MENYEBUT-NYEBUT KASIH DAN KUASA TUHAN (Umpotuleran pa’kaboro’ sia Kuasan-Na Puang Matua)
Bahan Khotbah Ibadah Syukur Akhir Tahun 2016, Sabtu, 31 Desember 2016
MENYEBUT-NYEBUT KASIH DAN KUASA TUHAN
(Umpotuleran pa’kaboro’ sia Kuasan-Na Puang Matua)
| Mazmur Pujian | Mazmur 148:7-14 |
| Bacaan 1 | Yesaya 63:7-9 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | Ibrani 2:10-18 |
| Bacaan 3 | Matius 2:13-23 |
| Nas Persembahan | Lukas 2:24 |
| PHB | Galatia 4:6-7 |
Tujuan:
- Agar jemaat memahami bahwa tahun 2016 dilewati hanya kasih setia dan kuasa Tuhan.
- Agar jemaat mengalami dan menghayati kasih dan kuasa Tuhan sepanjang tahun 2016.
- Agar jemaat mensyukuri kasih setia Tuhan yang dialami selama tahun 2016.
Pemahaman Teks
Kitab Nabi Yesaya terbagi atas tiga bagian:
1. Fasal 1-39 : digolongkan kitab Yesaya Pertama
2. Fasal 40-55 : digolongkan kitab Yesaya kedua (Deutero-Yesaya)
3. Fasal 56-66 : digolongkan kitab Yesaya ketiga (Trito-Yesaya)
Tema pasal-pasal di Trito Yesaya ini kembali ke tema yang sudah diperkenalkan dalam bagian lain kitab ini, yaitu bahwa Tuhan akan memberkati umat-Nya dan melakukan pembalasan kepada bangsa-bangsa yang menolak untuk menyembah-Nya. Allah mengulangi janji tentang suatu ciptaan baru, namun mengingatkan umat bahwa janji itu bergantung pada sejauh mana mereka percaya kepada Allah dan hidup menurut perintah-perintah-Nya.
Teologi nabi Yesaya
Nabi Yesaya mempergunakan dua kata untuk Allah:
- Yahwe Zebaoth, yaitu Tuhan semesta alam, yang berarti “Yahwe mempunyai segala kuasa di langit dan di bumi”.
- Kadosy Israel, yang berarti “Sang Kudus Israel”. Di sini Yesaya menitikberat-kan kekudusan Allah di dalam penglihatan pemanggilannya (psl 6).
Pasal 56-66 (Trito-Yesaya/Yesaya Ketiga) menguraikan masa sesudah pembuangan yang berfokus pada pembangunan kembali Bait Allah di Gunung Sion, peringatan dan janji-janji bagi umat Allah. Ketaatan kepada Tuhan akan mendatangkan berkat (65:17-25); namun sebaliknya, ketidaktaatan akan mendapatkan hukuman Tuhan (63:1-66:24).
Dengan itu Yahwe menyatakan diri-Nya sebagai yang duduk di atas takhta-Nya dengan dikelilingi oleh serafim. Pengetahuan akan kekudusan Allah membuka matanya terhadap hukuman yg akan datang dari Allah. Hanya sedikit sisa bangsa ini yg akan diselamatkan dan akan menjadi permulaan dari bangsa yang baru. Yesaya tahu bahwa Allah memakai kekuasaan dan kekuatan orang Asyur untuk menghukum orang Israel, tetapi dia juga tahu bahwa kekuasaan orang Asyur dibatasi pula oleh Allah yang sama. Yesaya menantikan (seorang) Almasih (Mesias atau Kristus) dari keturunan Daud (Yes 7,9,11)
Siapa nabi Yesaya?
Yesaya mempunyai pribadi yang sangat berani, baik ketika berhadapan dengan raja maupun ketika berhadapan dengan orang banyak. Ia tidak pernah membungkuk untuk mengambil muka. Ia patriot sejati; penentang segala sesuatu yang bisa merusak bangsanya. Namun ia lemah lembut, dan kasihnya mencakup bangsa lain, tidak terbatas pada bangsa sendiri saja. Ia dapat juga diliputi kemarahan yang bernyala-nyala, tapi kemarahan itu senantiasa didorong oleh perasaan tanggung jawab akan kemuliaan Allah. Ia menyebut Allah dengan “Yang Mahasuci”, ia sadar akan kemuliaan dan kuat kuasa Tuhan.
Pokok-pokok pikiran untuk khotbah
Kasih setia merupakan padanan kata Ibrani khesed yang diterjemahkan “belas kasihan”, “kemurahan hati”, dan “kebaikan”. Bebera terjemahan para pakar: G. Adam menerjemahkan “kasih yang jujur”. C.H. Dodd menerjemahkan “kesalehan”. Dan Koehler-Baum Gartner menerjemahkan “kasih perjanjian”. Kata ini sangat erat hubungannya dengan dua pengertian yaitu “perjanjian” dan “kesetiaan”. Dengan demikian, dapat dirangkum sebagai kasih yang mantap teguh atas dasar perjanjian yang telah dibuat. Arti ini digunakan untuk menggambarkan baik sikap Allah terhadap umat-Nya maupun sikap umat terhadap Allah. Perbuatan kasih setia Tuhan ini mengingatkan bagaimana Tuhan telah menyelamatkan Israel pada masa lalu, terutama ketika mereka keluar dari Mesir (63:11) dan kemudian ketika Ia menolong mereka menduduki Tanah Perjanjian Kanaan. Kata “duta” menyelamatkan mereka mengacu pada kehadiran Tuhan yang menyertai umat Israel di padang gurun.
