PELAYANAN YANG MEMBARUI (Pa’kamayan umbaa kadiba’ruan)

Bahan Khotbah Minggu Ke-6,  5 Februari 2017

PELAYANAN YANG MEMBARUI

(Pa’kamayan umbaa kadiba’ruan)

 

Mazmur Mazmur 112:1-10
Bacaan 1 Yesaya 58:1-12
Bacaan 2 1 Korintus 2:1-2
Bacaan 3 Matius 5:13-20 (Bahan Utama)
Nas Persembahan Mazmur 112:3
PHB Matius 5:16

 

Tujuan:

1.  Jemaat memahami pelayanan yang membarui keadaan sosial

2.  Jemaat meyakini bahwa dengan hikmat Kristus dan tuntunan Roh Allah mereka dimampukan menjadi garam dan terang dunia.

 

Pendahuluan:

Ketika kita mendegar kata pelayanan, apakah yang pertama-tama terlintas dalam pikiran kita? Mungkin ada di antara kita yang berpikir tentang pekerjaan seorang hamba Tuhan (pendeta). Atau mungkin ada yang membayangkan sejumlah aktivitas dalam jemaat atau pekerjaan-pekerjaan lainnya yang dilakoni tanpa biaya atau dikerjakan dengan kerelahan hati. Ada berbagai pendapat untuk memaknai kata pelayanan. Namun secara umum, pelayanan diartikan sebagai proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain secara langsung. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pelayanan adalah menolong menyediakan segala apa yang diperlukan oleh orang lain seperti tamu atau pembeli. Dengan mengacu pada pemahaman tersebut, kita diajak untuk membandingkan apa kata Alkitab tentang pengertian pelayanan, khususnya pelayanan yang membawa pembaruan.

 

Pemahaman teks Alkitab:

Kotbah di bukit isinya bersifat pentahbisan Tuhan kepada para rasul (Luk.6:12), dengan tema kebenaran Tuhan dibandingkan dengan kebanaran ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang munafik (5:17-20, Mat. 23). Khotbah ini bukanlah hukum Taurat yang kedua, dalam pengertian bukanlah pengganti hukum Taurat yang bersifat perintah baru. Namun khotbah ini maknanya jauh lebih dalam daripada hukum Taurat karena menyangkut sikap hati dan tindakan nyata. Khotbah tersebut menggambarkan situasi hidup orang benar yang sesungguhnya, dan prinsip-prinsip rohani yang mengendalikan hidup seseorang. Karena itu Yesus membuka khotba-Nya tentang gambaran hidup orang benar (5:1-16) dan seterusnya Ia mendefinisikan tentang dosa (5:21-28) kemudian menjelaskan tentang kebenaran nyata dalam hal-hal beribadah (6:1-8), serta memperjelas makna dari kekayaan (6:19-34). Dan di akhir khotba-Nya Ia memperingatkan agar jangan melakukan penghakiman yang munafik (7:1-12), dan menjelaskan tentang nabi-nabi palsu (7:13-20) dan berkomitmen malakukan firman Tuhan yang telah didengarkan (7:21-29). Melalui khotbah di bukit semakin diperjelas tentang inti ajaran Yesus yaitu tindakan kasih yang mewujud dalam sikap hati dan tindakan nyata. Hal inilah yang diserukan nabi Yesaya kepada suku Yehuda melalui Yesaya 58:1-12. Melalui perikop ini diperjelas tentang ritual versus realitas. Dalam pandamgan Yesaya kehidupan keagamaan yang tidak dibarengai dengan tindakan nyata adalah hampa adanya. Menyembah Tuhan dengan sepenuh hati tidak dapat dipisahkan dari melayani sesama dengan penuh kasih. Yakobus mengatakan “iman tanpa perbuatan adalah mati”(Yak. 2:26).

