HIDUP TERBERKATI DALAM KRISTUS (Katuoan tu dipassakke lan Kristus)
Bahan Khotbah Minggu Ke-1 (Tahun Baru) 1 Januari 2017
HIDUP TERBERKATI DALAM KRISTUS
(Katuoan tu dipassakke lan Kristus)
| Mazmur | Mazmur 8:2-10 |
| Bacaan 1 | Bilangan 6:22-27 |
| Bacaan 2 | Galatia 4:1-7 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | Lukas 2:15-20 |
| Nas Persembahan | I Tesalonika 5:18 |
| Petunjuk Hidup Baru | Amos 5:14 |
Tujuan:
1. Menyadarkan warga jemaat tentang status keberdosaan di hadapan Allah dan mengajak jemaat mensyukuri status baru di dalam Kristus
2. Tindakan syukur itu diwujudkan dalam tanggung jawab Pemberitaan Injil dalam rangka mensyukuri 70 tahun Gereja Toraja
Pendahuluan:
Apakah ukuran kita tentang hidup yang diberkati dan tidak diberkati Tuhan? Ukuran setiap orang tentang berkat pastilah tidak sama. Ada orang yang mengukur berkat dari sudut finansial, jabatan yang disandangnya, keberhasilan usahanya, kesuksesan kerja dan lain-lain yang dapat dilihat secara kasat mata. Karena itu jangan kita heran jikalau ada yang merasa tidak terberkati dan diberkati di tahun yang telah berlalu. Namun harus disadari bahwa satu hal yang sering kita lupakan yakni bagaimana mensyukuri berkat anugerah keselamatan yang diterima di dalam Kristus. Hal itu terlupakan karena nilai dan jumlahnya tidak kelihatan secara lahiriah di pelupuk mata kita. Dengan demikian ada satu pertanyaan yang perlu direnungkan, dari manakah kita mengukur hidup yang terberkati dalam Kristus? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita belajar pada perikop pembacaan kita:
Pemahaman teks Alkitab:
Melalui kitab Bilangan 6:22-27, Tuhan berpesan kepada Musa agar berbicara kepada Harun dan anak-anaknya supaya memberkati orang Israel. Dan isi dari pemberkatan itu menyangkut 3 hal yaitu: Mereka yang diberkati adalah yang setia melakukan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Tuhan (Ul.11:26,27).
Pemberian berkat dinyatakan dalam bentuk perlindungan dari kuasa kejahatan dan segala yang merugikan kesejateraan hidup seseorang( ayat 24, bnd.Maz.71:1-6), sinar wajah Tuhan akan nampak baginya, yaitu kebaikan hati, kehendak baik dan kasih karunia kepada umatNya. Dan Allah akan memperhadapkan wajahNya kepada mereka yang yakin akan pemeliharaan dan pemberkatan sepenuh hati. Berkat Allah atas umatNya menghasilkan keselematan yang memancarkan sinar bagaikan obor penerang untuk semua bangsa ( Mzm.67,133,Yeh 34:26).
Pemberkatan itulah yang digenapi Allah melalui kelahiran Kristus di Betlehem yang disaksikan oleh para gembala dalam Injil Lukas 2:15-22. Mereka bergembira atas berkat keselamatan yang telah dilihat dan dinikmatinya. Karena itu pemberitaan mereka tentang kelahiranNya membuat banyak orang semakin takjub dan heran. Berita tentang kelahiran Kristus membawa berkat bagi dunia. Berita itu jugalah yang menjadi pokok pergumualan di jemaat Galatia ketika Paulus menuliskan suratnya ke sana. Adapun beberapa persoalan disekitar penghayatan Jemaat Galatia tentang keselamatan dalam Kristus, adalah sebagai berikut:
- Jemaat Galatia menjadikan pelaksanaan Taurat sebagai syarat keselamatan.
- Warga jemaat yang baru bergabung sebagai pengikut Kristus dipaksakan untuk melaksanakan sunat sebagai prasayarat keselamtan.
Mereka belum memahami dengan benar bahwa hukum Taurat dilakukan sebagai respons syukur atas berkat keselamatan di dalam Kristus. Karena itu, untuk memahami dengan baik bagaimana mewujudkan rasa syukur sebagai orang yang telah terberkati di dalam kristus, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan melaui Galaia 4:1-7.
