Bahan Khotbah Minggu Ke-17 Tanggal 26 April 2020 HIDUP KUDUS SEBAGAI MANUSIA YANG DITEBUS Tuo Masero Susi Sipato’na To Mangka Di La’bak
Bahan Khotbah Minggu Ke-17 Tanggal 26 April 2020
HIDUP KUDUS SEBAGAI MANUSIA YANG DITEBUS
Tuo Masero Susi Sipato’na To Mangka Di La’bak
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 116:1-19 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 2:36-40 |
| Bacaan 2 | : 1 Petrus 1:13-25 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Lukas 24:13-35 |
| Nas Persembahan | : Matius 5:24 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 1 Petrus 1:18-19 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami arti penebusan dalam Kristus
2.Jemaat hidup menguduskan hidupnya sebagai orang yang telah ditebus
Pemahaman Teks
Mazmur 116:1-19 menggambarkan sikap dan rasa syukur kepada Allah atas kelepasan dari malapetaka yang besar. Karena itu, pemazmur menaikkan ucapan syukur atas kelepasan tersebut.
Kisah Para Rasul 2:36-40 menceritakan tentang khotbah Petrus pasca Pentakosta. Petrus dengan berani dan lantang berkhotbah di depan banyak orang, bahwa Yesus yang mereka salibkan, telah menjadi Tuhan dan Kristus. Mendengar khotbah Petrus, orang banyak bereaksi: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" (ay.37). Petrus merespon kesempatan emas ini dengan memberikan jawaban, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus” (ay.38).
1 Petrus 1:13-25 merupakan ajaran mengenai respons yang diharapkan sebagai anak-anak Tuhan. Dalam perikop sebelumnya, Petrus sudah memaparkan betapa karya Kristus yang besar telah membangkitkan kita dari antara orang mati, serta memberikan pengharapan dan kekuatan baru. Bahkan kematian Kristus itu pun telah memberikan kita keselamatan. Kita yang diselamatkan memiliki kehidupan yang baru, karena kita telah diubah menjadi manusia baru. Betapa kita bersyukur atas semua karya Tuhan yang dilimpahkan kepada kita.
Lukas 24:13-35 menceritakan tentang dua murid Yesus yang sedang galau dan sedang berjalan menuju ke Emaus. Lukas tidak menjelaskan apa tujuan mereka ke sana. Menarik bahwa dari cerita yang kita baca, dalam perjalanan yang penuh kegalauan menuju Emaus, di tengah jalan yang melelahkan hadirlah Yesus dan berjalan bersama mereka. Namun demikian, ada sesuatu yang menghalangi mereka, sehingga mereka tidak mengenali Yesus yang telah bangkit dan kini berjalan bersama mereka. Hidup kita terkadang seperti dua orang yang berjalan ke Emaus. Yesus ada dan berjalan bersama dengan kita menapaki hidup ini, namun kadang kita tidak mengenali betapa Yesus hadir dan berjalan bersama kita.
- dari keempat bacaan di atas terhubung dalam sebuah gagasan, bahwa kita manusia yang berada dalam ketidakberdayaan dan mengalami malapetaka, sesungguhnya tidak bisa melepaskan diri kita sendiri. Kita butuhkan penolong. Dalam kondisi seperti itulah Sang Penolong yaitu Yesus Kristus datang untuk menolong dan melepaskan kita. Di dalam kemenangan-Nya kita beroleh selamat dan kita menjadi manusia baru yang dikuduskan dalam darah-Nya. Penyertaan-Nya tidak pernah berkesudahan. Ia selalu hadir menyertai kita di perjalanan hidup ini, meskipun seringkali kita tidak mengenal kalau Dia yang hadir. Salah satu penyebabnya ialah karena kita kurang percaya. Ketika kita di tolong oleh orang lain sebenarnya yang hadir menolong kita adalah Yesus melalui orang yang Ia hadirkan untuk kita. Kita dituntut untuk selalu menyatakan tanda-tanda hidup kudus melalui kata dan perbuatan.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
Bacaan 1 Petrus 1:13-25 menguraikan beberapa hal yaitu:
1. Ayat 13. Sebab itu siapkanlah akal budimu. Ayat ini hendak menjelskan
bahwa:
- Pekerjaan utama orang Kristen terletak pada bagaimana mengatur dengan benar hati dan pikirannya. Anjuran pertama dari Rasul Petrus adalah mempersiapkan akal budi.
