BERANI KARENA INJIL (Tumanan belanna Kareba Kaparannuan)
Bahan Khotbah Epifani 06 Januari 2017
BERANI KARENA INJIL
(Tumanan belanna Kareba Kaparannuan)
| Mazmur | Mazmur 72:1-14 |
| Bacaan 1 | Yesaya 60:1-6 |
| Bacaan 2 | Efesus 3:1-13 (Bacaan Utama) |
| Bacaan 3 | Matius 2:1-12 |
| Nas Persembahan | Mazmur 76:12 |
| PHB | Efesus 3:12-13 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami kelahiran Yesus memberi keberanian untuk berjumpa dengan Allah.
2. Jemaat menghayati perjumpaannya dengan Allah.
3. Jemaat diajak untuk membawa pembebasan bagi semua orang dengan keberanian.
4. Tindakan keberanian tersebut adalah wujud syukur warga Gereja Toraja ke 70 tahun.
Pemahaman Teks
Dalam perikop ini, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan, antara lain:
- Paulus berbicara mengenai Wahyu yang dinyatakan kepadanya (ay. 3). Hal ini terutama menunjuk kepada pengalaman Paulus yang berjumpa dengan Kristus dalam perjalanan ke Damsyik (Kis.9:1-19a). Pengalaman tersebut membuat Paulus berani untuk bersaksi mengenai berita Injil.
- Paulus berbicara mengenai "rahasia Kristus" yang tersembunyi selama berabad-abad dalam Allah (ay.4,9) Rahasia itu ialah maksud Allah "untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi" (band Ef.1:10), dan untuk memasukkan orang dari semua bangsa dalam janji mengenai hidup dan keselamatan. Dari orang Yahudi dan bukan Yahudi Allah menciptakan "dalam Kristus Yesus" (ay.6) sebuah umat yang baru bagi diri-Nya (Ef.1:4-6). Dengan kata lain Umat yang baru itu merupakan sebuah persekutuan yang bersifat Am yakni persekutuan yang terbuka bagi semua orang tanpa ada pembedaan/diskriminasi.
- Paulus berbicara mengenai kasih karunia (ay.7-8). Kasih karunia Allah itu mendapat kepenuhannya dalam Kristus (band. Yoh 3:16) Ia bukan lagi rahasia yang tersembunyi melainkan telah nyata melalui bayi Yesus. Karena itu bagi Paulus, hanya oleh karunia Allah saja orang-orang beriman terpanggil, sama seperti dirinya, dan karena itu, kita tidak dapat membanggakan diri (Ef.2:8,9; Rm.3:27). Hidup di bawah karunia Allah berarti hidup dalam ketaatan iman, yang bertujuan mencapai kekudusan (Rm.6:15-22). Hal ini sejalan dengan semangat para reformator dalam gereja khususnya Martin Luther dan John Calvin untuk berani melakukan pembaruan, dengan motto: Sola fide (hanya oleh iman), sola gratia (hanya oleh anugerah), dan sola scriptura (hanya oleh Alkitab).
- Dengan demikian bagi Paulus wahyu adalah rahasia Allah yang dinyatakan kepadanya berdasarkan kasih karunia Allah. Oleh karena itulah maka “kita beroleh keberanian berjumpa dengan Allah (ay.12), sebab Ia sendiri telah melayakkan kita berjumpa dengan Dia hanya karena anugerah-Nya.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan dalam Khotbah:
Pertama, dalam kalender gerejawi, minggu ini adalah Minggu Epifani. Dalam bahasa Yunani kata Efipani berasal dari kata epiphaneia yang berarti menampakkan diri atau manifestasi (untuk lebih jelasnya lihat penjelasan dalam panduan liturgi yang dibuat oleh KLM tentang epifani). Sehubungan dengan konteks ini, melalui peristiwa penampakan kasih karunia Allah lewat bayi Yesus sebagaimana yang disaksikan oleh orang Majus dari Timur (Matius 2:1-12), Kita diajak untuk semakin menghayati Kasih karunia Allah untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yakni hidup dalam ketaatan kepada Allah dan menjaga kekudusan hidup.
Kedua, penampakan kasih karunia Allah lewat bayi Yesus, memberi keberanian bagi orang percaya untuk berjumpa dengan Allah sebab Ia sendiri yang telah melayakkan kita berjumpa dengan Dia sebagai bukti Anugerah-Nya bagi manusia. Perjumpaan itu dapat dialami dalam pengalaman keberimanan kita (religiositas), dan dalam persekutuan dengan Allah melalui doa-doa kita. Pengalaman perjumpaan dengan Allah membuat kita mengalami perubahan hidup (manusia baru dalam Kristus). Hal ini disimbolkan dengan tindakan orang Majus “pulang dengan memilih jalan lain” (Mat 2:12), dan pengalaman keberimanan Paulus yang dulunya membenci Kristus tetapi kemudian berubah menjadi orang yang mencintai Kristus dan berani bersaksi karena Injil.
Ketiga, sebagai bukti mengalami perjumpaan dengan Allah yang merupakan rahasia Allah yang dinyatakan kepada manusia melalui Kristus, maka harus kita wujudkannya dengan berani membawa pembebasan bagi sesama kita yang terbelenggu karena penindasan, kemiskinan, dan penderitaan, serta keterbelengguan karena sekat-sekat agama, suku, ras dan golongan (dalam konteks Toraja sekat-sekat kelompok/saroan/kobbu’). Kita harus berani melampaui sekat-sekat tersebut sebagai bukti kita menghayati berita Injil. Hal itulah yang diserukan oleh nabi Yesaya untuk bangkit menjadi terang dan memberitakan perbuatan masyhur Tuhan (Yes 60:1-6)
Keempat, secara khusus, sebagai warga Gereja Toraja dalam rangka menyongsong perayaan 70 tahun Gereja Toraja, keberanian menyatakan pembebasan bagi sesama dan alam semesta adalah bentuk syukur menyongsong perayaan tersebut. Sebab moment itu merupakan kesempatan mewujudkan tugas sebagai alat Allah untuk menyatakan misi-Nya bagi dunia ini.
Diposting tanggal 29 Dec 2016
