DIPERSEKUTUKAN DALAM KRISTUS UNTUK MELAYANI (Dipasipulung lan Kristus dikua anna ma’kamaya)
Bahan Khotbah Minggu Ke-4, 22 Januari 2017
DIPERSEKUTUKAN DALAM KRISTUS UNTUK MELAYANI
(Dipasipulung lan Kristus dikua anna ma’kamaya)
| Mazmur | Mazmur 27:4-9 |
| Bacaan 1 | Yesaya 9:1-6 |
| Bacaan 2 | 1 Korintus 1:10-17 |
| Bacaan 3 | Matius 4:12-22 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | Mazmur 9:2 |
| PHB | Matius 4:19 |
Tujuan :
1. Jemaat memahami bahwa kita telah dipersatukan di dalam Kristus.
2. Jemaat meyakini bahwa kebersamaan adalah wujud pertobatan
Pemamahan Teks
Kisah ini ditempatkan oleh Matius di antara dua peristiwa yang sangat penting dalam pelayanan Yesus. Peristiwa pertama yang mendahului teks psl 4:12-22 adalah pembabtisan Yesus oleh Yohanes (Mat. 3:13-17) dan tentang pencobaan Yesus yang dialami Yesus setelah Ia berpuasa selama 40 hari (Mat.4:1-11). Teks Injil Matius 4:12-22 mengisahkan dua tindakan Yesus sebelum memulai melayani orang-oarang pada waktu atau zaman itu. Yang dilakukan-Nya adalah mengenal wilayah pelayanan dalam hal ini Galilea dan mengajak beberapa orang menjadi rekan sekerja-Nya. Tentu pada waktu itu Yesus sudah dikenal di Yudea, terutama di dekat Yerusalem. Ketika keadaan politik di situ kurang menguntungkan, Ia menyingkir ke wilayah Galilea di utara dan tinggal beberapa waktu di kota tempat Ia dibesarkan, Nazaret. Tetapi kemudian pindah ke Kapernaum di tepi danau (ayat 12-14). Disitulah Ia memulai mewartakan kedatangan Kerajaan Surga (ayat 15). Ia juga memilih murid-murid yang pertama, yakni Simon Petrus dan saudaranya, Andreas, dan kemudian juga Yakobus dan Yohanes, kedua anak Zebedeus (ayat 18-22).
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan:
Pertama: Yesus Memulai Pelayanan-Nya (ay.12-17). Memulai pelayanan-Nya, Yesus pindah ke Galilea, mengapa? Yohanes Pembatis ditangkap (ayat 12), situasi politik pada waktu itu kurang menguntungkan. Yesus sangat memahami keadaan dan bertindak dengan cara yang tepat yakni berpindah tempat. Padahal, sesunguhnya Yesus memiliki peluang besar pada waktu itu di Yerusalem dan sekitarnya. Orang-orang di daerah itu haus akan kerohanian baru dan sangat mendambakan/merindukan ketenteraman batin. Kita ingat, banyak orang pergi ke padang gurun menemui Yohanes Pembabtis olehnya. Arus kerohanian ini membuat Herodes sangat was-was. Bisa-bisa penguasa Roma menganggap ada gerakan keagamaan yang mau memberontak. Maka Herodes pun mengamankan Yohanes Pembabtis yang juga pernah mengkritik kelakuan Herodes secara terang-terangan dan minta dibabtis (Lih. Mat.11:2-11). Bila Yesus tetap tinggal di Yerusalem atau di daerah Yudea, Ia tentu akan mendapat kesulitan yang sama. Karena itu ia menyingkir ke utara (ayat 12). Dalam Injil Matius, gagasan “menyingkir” memiliki arti menjauhi bahaya dengan bijaksana. Artinya, kadang-kadang memang lebih baik menghadapi kekuatan yang memusuhi dengan perhitungan bijaksana dan akal sehat daripada keberanian belaka. Apakah itu berarti Yesus takut? Tidak! Saat kematian Yesus belum tiba waktu itu. Ia bahkan sengaja melangkahkan kaki-Nya ke Yerusalem (Lih. Mat. 16:21-23; Mat. 20:17-19; Mat.26:1-2). Apa maksud Yesus hadir di Galilea? Yesus datang untuk menggenapi nubuat Perjanjian Lama (ay.15-16 adalah kutipan bebas Yesaya 9:1), yakni memberitakan Kerajaan Sorga (ay.17). Konsekuensi hadirnya Kerajaan Surga adalah Bertobatlah. Dalam konteks ini