KASIH YANG MELAMPAUI BATAS (Pa’kaboro’ tangdianggean)

Bahan Khotbah Minggu Ke-8, 19 Februari 2017

KASIH YANG MELAMPAUI BATAS

(Pa’kaboro’ tangdianggean)

 

Mazmur Mazmur 119:33-40
Bacaan 1 Imamat 19:1-18
Bacaan 2 1 Korintus 3:10-23
Bacaan 3 Matius 5:38-48 (Bahan Utama)
Nas Persembahan Imamat 19:5
PHB Matius 5:48

 

Tujuan:

1. Jemaat memahami bahwa kasih Kristus melampui batas-batas yang ada.

2. Jemaat semakin meyakini bahwa Kristus itulah dasar Gereja Toraja.

3. Jemaat semakin memperdulikan kehidupan kasih yang tanpa batas.

 

Pemahaman Teks

Teks ini merupakan bagian dari khotbah Yesus di bukit (Mat.5-7). Jika dicermati dengan baik maka Matius menarasikan peristiwa-peristiwa di sekitar Yesus dengan salah satu tujuan memberi tekanan pada pentingnya pemuridan. Pemuridan itu akan mencakupi seluruh umat manusia (Mat.28:1-9). Matius menarasikan bagaimana Yesus memulai pelayanan-Nya dengan memilih murid-murid yang akan dipersiapkan sebagai penerus karya-Nya dalam dunia ini (Mat.1:18-22). Setelah ia memilih murid-murid-Nya, ia pun memperlengkapi mereka dengan ajaran tentang bagaimana mereka menjalani status atau kehidupan sebagai murid. Ajaran ini dikenal dengan istilah khotbah di bukit.

Matius 5:43-48 merupakan bagian ajaran Yesus yang sangat kontras dengan realitas yang ada dalam kehidupan umat Israel. Kasih seorang murid Kristus adalah kasih yang jauh berbeda dengan kasih yang dipraktekan manusia pada umumnya, termasuk kasih yang diterapkan oleh bangsa Israel. Kasih yang tidak lasim. Kasih ini lahir dari penghayatan yang dalam akan jati diri manusia awal, sebagai gambar dan rupa Allah. Kasih yang menyadari bahwa Allah sesungguhnya menciptakan manusia dalam kesetaraan (egalitarian) tanpa perbedaan. Ia dicipta menurut gambar dan rupa Allah (Kej.1:26-28). Namun karena dosa maka manusia yang telah diciptakan oleh Allah itu membuat sekat-sekat antara satu dengan yang lainnya. Satu bangsa dengan bangsa lainnya, satu kelompok dengan kelompok lainnya, masing-masing menonjolkan diri dan mengangap diri lebih unggul dari yang lainnya. Kenyataan itu berlangsung terus sepanjang sejarah umat manusia. Israel pun yang telah dipilih oleh Allah untuk menyatakan kasih agung dari Allah itu kepada bangsa-bangsa lain menjadi lupa akan maksud Allah memilih mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (Kej. 12:3). Hal itu nyata melalui praktek hidup yang membeda-bedakan orang lain termasuk membalas kejahatan dengan kejahatan dan mempraktekkan kitab Taurat secara harafiah dan lepas dari substansinya (5:38,43).

Sebagai komunitas baru para murid Kristus dipanggil untuk menampilkan gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup seorang murid Kristus. Gaya hidup sebagai orang-orang yang telah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Pola hidup yang menerapkan kasih yang melampaui batas-batas yang dibuat oleh manusia baik itu suku, agama, warna kulit, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan sebagainya. Murid sejati seharusnya menunjukan kasih sama seperti kasih yang ditunjukan Allah. Allah menerbitkan matahari-Nya untuk menyinari orang baik maupun orang jahat. Ia juga menurunkan hujan-Nya bagi orang benar maupun orang yang tidak benar maka seorang murid pun seyogianya bertindak yang sama. Tidak hanya itu, Yesus pun malah meminta para pengikutnya untuk berbuat kebajikan dan berdoa bagi musuh-musuhnya (ay.44). Praktek kasih yang demikianlah yang dapat menunjukan kesejatian atau kesempurnaan seorang murid Kristus. Kesempurnaan manusia dalam kasih itulah, maksud Allah menjadikan manusia sebagai gambar dan rupa-Nya. Demi tujuan kesempurnaan itu jugalah, sehingga Allah merelakan Putra-Nya yang tunggal menebus manusia yang berdosa agar kembali ke jati dirinya sebagai gambar dan rupa Allah.

