud, karena Allah melepaskannya dari Absalom. Yang jelas Mazmur ini berisi kepastian akan kelepasan yang Tuhan sediakan dalam kesulitan terbesar yang dihadapi Pemazmur. Pemazmur memposisikan dirinya sebagai domba yang membutuhkan gembala yang baik untuk menjalani kehidupannya. Sebagai domba maka ia harus mempercayai gembalanya untuk memberikan kebahagiaan dan juga kehidupan baginya. Seekor domba akan tergantung sepenuhnya kepada tuntunan gembalanya supaya dapat menjalani kehidupan dengan baik dan peran Daud sebagai domba adalah percaya kepada tuntunan Gembalanya.
Kisah Para Rasul 2:41-47 mengisahkan betapa sejak turunnya Roh Kudus terjadi perubahan dahsyat dalam kelompok orang percaya. Ada tiga ribu jiwa yang mendengarkan khotbah Petrus dan bertobat lalu memberi diri dibaptis. Tapi tidak berhenti disitu saja, selanjutnya mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kis. 2:42). Artinya memiliki kehidupan persekutuan. Kata “persekutuan” dalam kehidupan jemaat mula-mula diterjemahkan dari kata Yunani Koinonia, yang secara harafiah berarti “memiliki atau berbagi suatu hal bersama”. Roti yang mereka miliki dipecah-pecah sebagai tanda berbagai sumber daya, dan doa yang dipersembahkan sebagai tanda syukur atas segala rahmat dan pemeliharaan Allah atas kehidupan koinonia. Persekutuan yang dilakukan itu ternyata menginspirasi serta memikat banyak orang untuk datang dan beroleh selamat. Mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka yang diselamatkan (ay.47). Dalam semua praktek hidup mereka, dilakukan dengan sikap hati yang baik, saling mengasihi, saling peduli dan berbagi. Mereka juga membangun hubungan dengan Allah dan masyarakat dengan cara yang tepat.
1 Petrus 2:18-25 berisi peringatan Rasul Petrus tentang panggilan hidup orang Kristen, bahwa orang Kristen dipanggil tidak hanya untuk menerima kebahagiaan tetapi juga untuk menderita di dalam Kristus. Penderitaan di dalam Kristus adalah karunia Allah. Penderitaan ini dapat diterima dengan kesadaran bahwa Tuhan mengetahui dan mengambil bagian dalam penderitaan hamba-hamba-Nya. Penderitaan Kristus menjadi teladan bagi hamba-Nya, dan karena itu hamba-hamba-Nya pun wajib mengikuti jejak-Nya. Yesus mengalami penderitaan bukan karena Yesus melakukan dosa, bukan karena Yesus menipu, tapi Dia rela menanggung semuanya itu tanpa membalas caci maki dengan caci maki, tidak mengancam, namun menyerahkan perkara-Nya kepada Dia, Hakim yang adil.
Yohanes 10:1-10 adalah perumpamaan Yesus yang menggambarkan pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari seorang gembala. Setiap hari gembala itu memasuki kandang melalui pintu, bukan dengan memanjat dari tempat lain. Lalu ia membawa kawanan dombanya ke luar, ke tempat yang banyak rumputnya. Seorang gembala harus melindungi kawanan domba itu dari penyamun dan serigala. Pada malam hari Ia membawa kawanan domba itu pulang ke kandangnya. Hal ini mengambarkan Tuhan sebagai gembala atas kehidupan umat-Nya yang tidak berlangsung secara sepihak, tapi kedua pihak sama-sama aktif. Artinya, Tuhan bertanggungjawab atas umat-Nya, tetapi kitapun meresponinya secara serius dan cerdas adanya. Dalam ayat 3 di katakan “Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar,” hal ini menggambarkan hubungan di antara gembala dengan umat yang digembalakan. Hasil dari hubungan yang benar di antara gembala dengan umat gembalaannya membuat saling mengenal yang benar dan saling percaya. Dengan demikian menyerahkan diri dalam tuntunan Tuhan sebagai Gembala Agung adalah jaminan hidup yang tak salah arah. Mengikut jejak langkah Tuhan sebagai Gembala Agung akan membuat kita cerdas dalam memilih apa yang berguna dan berfaedah di hidup ini.
Korelasi bacaan: Salah satu korelasi dari teks bacaan leksionari di atas ialah tentang cara hidup umat dalam mengikuti jejak Kristus sebagai Gembala Agung. Mengikut jejak langkah Tuhan sebagai Gembala Agung akan membuat umat cerdas dalam memilih apa yang berguna dan berfaedah di hidup ini. Menyerahkan diri dalam tuntunan Kristus sebagai Gembala Agung adalah jaminan hidup yang tak salah arah.