bertobat dalam hal ini tidak sekedar merujuk pada kata kapok karena dihajar tetapi untuk membuka pikiran dan hati orang. Yang ditawarkan disini ialah “Kerajaan Surga” yang sudah dekat, terang itu sudah ada disini. Dengan demikian, kita diajak untuk melihat kehidupan ini dalam terang sinar wajah Tuhan yang telah dipalingkan kepada manusia di dalam Yesus Kristus. Karya Yesus menyembuhkan orang, mengusir roh jahat, memberi makan orang banyak, mengajarkan jalan kebenaran menunjukkan karya Yesus mewujudkan Kerejaan Surga. Sebab memang maksud Yesus datang untuk melayani bukan untuk dilayani (Matius 20:28)
Kedua: Yesus memanggil murid-muridNya (ay.18-22). Dalam memulai perjalanan pelayanan-Nya, Matius juga menceritakan Yesus memilih atau memanggil rekan sekerja yakni mereka yang kemudian disebut murid-murid-Nya. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah mengerjakan pekerjaan mereka menjala ikan sebagai nelayan. (ay.18-20). Mereka segera meninggalkan jala mereka untuk mengikut Yesus. Demikian juga Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu serta ayah mereka (ay.21-22). Orang-orang ini melihat wajah Tuhan yang memandangi mereka dan mereka tidak ingin kehilangan lagi. Mereka dipanggil untuk menjadi penjala manusia (ay.19). Apa artinya penjala manusia? Lukas 5:10 menjelaskan “penjala manusia” sebagai ‘anthropous (ese) zogron”, artinya memegang manusia untuk membawa kepada kehidupan. Tanggung jawab murid bukan menangkapi atau membatis (1 Kor.1:17), tetapi mendukung, menuntun, memelihara, menguatkan agar orang bisa hidup terus dan menemukan jalan mereka (istilah yang popular “merawat kehidupan”) sebagaimana inti dari “Kerajaan Surga”. Hal ini juga yang ditekankan Paulus dalam 1 Korintus 1:17 tentang tugas pengutusannya memberitakan Injil agar salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Artinya Paulus ingin menegaskan bahwa tugas dirinya dan semua warga jemaat yang telah dipersatukan oleh Allah bukannya sibuk dengan hal-hal lain dalam persekutuan yang hanya akan menimbulkan perpecahan dalam jemaat, melainkan mengambil bagian dalam pelayanan “Kerajaan Allah” sebagai esensi atau tugas pokok panggilan gereja dalam dunia dan masyarakatnya.
Aplikasi
Pertama: Yesus Kristus telah memulai segala yang baik dalam hidup kita. “Kerajaan Surga” telah, sementara, dan masih terus dikerjakan-Nya di dalam dunia ini. Yesus terus menuntun, mememelihara, menguatkan, menghiburkan, memulihkan, menguatkan agar kita bisa tetap hidup sampai kita tiba pada kesempurnaan bersama-Nya nanti. Artinya, Yesus tidak membiarkan kita berjalan sendiri.
Kedua: Bertobatlah. Kita mesti bertobat tak kala kita tidak lagi menjadi murid-murid atau kawan sekerja Allah yang setia mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah melalui pelayanan kita. Segala kesibukan bergereja yang mengabaikan panggilan melayani bersama Allah dalam kerajaan-Nya mesti ditinggalkan sebagaimana para murid “meninggalkan kesibukan lahiriah mereka”. Yang utama dalam kekristenan bukan sekedar mengikuti suami/istri, orang tua, pendeta, ataupun aliran gereja tertentu, tetapi betul-betul mengikut Yesusnya sebagaimana ditegaskan oleh Yesus sendiri ‘Ikutlah Aku’ (ay.19). Murid-murid yang pintar mengelola, kini dipanggil menjadi pengelola terang bagi manusia, bukan mengelola manusia demi terang, itu pula hakikat dipersatukannya gereja oleh tubuh dan darah Yesus.
Diposting tanggal 29 Dec 2016
