BERIBADAH DENGAN CARA PANDANG DAN SEMANGAT BARU
Bahan Khotbah Minggu Ke-5, 29 Januari 2017
BERIBADAH DENGAN CARA PANDANG DAN SEMANGAT BARU
| Mazmur | Mazmur 15:1-5 |
| Bacaan 1 | Mikha 6:1-8 |
| Bacaan 2 | 1 Korintus 1:18-31 |
| Bacaan 3 | Matius 5:1-12 |
| Nas Persembahan | Mikha 6:6 |
| PHB | Matius 5:10 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami tentang beribadah dengan cara pandang dan semangat baru
2. Jemaat semakin meyakini tanggung jawab terhadap perubahan dalam amsyarakat
Penjelasan teks:
Mazmur 15:1-5, Mazmur 15 ini dimulai dengan pertanyaan yang ditujukan kepada Tuhan. “Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus”? (ayat 1). Yang mengajukan pertanyaan adalah umat yang mau datang beribadah di Bait Allah. “Kemah-Mu” menunjuk kepada Bait Allah; “gunung-Mu” menunjuk kepada gunung Sion dan Yerusalem dimana Bait Allah dibangun. Kata “siapa” menunjuk kepada orang, yaitu orang yang memiliki standar atau syarat sesuai yang ditentukan Tuhan sendiri. Hal itu penting karena Allah yang memanggil orang beriman bertemu dengan-Nya adalah Allah Mahasuci dan Mahakudus. Dia adalah tuan rumah, yang menentukan standar atau syarat orang yang layak menjadi tamu Allah. Pertanyaan dalam ayat 1 tentang “siapa…?” dijawab dalam ayat 2 – 5b, yaitu “dia yang memiliki integritas dan hubungan yang benar dengan Tuhan dengan berlaku tidak bercela, melakukan apa yang adil, yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, dan memiliki kebajikan dalam hubungan dengan sesama yaitu: tidak menfitnah, tidak berbuat jahat terhadap sesamanya, tidak menimpakan cela kepada tetangganya, tidak memandang hina orang yang tersingkir, memuliakan orang yang takut akan Tuhan, tidak mengolok-olok orang yang saleh dan tidak menertawakan kesetiaan mereka kepada Tuhan) . Pada ayat 5 menggambarkan janji keselamatan atau jaminan bahwa “siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya”. Kesimpulan Mazmur 15 adalah bahwa betapa eratnya hubungan antara doa dan hidup sehari-hari, antara ibadah (di Bait Allah) dan melakukan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah yang benar adalah ibadah yang didukung oleh keseluruhan hidup orang percaya.
Mikha 6:1–8 Pengaduan Allah. Allah menggugat, memperkarakan dan mengadukan umat-Nya (ay.1-2) dan alam diminta menjadi yurinya. Apa yang menjadi gugatan Allah terhadap umat-Nya? Gugatan-Nya adalah: Karena umat-Nya memutuskan hubungan dengan Tuhan dengan melakukan apa yang jahat dimata Tuhan sementara Tuhan sendiri tetap setia, karena itu Ia tetap menyebut Israel umat-Ku (ay.3). Tuhan mengemukakan keluhannya dan sekaligus pertanyaan kepada umat-Nya: “Umat-Ku, apakah yang telah kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah kulelahkan?. Dalam ayat 4-5 Tuhan sendiri memberitahukan dan mengingatkan apa yang telah Ia lakukan dalam sejarah umat-Nya. Perbuatan–perbuatan Tuhan itu dimaksudkan supaya mereka mengenal keadilan dari Tuhan. Dalam ayat 6–7 umat menyadari kesalahan dan dosa-dosanya, namun mereka beranggapan bahwa dosa-dosa itu bisa diselesaikan dengan cukup beribadah, memberikan korban persembahan. Dengan kata lain: mereka mau berusaha menyenangkan hati Allah dengan persembahan-persembahan mereka, seolah mereka bisa membeli kemurahan Allah dengan persembahan mereka yang banyak. Ayat 8 berisi tuntutan Tuhan, yaitu terjadinya pertobatan yang diwujudkan dalam perubahan kelakuan hidup sehari-hari: Berlaku adil, mencintai kestiaan dan hidup rendah hati di hadapan Allahmu.