- Orang-orang Kristen yang terbaik sekalipun perlu dinasihati supaya waspada atau menahan diri dalam berbagai hal.
- Kepercayaan yang kuat dan sempurna pada anugerah Allah betul-betul selaras dengan daya upaya terbaik kita dalam menjalankan kewajiban kita.
2. Ayat 14. Sebagai anak-anak yang taat. Perkataan ini dapat dipandang
sebagai:
- Pedoman hidup kudus, baik yang bersifat menegaskan, yakni “Kamu harus hidup sebagai anak-anak yang taat, seperti orang-orang yang sudah diangkat Allah menjadi anggota keluarga-Nya, dan diperbaharui oleh anugerah-Nya,” maupun bersifat melarang, yakni “Kamu tidak boleh menuruti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.” Atau perkataan itu dapat dipandang sebagai alasan untuk mendesak mereka supaya hidup kudus dengan menimbang siapa mereka sekarang, yaitu anak-anak yang taat, serta siapa mereka pada waktu mereka hidup menurut hawa nafsu dan kebodohan.
- Anak-anak Allah harus membuktikan diri sebagai anak-anak yang taat kepada Allah.
3. Ayat 15-16. Tetapi sama seperti Dia yang telah memanggil kamu. Di sini ada pedoman luhur yang ditegaskan dengan alasan yang kuat: Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu.
- Anugerah Allah memanggil orang berdosa merupakan ajakan yang kuat untuk hidup kudus. Sungguh suatu perkenanan yang besar jika kita berhasil dipanggil oleh anugerah ilahi untuk keluar dari keadaan berdosa dan kesengsaraan ke dalam keadaan di mana kita memiliki semua berkat dari perjanjian baru. Dan perkenanan yang besar berarti kewajiban yang kuat yang memampukan dan juga mewajibkan kita untuk hidup kudus.
- Kekudusan itu menjangkau seluruh hidup kita, dan dalam semua perkara: perkara kemasyarakatan dan agama, dalam setiap keadaan dengan meneladani teladan Yesus.
4. Ayat 17. Jika kamu menyebutnya Bapa. Rasul Petrus sama sekali tidak bermaksud meragukan apakah orang Kristen ini menyebut Allah itu Bapa atau tidak. Ia tahu mereka pasti memanggilnya Bapa, dan oleh karena itu ia menasihati mereka untuk hidup dalam ketaatan selama mereka menumpang di dunia ini. Karena itu:
- Semua orang Kristen memandang diri mereka sebagai peziarah yang telah dipanggil dan diutus ke dalam dunia.
- Orang Kristen telah ditebus, atau dibeli kembali, dengan tebusan yang dibayarkan kepada Bapa. Harga yang dibayar untuk menebus orang berdosa, bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus.
- Darah Yesus adalah satu-satunya harga penebusan manusia. Penebusan itu nyata, bukan kiasan, kita dibeli dengan harga dan sepadan dengan pembeliannya yaitu darah Yesus yang mulia.
5. Ayat 20-21. Setelah menyebutkan harga penebusan, Rasul Petrus melanjutkan dengan berbicara tentang beberapa hal yang berkaitan baik dengan Sang Penebus maupun yang ditebusnya. Sang Penebus digambarkan bukan hanya sebagai Anak Domba yang tak bercacat melainkan juga sebagai yang telah dipilih sebelum dunia dijadikan. Selain itu umat yang ditebus juga digambarkan dengan iman yang ditimbulkan oleh Yesus Kristus: “Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, oleh Dia sebagai Pemimpin, Pendorong, Penopang, dan penyempurna iman. Sekarang kita dapat beriman dan berharap kepada Allah, yang sudah diperdamaikan dengan kamu oleh Kristus Sang Pengantara.”
Diposting tanggal 22 Apr 2020
