MEMAHAMI LEKSIONARI EKUMENIS
MEMAHAMI LEKSIONARI EKUMENIS
Apa dan untuk apa Leksionari
Leksionari (dari kata Lectio yang berarti baca) adalah suatu kumpulan daftar bacaan Alkitab yang disusun secara ekumenis dan ditujukan untuk memproklamasikan Firman Tuhan dalam ibadah atau liturgi menurut Tahun Gerejawi. (Penjelasan lengkap mengenai Tahun Gerejawi atau Tahun Liturgi dalam hubungannya dengan Leksionari dapat dibaca dalam buku Liturgi Gereja Toraja).
Leksionari merupakan hasil dari upaya gereja Tuhan untuk memproklamasikan Firman Tuhan kepada umat dengan cara menyeleksi bagian-bagian dari Alkitab menurut tahun gerejawi yang berlangsung selama satu tahun dan dapat digunakan secara ekumenis oleh setiap umat yang memiliki latar belakang denominasi, etnis, budaya, dan geografis yang berbeda-beda. Karena itulah, daftar bacaan ini disebut Leksionari Ekumenis.
Tujuan utama adalah pertumbuhan iman. Proses pertumbuhan iman umat tersebut disusun dalam siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga tahun, yaitu tahun A, tahun B, dan tahun C. Tahun A berpusat pada Injil Matius, tahun B berpusat pada Injil Markus, tahun C berpusat pada Injil Lukas. Sedang Injil Yohanes ditempatkan sebagai suplemen di antara tahun A, tahun B, dan tahun C, khususnya pada hari raya gerejawi. Setiap siklus terdapat 52 minggu ditambah dengan 10 hari raya gerejawi yaitu malam Natal, Natal, Tutup Tahun, Tahun Baru, Epifani 6 Januari, Rabu Abu, Kamis putih, Jumat Agung, Sabtu sunyi, dan kenaikan Tuhan Yesus, maka semuanya 62 kali kebaktian. Siklus 3 tahun jadi 186 kali kebaktian. Dengan 4 bacaan maka setiap tiga tahun selesai 744 pasal. Padahal Perjanjian Lama (PL) terdiri dari 929 pasal, PB 260 pasal, jadi 1189 pasal. Jadi hanya 62,57%. Sisanya (37,43%)mesti dipikirkan, karena itu dimuat dalam daily reading.
Leksionari merupakan upaya bagi gereja untuk membangun teologinya secara ekumenis berdasarkan tahun gerewi yang berpusat kepada kehidupan dan karya keselamatan Kristus. Dengan demikian Leksionari hanyalah salah satu dari program pembangunan gereja. Melalui bacaan Leksionari, RCL memfasilitasi umat untuk menghayati karya keselamatan Allah di dalam kehidupan dan peristiwa Kristus secara utuh di dalam lingkaran tahun gerejawi yang dipentaskan dalam Liturgi. Kisah kehidupan dan peristiwa Kristus dirayakan dalam rangkaian ibadah yang terus menerus berulang. Makna “pengulangan” di sini tidaklah identik dengan rutinisme. Sebaliknya, pengulangan itu mengajak umat untuk menjadi sadar akan sesuatu yang penting dan mulia. Kata Ibrani untuk kata “peringatan” adalah zakar yang berarti “menjadi sadar akan sesuatu, atau mengingat. Dalam bahasa Yunani, tindakan mengingat ini disebut anamnesis, yang menunjuk pada pengenanangan karya keselamatan Allah dalam kehidupan umat dengan melibatkan seluruh kedirian dan keberadaan umat untuk melakukan sesuatu sebagai respon terhadap karya Allah pada masa lampau.
Manfaat Leksionari
- Pengkhotbah dipandu untuk menyiapkan materi khotbahnya berdasarkan daftar bacaan Alkitab yang telah tersusun secata sistematis dan sesuai dengan tahun gerejawi
- Hubungan tradisi antara gereja masa kini dengan gereja awal dan sinagoge tetap terpelihara, sehingga gereja di masa kini dapat belajar kekayaan hikmat dari kehidupan umat di masa lampau.
- Ada keseragaman bahan pemberitaan firman yang membebaskan gereja dari batas-batas denominasi, sehingga memungkinkan terjadi dialog ekumenis.
- Pendidikan iman yang dialami oleh umat selama tiga tahun dalam satu siklus, akan diulang kembali dalam siklus berikutnya. Pengulangan pembacaan tersebut akan memperdalam spiritualitas umat.
- Kitab-kitab kanon Alkitab diperlakukan secara lebih seimbang, sebab leksionari terdiri dari kitab-kitab dari Perjanjian Lama, Mazmur, surat Rasuli dan Injil.
- Pada hari raya gerejawi, umat belajar bagaimana hubungan antara berita Injil dengan kitab-kitab di PL dan juga surat-surat Rasuli. Lalu pada minggu biasa, umat belajar hubungan teologis suatu kitab dengan kitab lain yang sejenis dengan pola semi sinambung, misalnya Mingu I dari 1 Samuel 15:34-16:13; lalu pada munggu II dari 1 Samuel 17:1a, 4-11, 19-23), 32-49; Minggu III dari 2 Samuel 1:1, 17-27, dan seterusnya.
Jika tidak menggunakan Leksionari, maka selaku pengkhotbah akan melakukan beberapa hal sbb:
- Memilih dan mengambil suatu teks tertentu menurut penilaian dan kebutuhan kita sendiri. Jarang dilandasi oleh konsistensi untuk membahas seluruh teks dalam kanon Alkitab. Karena itu, kemungkinan besar akan menggunakan perikop atau ayat-ayat tertentu yang lebih subyektif dibandingkan daftar pembacaan Alkitab secara leksionaris.
- Pemilihan teks atau perikop bukan dilakukan secara sistematis dan jarang memedulikan makna kalender gerejawi sepanjang tahun. Pengertian hari raya gerejawi hanya terbatas pada hari raya sesuai kalender yang disahkan pemerintah. Karena itu ayat atau perikop dari minggu ke minggu tidak beraturan dan tidak berkesinambungan. Bahan bacaan dari suatu hari minggu ke hari Minggu yang lain sering tidak memiliki kaitan atau hubungan teologis yang jelas.
- Untuk memenuhi kebutuhan jenis khotbah yang tematis, kita akan cenderung mencari ayat atau perikop yang kita anggap sesuai dengan tema khotbah tersebut. Karena itu kita akan cenderung “memaksakan” pemikiran-pemikiran kita terhadap maksud atau makna dari ayat dan perikop tersebut. Dalam hal ini, kita akan terjebak dalam bahaya dengan pola penafsiran eisegese, yaitu memasukkan ide-ide pikiran kita dengan mencari pembenaran dari suatu ayat.Dengan leksionari, otoritas berada pada Firman, tidak lagi pengkhotbah. Sebab dengan demikian, bukan lagi pengkhotbah yang menentukan bacaan tetapi disediakan bersama berdasarkan tahun gerejawi. Pengkhotbah dan umat memiliki kedudukan yang sama dalam penggunaan teks yang telah disusun secara leksionaris. Pemilihan dan penggunaan bukan lagi hasil dari tindakan individual dengan otoritas tertentu, tetapi terkait dengan publik. Umat memiliki akses dan kemampuan untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu, sehingga umat dapat lebih intensif berpartisipasi dalam kegiatan ibadah.
Tim Penyusun MEMBANGUN JEMAAT 2017
Diposting tanggal 29 Dec 2016