1 Korintus 1:18–31 “Kristus adalah Hikmat Allah”. Hikmat (Ibrani=Khokma, Yunani=Sophia) adalah kepintaran untuk mencapai hasil, menyusun rencana yang benar untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Hikmat juga berarti kemampuan mengatasi atau menyelesaikan suatu masalah. Namun hikmat manusia selalu terbatas. Hikmat itu secara utuh adalah milik Allah. Dialah sumber hikmat itu. Ketika rasul Paulus datang di Korintus memberikan Injil tentang Yesus Kristus yang mati di kayu salib, ada beragam tanggapan orang. Ada orang yang menerima-Nya dan percaya kepada-Nya sebagai hikmat Allah. Namun ada kelompok yang mau menerima-Nya dengan meminta tanda atau bukti (yaitu orang Yahudi), dan ada kelompok yang menganggapnya kedodohan karena tidak masuk akal, bertentangan dengan hikmat manusia (orang Yunani). Bagi orang Yahudi salib adalah kelemahan, dan karena itu batu sandungan bagi orang Yahudi. Mana mungkin keselamatan datang dari orang yang mati tergantung sebagai orang hukuman terkutuk di kayu salib? Dan bagi orang Yunani salib adalah kebodohan. Orang yang percaya kepada pemberitaan Paulus tentang salib adalah orang bodoh. Bagi Paulus, salib adalah hikmat Allah, yang dengan-Nya masalah dosa diselesaikan. Allah mengambil memberikan Anak Tunggal-Nya, yaitu Yesus, manusia sempurna, yang mati di kayu salib utuk menggantikan kita menjalani hukuman dosa. Inilah jalan satu-saunya, tak ada jalan lain. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor.5:21). Salib adalah hikmat dan kekuatan Allah, karena hanya dengan salib kuasa dosa ditaklukkan. Ia menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita. Kalau demikian di dalam Kristus kita sudah diperdamaiakan dengan Allah. Kita sudah dijadikan Anak-anak Allah. Hikmat Allah sudah kita miliki dan oleh hkmat itu kita dituntun menjalani hidup ini sebagai hidup yang beribadah atau pelayanan kepada Allah.
Matius 5:1–12 “ Ucapan Bahagia”. Matius 5:1–12 merupakan bagian dari Khotbah di Bukit (Mat.5-7). Khotbah di Bukit berisi pengajaran Yesus bagi murid-muridNya (ay.1-2) mengenai tugas-tugas yang akan mereka laksanakan dalam pelayanan bersama dengan Yesus. Khotbah di bukit adalah pembekalan bagi murid-murid mengenai tugas-tugas yang akan mereka akan emban kedepan. Ayat 3-12 berisi ucapan bahagia. “Berbahagialah” menunjuk kepada keadaan batin orang yang percaya, orang yang telah menerima anugerah keselamatan, kebahagiaan yang bersumber dari iman kepada Yesus, suatu kebahagiaan yang tidak ditentukan oleh situasi dan keadaan hidup di dunia ini, tetapi karena diberikan oleh Tuhan. Dapat dikatakan bahwa 8 karekater orang berbahagia dalam ayat 3-12 adalah keadaan batin atau suasana hidup seseorang yang telah menjadi warga Kerajaan Sorga. Dengan kata lain ucapan bahagia ini adalah ciri hidup orang yang usdah menerima anugerah keselamatan, ciri hidup orang yang telah menjadi warga kerajaan Allah. Kita juga bisa mengatakan bahwa ucapan bahagia ini merupakan satu kesatuan karakter yang menunjukkan seseorang beribadah dengan sesungguhnya kepada Allah.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan:
Dalam percakapan sehari-hari umumnya orang memahami ibadah atau beribadah hanyalah kegiatan menyembah Tuhan baik pada hari minggu di gedung gereja atau dalam kegiatan ibadah lainnya. Umumnya orang sudah merasa puas jika ia sudah beribadah, dan merasa berhutang kalau ia tidak pergi beribadah. Namun kehidupannya sehari-hari amat berlawanan dengan kehendak Tuhan. Pemahaman seperti ini sudah ada sejak zaman Israel yang membuat Tuhan mengutus para namabi-Nya untuk menyampaikan kritik dan seruan-seruan pertobatan, termasuk nabi Mikha. Dari perikop pembacaan kita Mikha 6:1-8 kita dapat belajar beberapa hal :
Pertama : Allah menggugat umat-Nya dan meminta jawaban (ayat 1-5).Allah menggungat, memperkarakan dan mengadukan umat-Nya. Gunung-gunung, bukit-bukit dan dasar-dasar bumi diminta untuk mendengarkan pengaduan Tuhan. Mengapa Allah berperkara dengan umat-Nya? Apa yang menjadi gugatan Allah kepada umat-Nya? Allah menggugat umat-Nya karena umat itu telah memutuskan hubungan dengan Tuhan, sementara Tuhan sendiri tetap menyatakan kasih setia-Nya. Dalam ayat 3 Allah mengajukan keluhan-Nya: “UmatKu, apakah yang telah kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah kulelahkan?” Hal yang sama sering kita ucapkan sebagai orang tua kepada anak-anak yang kita kasihi tetapi semakin menyakiti hati kita; “anakku, adakah yang kurang kulakukan kepadamu?”. Perhatikan, walaupun umat Tuhan itu telah memutuskan hubungan denganNya, Ia tetap menyebut Israel dengan umat-Ku. Itu berarti umat adalah orang-orang milik kepunyaan-Nya sendiri.