Aku hendak menyebut-nyebut secara harafiah “aku akan membawa kepada kemenangan”. Dalam kiasan tentang pengharapan-pengharapan seorang ayah atas anak-anaknya, ia mengulangi tema pembukaan kitab ini, “Dengarlah hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman ‘Aku membebaskan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku’” (Yes 1:2). “Celakalah bangsa yang berdosa, kaum yang sarat dengan kesalahan, keturunan yang jahat-jahat, anak-anak yang berlaku buruk! Mereka meninggalkan Tuhan, menista Yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia” (Yes 1:4).
Aplikasi
Menyebut-nyebut kasih dan kuasa Allah memberi kesan bahwa umat Israel ketika itu sangat kagum dan rindu pada kasih dan kuasa Tuhan, karena itu kita hendak melihat hal tersebut sebagai tugas agamawi:
- Terhadap Allah. Mengasihi Allah dengan totalitas diri manusia adalah tuntutan Allah. Ini harus diartikan bukan hanya taat melakukan hukum Allah yang tidak bersifat pribadi, tapi lebih daripada itu, yakni membangun hubungan yang sifatnya pemujaan pribadi terhadap Allah yang diciptakan dan didukung oleh karya Allah dalam hati manusia. Kasih itu berupa pengalaman penuh kegembiraan dalam persekutuan Allah terungkap dalam ketaatan sehari-hari melakukan perintah-perintah-Nya, mengasihi dan beribadah kepada-Nya, mengasihi Allah dan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya. Ketaatan ini lebih berdasarkan hakikat kasih kepada Allah ketimbang perasaan. Allah sendirilah yang akan menjadi hakim untuk menilai kesungguhan kasih itu.
- Terhadap sesama manusia. Kasih ditetapkan Allah untuk jalinan hubungan yang normal dan ideal antarmanusia, justru mengasihi dituntut oleh hukum Allah. Larangan yang jiwanya senada, yaitu jangan membenci seseorang, berkaitan dengan hati manusia dan menunjukkan jelas ke dalam bobotnya yang melebihi hubungan yang berdasarkan hukum.
Yesaya menyaksikan kasih setia dan kuasa Tuhan dan mengajar umat Israel untuk tetap yakin akan kasih dan setia Tuhan. Tuhan sendiri yang menyelamatkan, mengangkat dan menggendong mereka sejak dahulu kala. Kasih setia Tuhan yang dialami oleh keturunan Abraham sebagai yang dikuduskan harus menjadi kesaksian kepada umat Allah dalam Kristus. Mereka adalah anak-anak secara daging. Israel sama dengan anak-anak (orang percaya) dalam penebusan melalui kematian Yesus.
Secara politis Yesus disingkirkan ke Mesir demi keamanan Yesus sebagai bayi, erat kaitannya sejarah nenek moyang Israel yang menyingkir ke Mesir karena alasan ekonomi, yang kemudian dibawa kembali ke Kanaan untuk misi Allah yang dijanjikan menjadi bangsa yang besar. Yesus dipanggil dari Mesir untuk melanjutkan misi Allah dalam diri-Nya yakni penebusan manusia untuk kembali menjadi Anak Allah. Kini kita berdiri di penghujung tahun 2016. Kalau kita menghitung-hitung kasih dan setia Tuhan kepada kita, sesungguhnya kita tidak mampu menghitungnya satu persatu karena terlalu banyak, untuk itu kita ungkapkan dalam pengakuan kita baik secara pribadi, keluarga dan persekutuan bahwa Tuhan itu ajaib dan luar bisa.
Ada banyak pengalaman yang telah kita lewati selama setahun ini, baik pengalaman pribadi maupun secara bersama-sama. Ada pengalaman buruk yang menyedihkan yang membuat hati kita kecewa dan hancur. Akibatnya kita merasakan seakan-akan perjalanan ini berat karena beban-beban hidup yang menekan. Tak jarang yang kemudian menjadi mengalami stres dan putus asah, seakan-akan Tuhan tidak peduli dengan kita padahal kitalah yang sering tidak peduli Tuhan. Ada pengalaman yang menyukacitakan, kita kemudian melangkah dengan langkah pasti bahwa Tuhan begitu baik dan setia kepada kita. Itulah yang telah mewujud dalam kedatangan Yesus sebagai bayi Natal yang peringatan hari kelahiran-Nya baru saja kita rayakan. Kelahiran Yesus menjadi bukti nyata tentang kasih dan kuasa Tuhan bagi kita manusia.
Berjalanlah dengan harapan baru. Songsong dan susurilah tahun 2017 dan yakinlah bahwa Tuhan itu baik, Ia penyayang dan pengasih, jadikan semua pengalaman tahun 2016 menjadi pengalaman indah untuk menatap dan melangkah ke tahun baru dengan harapan-harapan baru sambil menyanyikan kasih setia Tuhan, seperti dalam lagu PKJ 14:
Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya, selamanya.
Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya, kunyanyikan s’lamanya
Kututurkan tak jemu kasih setia-Mu Tuhan.
Kututurkan tak jemu kasih setia-Mu turun temurun.
Segala goresan-goresan pahit yang ada akan tergantikan dengan senyum bahagia hanya ketika kita menghadirkan Allah di perjalanan hidup kita ke depan ini. (YM)
Diposting tanggal 29 Dec 2016