 Iman tradisional dikenal secara luas di Yehuda saat itu. Kecenderungan mereka senang menyelidiki Firman Tuhan. Gemar memberikan pesembahan bahkan rutin melakukan puasa (ay.2-3). Namun di akhir ibadahnya, mereka kembali mengeksploitasi orang lain demi kepentingan pribadinya. Mereka tertarik dengan ibadah ritus namun tidak mampu mewujudkan dalam ibadah prilaku (etika). Ibadah yang dilakukan hanya sebatas ritus namun tidak ada aksi. Yesaya menyerukan bahwa jauh lebih baik ketika terjadi pertobatan dan kembali kepada Tuhan (ay.8-12). Karena yang Tuhan inginkan dari umat-Nya adalah hadir menjadi terang, bukan kegelapan, bukan kecemaran melainkan kemuliaan dan bukan jadi aib melainkan pembawa kesegaran. Ajaran seperti itulah yang ditegaskan Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Korintus (1 Kor. 2:1-12).

Paulus menjelaskan pengalaman pelayanannya kepada Jemaat Korintus. Ia merasa tidak sama dengan pengajar yang keliling di Koritus mengadalkan kefasihan dan kecerdasan itelektual dalam pelayanan dan pemberitaan Injil. Ia fokus kepada Tuhan, bukan pada dirnya. (bnd. Zakaria 4:6). Bagi Paulus hikmat Allah yang hendaknya menerangi pola hidup pelayanan para hamba Tuhan. Karena hanya dengan mengalami hikmat Allah, pelayan Tuhan semakin diubahkan dari kelemahannya dan pada akhirnya ia mampu bersaksi tentang Injil yang adalah kekuatan Alah yang tetap punya kuasa (Rm.1:16). Dan hikmat Allah yang mendalam dari Tuhan tersedia bagi mereka yang dewasa dalam iman (Ibr.5:12-14).

 

Pokok-pokok pikiran yang dikembangkan:

Berdasarkan Matius 5:13-20, ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan pelayanan yang membarui:

Pertama, hadir menjadi garam dan terang dunia (ayat 13-16). Garam digunakan memberikan cita rasa pada makanan dan mengawetkan agar tidak cepat busuk. Fungsi ini lebih dimaksudkan untuk menghadirkan damai sejahtera di dalam setiap aktiviatas pelayanan. Bandingkan ketika memasukkan garam ke dalam sayur. Tidak dimaksudkan supaya sayur menjadi garam, melainkan untuk memberikan rasa nikmat terhadap sayur . Di sinilah fungsi pelayanan kita yang membarui, dari yang tidak terasa nikmat menjadi dinikmati. Dari pelayanan yang tidak berkualitas menjadi berkualitas. Yesus dalam khotba-Nya meyakinkan kepada para murid-Nya bahwa di setiap situasi dimana kita dihadirkan hendaknya membawa rasa nikmat, menghadrikan kedamaian, sukacita, ketenangan atau yang lasim dibahasakan dengan syalom. Dapat dibayangkan, jika dalam setiap kehadiran kita banyak orang yang tidak merasa tentram karena kata-kata kita yang tidak berhikmat, pelayanan kita yang tidak tulus, cara berpikir kita yang tidak konstruktif. Karena itu mungkin kita pernah mendengar kalimat seperti ini “dengan ketidakhadiran bapak A kita merasa tentram dan damai dalam mengangkat pelayanan ini”. Atu ada yang mangatakan dengan ketidakhadiran Ibu A rapat Majelis berjalan dengan baik dan kita tidak mendegarkan kalimat-kalimat yang tidak berhikmat. Itu berarti fungsi garam kita hilang dalam situasi pelayan tersebut. Namun berbeda dengan resposns seperti ini, dengan ketidakhadiran bapak B rasanya ada sesuatu yang hilang dalam pertemuan kita, atau dengan ketidakhadiran ibu A ada sesuatu yang hilang dalam pelayan kita? Bukankah dalam konteks ini fungsi garam kita sedang dicari? Mengapa? Karena kita hadir membawa damai sejahtera.