Pokok-Pokok yang dapat dikembangkan:
1. Orang yang dewasa dalam iman (sudah akilbalig) tidak takluk kepada roh-roh dunia (ayat 1-3)
Melalui perikop ini, Paulus membandingkan posisi anak-anak dengan budak. Bagi Paulus ukuran seorang yang sudah akil balig adalah menaati perintah orang tuanya. Itu berarti jika tidak taat pada perintah bapanya ia masih kanak-kanak. Seperti seorang hamba walaupun ia diberi kekuasaan namun dituntut taat kepada tuannya sebagai pengawas atas kinerjanya. Perhatikan kalimat “ia berada dibawa perwalian dan pengawasan” (ay.2). Paulus mungkin menunjuk pada kebiasaan Romawi, seorang pengawas bertanggung jawab memelihara anak sampai berumur 14 tahun dan seorang wali mengawasi keuangan seorang muda sampai berusia 25 tahun. Jadi Paulus di sini membandingkan hukum Taurat dengan pengawasan atau wali. Itu berarti jika kita masih takluk dibawa pengawasan Taurat, kita baru berusia sekitar 14 tahun atau ibarat pemuda berusia 25 tahun yang harus diawasi, dalam pengertian belum matang imannya kepada Kristus. Kita masih dipengaruhi oleh roh-roh dunia, kehendak batiniah dan kinginan daging. Pola beriman kita bersifat legalistik, sangat fanatis saoal aturan tetapi tidak sanggup melaksanakan aturan dengan penuh sukacita. Karena itu sebagai pribadi yang telah diselamatkan di dalam kristus, kita hidup melakuan firman Tuhan dengan baik dan benar sebagai respon syukur kita atas aunegerah keselamatan dan sekaligus sebagai pewujudan kedewasaan iman di dalam kristus. Hidup seperti itulah yang Firman Tuhan ajarkan kepada kita sebagai gerejanya dalam menyatakan karya-karya kita di tahun baru yang akan kita jalani ke depan.
2. Kristus datang menebus yang takluk kepada Hukum Taurat (4-5)
Kedatangan Kristus sebagai utusan Allah lahir dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat. Artinya Maria ibu Yesus diikat secara legalistik oleh hukum Taurat namun dari dia lahir Kristus yang datang menggenapi hukum Taurat agar kita diterima menjadi anak. Itu berarti melalui penebusan dalam Kristus lewat kematian dan kebangkitanNya kita memperoleh anugerah keselamatan. Dan karena itu terbuka jalan masuk menghadap Bapa (Ibrani 4:16). Orang yang terberkati di dalam Kristus tidak terbebani melaksanakan hukum Taurat. Pelaksanaan Taurat sebagai manifestasi syukur atas keselamatan yang telah diterimi dan dialami di dalam Kristus. Itulah yang patut kita syukuri sebagai warga gereja Toraja yang telah mengalami dan menikmati karya Kristus melalui gerejaNya selama 7o tahun lamanya. Patut disadari bahwa hanya karena Kristuslah kita tidak takluk lagi kepada kuasa-kuasa duniwi yang sering kali melemahkan iman kita untuk menghadirkan tri panggilan gereja di dunia ini.
3. Status baru dalam Kristus yakni dari hamba menjadi anak (6-7)
Melalui pengampunan di dalam Kristus kita layak datang menghadap Allah dengan menyapa “ya Abba , ya Bapa”. Istilah Abba dari bahasa Aram yang artinya Bapa. Makna kata kata “Bapa” mengungkapkan kedalaman perasaan dan kesungguhan serta kehangatan hati dan keyakinan yang dalam melalui pekerjaan Roh kudus dan menyebabkan kita berseru kepada Allah. (Markus 14:36)
Dengan demikian semakin jelas bahwa melalui perubahan status dalam Kristus dari hamba menjadi anak, maka terjadi hubungan akrab antara umat dengan Tuhannya. Karena itu sebagai pribadi yang telah layak datang berseru kepada Tuhan dengan sebutan Bapa, semakin diyakinkan bahwa akan terbangun semangat baru di tahun baru ini untuk semakin setia hidup dalam kehendak Kristus dalam menjalani hidup dan menata setiap pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita dalam berbagai bidang. Kita tidak lagi diliputi sejumlah kekuatiran dalam memperjuangkan masa depan kita. Kendatipun tahun ini adalah tahun yang masih misteri adanya buat kita. Namun hidup di dalam Kristus ada pengharapan yang pasti bahwa bersama Tuhan segala perkara hidup dapat dijalani.Amin (ld)
Diposting tanggal 29 Dec 2016