Kesempurnaan hidup murid Kristus atau orang percaya hanya dimungkinkan bila hatinya sungguh terpaut pada Allah dan Taurat-Nya semata dan tidak condong kepada hal-hal hampa yang ditawarkan oleh dunia ini (Maz.119:33-40). Hal itu juga dapat dibuktikan melalui upaya menjaga kekudusan hidup di hadapan Allah. Kekudusan itu dibuktikan melalui kasih kepada sesama seperti diri sendiri yang diwujudkan melalui relasi dengan Allah, keluarga, lingkungan hidup dan orang yang berbeda keyakinan termasuk penegakkan keadilan tanpa pandang bulu (Im.18:1-18). Selain itu, kasih yang melampaui sejati itu juga harus dipraktekkan dalam persekutuan jemaat tanpa sekat-sekat seperti nasihat Paulus kepada jemaat di Korintus karena mereka memiliki dasar yang sama yaitu Yesus Kristus (1 Kor. 3:10-23).

 

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan

Pertama, pembedaan orang berdasarkan latar belakang suku, agama, warna kulit, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan sebagainya merupakan realitas yang mewarnai kehidupan manusia dari dulu sampai sekarang. Ironisnya pembedaan itulah yang menimbulkan sekat-sekat dalam masyarakat. Lama-kelamaan sekat-sekat itu makin tajam dan akhirnya berujung pada konflik yang berkepanjangan dalam kehidupan bermasyarakat. Konflik demi konflik tidak pernah berakhir karena setiap kelompok masyarakat yang ada selalu berusaha mengunggulkan diri dan kelompoknya dari yang lain. Parahnya luka yang dialami di masa lalu diwariskan dari generasi ke generasi sehingga mata rantai kekerasan selalu mengalami reproduksi dari waktu ke waktu dengan nuansa dan wajah yang berbeda tetapi tetap dengan spirit dendam masa lalu.

Kedua, iklim permusuhan yang tak pernah berakhir dari generasi ke generasi seharusnya menjadi peluang bagi orang percaya untuk menghadirkan kasih yang menyejukkan bagi semua orang tanpa pandang bulu. Kasih yang tulus, Kasih tanpa pamrih. Peryataaan kasih yang kita wujudkan kepada sesama tersebut menjadi tanda bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita adalah gambar dan rupa Allah. Jika Allah mengasihi semua orang maka sebagai gambar dan rupa Allah seharusnya kita pun seyogianya menyatakan tindakan dan kebajikan Allah juga kepada semua orang.

Ketiga, Allah mengasihi semua orang tanpa motif dan pertimbangan tertentu. Kasih itu nyata melalui penyataan umum seperti menerbitkan matahari dan hujan bagi semua orang terlebih lagi kasih-Nya kepada manusia yang berdosa melalui penyataan khusus di dalam karya Kristus di Kayu salib (Yoh. 3:16). Sebagai murid Kristus masa kini, kita pun dipanggil menyatakan kasih yang sama. Melalui praktek kasih yang melampaui batas dan tanpa motif dan pertimbangan tertentu. Dengan jalan itulah kesempurnaan atau kesejatian kita sebagai murid Kristus dinyatakan melalui totalitas pelayanan dan hidup yang kita jalani sehari-hari. Kesempurnaan dalam kasih demikianlah yang dikehendaki oleh Allah karena untuk itulah tujuan kita diciptakan dan ditebus oleh Allah di dalam Kristus

 