Demikianpun dengan fungsi terang, kehadiran kita adalah menerangi kegelapan, bukan digelapkan oleh situasi di mana kita hadir. Bandingkan ketika tiba-tiba listrik padam, dan dalam waktu singkat menyala kembali, bagaiman respons kita, berteriak bukan? Mengapa berteriak, karena respons sukacita atas hadirnya terang dalam kegelapan, apalagi ketika sedang beraktivitas. Demikianpun kehadiran kita dalam pelayanan, kita harus hadir membawa sukacita di tengah situasi yang penuh duka dan memperjelas situasi yang kabur dengan berani mengatakan ya kalau ya dan tidak kalau tidak

Kedua, meneladani pola keberagamaan yang diajarkan Kristus (ay. 17-20). Yesus tidak menolak hukum Taurat melainkan Ia datang menggenapinya. Maksud kata “menggenapi” adalah menjelaskan makna yang sesungguhnya dari Taurat tersebut. Karena ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi keliru dalam menjalankan Taurat. Mereka fokus pada hukumnya dan melupakan makna yang sesungguhnya dari Taurat itu yakni mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Hukum Taurat tersebut menyatakan tabiat Tuhan dan kehendak-Nya bagi semua orang. Pemberlakuannya bukan hanya legalistik atau secara formal melainkan lebih pada aplikasi paraktis lewat perhatian dan kasih sayang yang tanpa batas. Tidak dibatasi oleh suku, agama dan ras. Itu berarti hukum Tuhan mengajarkan agar hidup keagamaan kita tidak hanya sebatas kata-kata tetapi lebih pada tindakan pelayanan sosial yang menjangkau semua lapisan. Itulah sebabnya Yesus menyindir murid-Nya dan mengatakan dalam ayat 20 “jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga. Hidup keagaamaan yang diharapkan Yesus adalah mewujudkan tindakan kasih yang tanpa batas, menembus seluruh sekat yang terdapt di dalam keluarga, gereja dan masyarakat. (ld)


Diposting tanggal 30 Jan 2017

Daftar Artikel

Yehezkiel dipanggil ke wilayah pembuangan untuk menyampaikan firman Allah kepada umat Israel yang se.....

Selengkapnya ..

Hari ini kita mendengar tentang Israel disebut anak sulung Tuhan yang mesti beribadah kepadaNya. &r.....

Selengkapnya ..

Dalam konteks PL seperti kitab keluaran, tanda perjanjian Allah dengan umatNya ialah darah korban(do.....

Selengkapnya ..

1 Petrus 2:18-25 berisi peringatan Rasul Petrus tentang panggilan hidup orang Kristen, bahwa orang K.....

Selengkapnya ..

1 Petrus 1:13-25 merupakan ajaran mengenai respons yang diharapkan sebagai anak-anak Tuhan. Dalam pe.....

Selengkapnya ..

Paulus menegaskan bahwa Yesus dibangkitkan sebagai yang sulung dari yang meninggal (ay.20). Yesus ad.....

Selengkapnya ..

Paulus dengan tegas memberikan kesaksian tentang kebangkitan orang mati. Hal itu disampaikan kepada .....

Selengkapnya ..

Mazmur 114 merupakan respons terhadap cara Tuhan yang bekerja dalam hidup umat-Nya ketika mereka ma.....

Selengkapnya ..

Daud mengalami masalah dan berharap lepas dari masalah itu. Lalu apa yang ia lakukan? Ia berdoa kepa.....

Selengkapnya ..

Amsal 2:11-22 menuliskan bahwa hikmat tergambar dalam “kebijaksanaan yang memelihara, serta ke.....

Selengkapnya ..

Hal yang menjadi ciri khas dari kitab Amsal ialah Hikmat. Salomo selalu menekankan mengenai manusia .....

Selengkapnya ..

Saat bangsa Israel tiba di sungai Yordan, mereka bermalam disitu selama tiga hari dan sesudah lewat .....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...