Allah meminta jawaban terhadap sikap Israel yang sudah berubah. Mereka menganggap Tuhan seolah-oleh memberatkan hidup mereka dan menyibukkan mereka dengan hal-hal yang tidak benar. Justru yang terjadi Allah memberikan kasih setia-Nya secara turun temurun: Bagaimana Allah membebaskan mereka dari Mesir, mengutus Musa, Harun dan Miryam sebagai pemimpin, bagaimana Balak merancakan kutuk atas Israel tetapi Bileam mengubahnya menjadi berkat, bagaimana Tuhan menyertai mereka dalam perjalanan dari Sitim ke Gilgal. Tujuan dari perbuatan Tuhan itu yaitu supaya mereka mengenal keadilan-Nya; spaya mereka makin percaya, makin setia dan makin dekat dengan-Nya. Kita sebagai umat kesayangan-Nya sehingga kita berlaku seperti Israel yang tidak tahu berterima aksih kepada Tuhan.
Kedua: Jawaban Umat Israel (ayat 6-7). Jika memperhatikan ay.6-7, umat Israel menyadari pelanggarannya. Tetapi bagaimana cara memperbaiki kembali hubungan yang putus itu? Bagaimana supaya hubungan itu menjadi damai kembali? Ternyata mereka sama sekali tidak berpikir tentang bagaimana mewujudkan pengakuan, pertobatan dengan mengubah kelakuan, tetapi mereka beranggapan bahwa dosa mereka dapat diselesaikan dengan korban-korban, dengan kebaktian meriah, dengan persembahan yang banyak. Dengan demikian mereka menyangka bisa menyenangkan hati Tuhan dan membeli pengampunan Tuhan. Tuhan tidak berkenan dengan Korban persembahan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita merasa puas dan bangga kalau kita sudah memberikan persembahan yang banyak-banyak; sangat puas dan bangga jika nama kita disebut. Tuhan tidak berkenan dengan persembahan demikian, karena jelas persembahan demikian tidak untuk memuliakan Tuhan tetapi diri sendiri.
Ketiga: Apa yang dikehendaki Tuhan (ayat 8). “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan Allahmu”. Yang Tuhan kehendaki dalam hidup umat-Nya adalah menunjukkan perubahan sikap, pertobatan dalam wujud nyata melalui sikap hidup sehari-hari. Ibadah (ritus) mesti diterjemahkan dalam kehidupan nyata (etika-moral). Itulah yang dimaksudkan oleh Mazmur 15: 2-5b “doa dan hidup melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan nyata adalah satu kesatuan”. 1 Kor. 1: 18–30 menegaskan bahwa Yesus adalah hikmat Allah yang oleh-Nya kita ditebus, dibenarkan dan dikuduskan. Karya Kristus memberikkan moivasi dan semangat baru untuk menjalani hidup kita sebagai hidup yang beribadah secara holistik, agar kita bisa disebut orang yang berbahagia (Mat. 5:3-12).
Diposting tanggal 29 Dec 2016
