DIUTUS UNTUK MEMULIHKAN (Di Sua la Ma`pamondo)
Bahan Khotbah Minggu Ke-2, 08 Januari 2017 - Pasca Epifani (Baptisan Yesus) -
DIUTUS UNTUK MEMULIHKAN
(Di Sua la Ma`pamondo)
| Mazmur | Mazmur 29:1-11 |
| Bacaan 1 | Yesaya 42:1-9 |
| Bacaan 2 | Kisah Para Rasul 10:34-43 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | Matius 3:13-17 |
| Nas Persembahan | Mazmur 67:4 |
| PHB | Yohanes 3:33-34 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami dan meyakini bahwa Yesus itulah yang dipilih dan diurapi oleh Allah.
2. Jemaat dapat memahami dan meyakini baptisannya sebagai tanda pengurapannya.
3. Jemaat terdorong untuk memulihkan sesamanya yang “terluka”.
Pembimbing:
Tema yang diangkat “Diutus Untuk Memulihkan” merupakan salah satu refleksi teologis dari korelasi keempat bacaan tersebut di atas. Dalam Mazmur 29, suara Tuhan menggambarkan kemuliaan dan kekuatan Tuhan. Dalam Yesaya 42:1 tertulis nubuatan: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” Nubuatan Yesaya ini tergenapi dalam kisah pembaptisan Yesus yang tercatat dalam kitab Matius pasal 3. Sesaat setelah pembaptisan tersebut terdengarlah suara dari sorga: “Inilah Anak yang kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan”. Setelah peristiwa pembaptisan tersebut, Yesus melanjutkan pelayanan-Nya. Kisah pelayanan Yesus ini tidak hanya disaksikan dalam keempat Injil. Kitab Kisah Para Rasul 10:38 juga mencatatnya demikian: “yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”
Dengan demikian korelasi/hubungan keempat bacaan tersebut sehubungan dengan tema yang diangkat yaitu bahwa Kristuslah penggenapan dari nubuatan yang ada dalam kitab Yesaya tentang Hamba yang dipilih. Penggenapan itu nyata dalam Suara dari sorga ketika Yesus dibaptis. Setelah pembaptisan-Nya, Rasul Petrus menyaksikan bahwa dengan urapan Roh Kudus, Yesus diberikan kekuatan untuk menjalankan misi penyelamatan.
Garis Besar Khotbah:
Di antara para murid, sosok Petrus mengambil peran yang sangat dominan. Dominasi ini tergambar jelas dalam catatan Injil yang mana, nama Petrus sangat sering tertulis dalam berbagai peristiwa penting dalam kisah kebersamaan Yesus dengan para murid-Nya. Selanjutnya dalam sejarah gereja awal, sosok Petrus tampil sebagai yang terdepan dalam pekabaran Injil mula-mula. Penampilannya tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari kisah penyangkalannya (Matius 26:57-58, 69-75; Markus 14:53-54, 66-72; Lukas 22:54-62; Yohanes 18:12-18, 25-27) dan pemulihan yang telah dialaminya (Yoh.21:15-19).
Kisah Para Rasul 10:34-43 merupakan bagian dari kisah perjumpaan Petrus dengan Kornelius yang berpuncak pada pembaptisan Kornelius (ps.10:47-48). Sebelumnya, Petrus dikisahkan melakukan penyembuhan atas diri Eneas yang lumpuh selama delapan tahun di Lida dan membangkitkan Dorkas di Yope (ps.9:32-43), seorang perempuan yang membaktikan hidupnya untuk para janda. Kedua peristiwa ini membuktikan bahwa pemulihan Yesus atas diri Petrus setelah penyangkalannya sangat berdampak, bukan hanya berdampak kepada diri Petrus tetapi juga telah menjangkau orang lain. Setelah pembaptisan Kornelius, Petrus harus mempertanggungjawabkannya kepada saudara-saudara yang lain di Yudea (Kis.11:1-18). Pertanggungjawaban ini pun berdampak pada saudara-saudara tersebut ketika mereka memuliakan Allah: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”.
Kisah perjumpaan Petrus dengan Kornelius dilatarbelakangi oleh pengalaman spiritual Kornelius, malaikat telah berbicara kepadanya dalam suatu penglihatan (ps.10:3-6). Hidup Kornelius yang saleh, ia dan juga seisi rumahnya (ps.10:2), telah menjadi pintu masuk pekabaran Injil. Keterbukaan Kornelius dan seisi rumahnya menerima kehadiran Petrus (ps.10:33b) digunakan oleh Petrus untuk menyaksikan Yesus Kristus. Bagi Petrus, penglihatan yang dialami oleh Kornelius dan kehadirannya di rumah Kornelius telah memberikan pengertian yang baru bahwa sesungguhnya Allah tidak membedakan orang (ps.10:34). Kata kuncinya bukan pada “keturunan Abraham”, sebagaimana yang dipahami oleh orang Yahudi bahwa hanya para keturunan Abrahamlah yang berhak menerima janji-janji Allah, melainkan pada “yang takut akan Allah dan yang mengamalkan kebenaran” (ps.10:35), itulah yang berkenan di hadapan Allah. Selanjutnya, Petrus menyaksikan kepada Kornelius bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dari semua orang (ps.10:36). Dalam hal ini Petrus hendak mengatakan kepada Kornelius bahwa Yesus Kristus itulah Tuhan. Tuhan yang selama ini, ia dan seisi rumahnya, sembah dalam kesalehan hidup mereka. Pengajaran Petrus kemudian berlanjut pada sebuah kesaksian tentang hubungan antara dirinya dan para murid yang lain dengan Yesus Kristus. Petrus dan para murid yang lain adalah saksi hidup dari segala sesuatu yang diperbuat Yesus Kristus di tanah Yudea maupun Yerusalem (ps.10:39). Apakah yang telah diperbuat Yesus dari Nazaret itu?