Garis Besar Khotbah:
1. Ketaatan sebagai ciri hidup orang Kristen
Ketaatan berasal dari kata taat yang berarti senantiasa tunduk (kepada Tuhan, pemerintah, dsb); patuh. Ketaatan tidak dapat dilepaskan dari iman. Ketaatan adalah bagian atau bukti dari iman. Bisa saja ketaatan didasarkan atas motivasi tertentu, tetapi tidak ada cara lain untuk mewujudkan iman kecuali dengan ketaatan. Alkitab menjelaskan orang yang hidup dalam ketaatan sebagai wujud iman mereka. Sekalipun ketaatan itu dapat pudar ketika di perhadapkan dengan tantangan. Firman Tuhan saat ini memperlihatkan kepada kita tentang Ketaatan Yesus yang tidak terpengaruh oleh penderitaan yang dialami-Nya. Di tengah banyaknya orang berusaha menghindari masalah dan penderitaan yang muncul akibat masalah, Yesus justru membuktikan ketaatan-Nya di tengah penderitaan-Nya. Ketaatan Yesus tidak berubah karena ketidaksetiaan para murid. Ketaatan Yesus tidak berhenti karena penolakan. Masa pelayanan Yesus dimulai dengan pengajaran dan perbuatan yang luar biasa sehingga orang-orang mulai mengagungkan-Nya. Puncak dari semuanya itu terjadi ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Banyak orang mengagungkan Dia dan rela melepaskan jubah untuk dijadikan alas bagi keledai yang ditunggangi Yesus. Namun masa itu tiba-tiba berubah total. Teriakan “Hosana bagi Anak Daud” berubah jadi “Salibkan Dia”. Penolakan makin jelas dengan adanya tuduhan-tuduhan palsu hanya untuk membawa Dia ke kayu salib. Penolakan yang sangat menyakitkan. Tetapi ketaatan Yesus tidak berhenti karena penolakan yang dialami-Nya. Ketaatan Yesus dibuktikan sampai mati. Ketaatan hidup seperti inilah yang juga di praktekkan oleh jemaat mula-mula, ketika mereka di penuhi oleh Roh Kududs, mereka dengan taat dan tekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Ketaatan Daud pun kepada Tuhan dia buktikan dengan mengantungkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai gembala yang baik.
Aplikasi: Nyatakanlah ketaatan kita kepada Tuhan melalui kesetiaan kita melakukan perintah-Nya agar kita mengalami dan merasakan pertolongan dan kasih saying-Nya.
2.Tuhan Gembalaku yang baik
Dalam menjalani kehidupan kita dari hari kehari, ada begitu banyak hal yang membuat kita berada dalam kekuatiran, ketakutan dan rasa tidak nyaman, bahkan dikatakan dalam Tapi bacaan kita saat ini memberikan sebuah pengharapan bahwa setiap orang yang taat kepada Tuhan, tidak perlu takut, kuatir karna Tuhan selalu menjadi gembala yang baik, seperti yang disaksikan oleh pemazmur. Bahkan Yesus sendiri menyatakan diri-Nya sebagai gembala yang baik ( Yoh. 10:11). Sebagai gembala yang baik, pada malam hari ia membawa kawanan domba itu pulang ke kandangnya, Dia melindungi dari serigala, Dia selalu bersedia membuka Pintu untuk dombanya, Dia mencari domba yang tersesat. Dia mengenal nama dan suara domba-Nya dan memanggil sesuai namanya. Sebagai Gembala Agung, Dia memberikan nyawaNya untuk menyelamatkan kita dari hukuman kekal.
Aplikasi: Mungkin saat ini kita berada dalam lembah kekelaman, keterpurukan, kehinaan, kengerian karena jerat si iblis. Datanglah pada Yesus, sebab Dia akan melindungi dan membentengi kita, serta akan menghancurkan kuasa si jahat. Dia mengurapi kita dengan kebajikan dan kemurahan secara melimpah selama-lamanya sehingga kita akan tinggal di rumah Tuhan di sorga dalam kekekalan sepanjang masa: “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3b). Begitu jelas, bahwa Yesus menyediakan tempat bagi kita di sorga.
3.Jadilah gembala bagi sesama
Ketika Yesus naik ke sorga, Yesus memberi tugas dan tanggung-jawab bagi murid-Nya yaitu mereka harus juga menjadi gembala yang baik. Gembala yang baik itu ialah mencari domba-domba yang hilang. Seorang yang diutus oleh Yesus hendaknya percaya bahwa sekecil apapun tugas kita dalam keseharian hidup ini, selalu ada makna yang berguna bagi diri sendiri, sesama, alam semesta dan Tuhan. Kita terlahir di dunia ini bukan secara kebetulan terlempar begitu saja. Namun, kita dilahirkan di dunia ini sudah ada rancangan indah dari sang pencipta yaitu menjadikan kita gembala untuk sesama.
Aplikasi: Dalam hubungannya dengan hari pendidikan nasional dan hari buruh internasional, jadilah juga gembala yang baik bagi anak-anak kita, bagi karyawan-karyawan perusahaan kita, agar merekapun mengalami kehidupan yang damai sejahtera.
Diposting tanggal 30 Apr 2020