Dalam pengajarannya, Petrus menyaksikan bahwa Allah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus dan kuat kuasa dalam suatu peristiwa penting yakni pembaptisan-Nya oleh Yohanes (ps.10:37). Dengan urapan dan kuat kuasa tersebut, Yesus berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis. Namun perjalanan Yesus ini kemudian harus berakhir di kayu salib. Yesus mati dibunuh. Apakah perjalanan Yesus kemudian sunggun-sungguh berakhir?
Dalam kesaksian selanjutnya, Petrus mengatakan bahwa Yesus dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga. Bukti kebangkitan Yesus yaitu penampakan Diri-Nya kepada para murid-Nya (ay.40-41). Petrus juga bersaksi bahwa Yesus memberikan tugas kepada mereka untuk memberitakan kebangkitan-Nya tersebut kepada seluruh bangsa dan sekaligus juga bersaksi bahwa Yesus itulah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang yang hidup dan orang mati (ay.42). Dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa (ay.43). Apa dampak pengajaran Petrus selanjutnya bagi keluarga Kornelius dan seisi rumahnya? Dalam ayat 44-45 dikisahkan bahwa para pendengarnya pada waktu itu menerima Roh Kudus sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak membaptis mereka. Dari uraian pendahuluan tersebut di atas dan tema yang diangkat “Diutus Untuk Memulihkan”, ada beberapa hal yang dapat menjadi inspirasi untuk menolong kita tiba pada ketiga tujuan yang dimaksud yaitu: keyakinan umat terhadap Yesus, keyakinan umat terhadap pengurapannya, dan tugas pemulihan (penyembuhan). Beberapa inspirasi tersebut pertama, tanggapan Petrus terhadap undangan Kornelius bahwa Allah tidak membedakan orang, bahwa Petrus telah memiliki pengertian yang baru tentang Allah; kedua, kesaksian Petrus tentang Yesus, bahwa Petrus memakai perjumpaannya dengan Kornelius sebagai kesempatan untuk bersaksi; ketiga, kehadiran Petrus di rumah Kornelius merupakan bagian dari pemenuhan tugas dari Allah. Sesuai dengan tema yang diangkat “Diutus Untuk Memulihkan”, pertamakali tentu kita akan bertanya “apa dasar pengutusan tersebut?”. Jika kita perhatikan kalimat Kornelius dalam ayat 33 dan kalimat Petrus dalam ayay 42, kita akan menemukan jawaban pertanyaan “apa dasar pengutusan tersebut?”. Baik Kornelius maupun Petrus merasa bahwa perjumpaan yang terjadi di antara mereka merupakan pemenuhan tugas dari Allah. Dengan demikian dasar pengutusan orang percaya ialah pemenuhan tugas dari Allah. Karena “penugasan dari Allah” inilah juga sehingga setelah pembaptisan-Nya oleh Yohanes, Yesus kemudian berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang.
Frasa (kelompok kata) “semua orang” tentunya mengingatkan orang percaya bahwa kehadirannya adalah untuk semua orang. Untuk apa kehadirannya? Agar semua orang tersebut menjadi sembuh, pulih kembali. Pemulihan menjadi tujuan pengutusan tersebut. Untuk tiba pada tindakan pemulihan tersebut, Allah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus dan kuat kuasa. Pengurapan Roh Kudus dan pemberian kuat kuasa dari Allah kepada setiap orang yang percaya pada kebangkitan Yesus adalah juga menjadi dasar yang kuat untuk menunaikan tugas pengutusan orang percaya untuk menyembuhkan semua orang, tanpa terkecuali, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus dan para murid ketika itu. Dengan demikian pengutusan tersebut baru akan bermakna apabila orang percaya hadir tanpa membeda-bedakan orang (anti diskriminasi) sehingga kehadirannya sungguh untuk semua orang.
Pertanyaan lebih lanjut, kapan dan di mana orang percaya menerima pengurapan dan kuat kuasa dari Allah? Ketika seseorang telah dibaptis, pada saat itulah ia sesungguhnya telah menerima pengurapan dan kuat kuasa dari Allah. Namun sangat disayangkan bahwa masih ada para anggota baptis yang belum berjalan berkeliling berbuat baik dan menyembuhkan orang. Mungkin saja sudah, tapi baru terbatas dalam lingkungannya sendiri: keluarganya, tongkonannya, jemaatnya. Sudah saatnya anggota baptis Gereja Toraja keluar dari bingkai pemikirannya yang turun temurun itu yang cenderung hidup berkelompok. Sudah saatnya Gereja Toraja keluar untuk memulihkan semua orang di mana saja dan kapan pun saatnya. Mari kita belajar dari Petrus yang memberanikan diri keluar dari Yerusalem memulihkan kehidupan Kornelius dan seisi rumahnya di Kaisarea. Dalam hal ini tindakan pemulihan Petrus bersifat mengokohkan iman percaya Kornelius dan keluarganya kepada Allah yang kemudian berpuncak pada pembaptisan mereka.
Diposting tanggal 29 Dec 2016