Aplikasi

Pertama, praktek kasih dalam semua budaya manusia pada umumnya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Kasih yang dipraktekkan dalam kebudayaan Toraja pun mengalami kenyataan yang sama, baik dalam Rambu Solo’ maupun dalam Rambu Tuka’. Dalam upacara tersebut umumnya praktek berbudaya yang ada ialah mereka membantu atau berpartisipasi dalam bentuk kerbau, babi atau yang lainnya dengan harapan akan dikembalikan jika mereka mengalami hal yang sama. Selain itu, dibeberapa tempat masih sangat kental feodalisme masa lalu yang mengkotak-kotakkan masyarakat Toraja dengan pembedaan starata sosial yang dalam masyarakat Toraja dikenal dengan istilah tana’ (tana’ Bulaan, tana’ Bassi, Tana’ Karurung dan Tana’ Kua-Kua). Bahkan tanpa disadari pula juga mulai muncul kelas-kelas baru dalam masyarakat karena kesamaan profesi, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan sebagainya. Dalam kondisi demikianlah para murid Kristus dipanggil mempraktekkan Kasih Allah yang melampaui sekat-sekat atau batas yang dibuat oleh manusia. Orang percaya seharusnya menampilkan gaya hidup yang berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Gaya hidup yang menjadikan kasih tanpa batas itu menjadi alternatif dalam membangun kehidupan bersama yang harmonis dan damai baik dalam persekutuan jemaat maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pelaksanaan kasih yang seperti itulah menjadi ukuran bahwa kita sungguh-sungguh adalah murid Kristus yang sempurna sama seperti Allah adalah sempurna (ay.48).

Kedua, kasih yang melampaui batas tidak hanya diajarakan oleh Yesus semasa hidup di dunia ini, tetapi juga dipraktekkan langsung sendiri oleh Yesus dengan jalan kerelaan-Nya mengasihi musuh-musuh-Nya termasuk kita orang berdosa. Musuh Allah yang sebenarnya ialah orang yang berdosa tetapi karena kasih dan anugerah-Nya semata sehingga Ia rela menjadi manusia menggantikan orang berdosa supaya kesegambarannya dengan Allah dipulihkan kembali. Berbekal kasih Allah yang tiada taranya itu kita pun sebagai pengikutnya pada masa kini didorong dan disemangati untuk mengikuti pola dan teladan yang ditinggalkannya untuk menyatakan kasih yang sama. Kasih yang universal. Kasih tanpa Pamrih. Kasih yang tidak diskriminatif. Kasih yang tulus. Kasih yang melampaui batas.


Diposting tanggal 30 Jan 2017

Daftar Artikel

1 Petrus 1:13-25 merupakan ajaran mengenai respons yang diharapkan sebagai anak-anak Tuhan. Dalam pe.....

Selengkapnya ..

Paulus menegaskan bahwa Yesus dibangkitkan sebagai yang sulung dari yang meninggal (ay.20). Yesus ad.....

Selengkapnya ..

Paulus dengan tegas memberikan kesaksian tentang kebangkitan orang mati. Hal itu disampaikan kepada .....

Selengkapnya ..

Mazmur 114 merupakan respons terhadap cara Tuhan yang bekerja dalam hidup umat-Nya ketika mereka ma.....

Selengkapnya ..

Daud mengalami masalah dan berharap lepas dari masalah itu. Lalu apa yang ia lakukan? Ia berdoa kepa.....

Selengkapnya ..

Amsal 2:11-22 menuliskan bahwa hikmat tergambar dalam “kebijaksanaan yang memelihara, serta ke.....

Selengkapnya ..

Hal yang menjadi ciri khas dari kitab Amsal ialah Hikmat. Salomo selalu menekankan mengenai manusia .....

Selengkapnya ..

Saat bangsa Israel tiba di sungai Yordan, mereka bermalam disitu selama tiga hari dan sesudah lewat .....

Selengkapnya ..

Kisah Para Rasul 2:22-32 menjelaskan tentang keberadaan Petrus yang tidak lagi memiliki keraguan ber.....

Selengkapnya ..

Paulus menasihatkan kepada Jemaat di Efesus, bahwa kehidupan manusia didalam dunia ini adalah sebuah.....

Selengkapnya ..

Daud sedang mengalami pergumulan yang membuatnya begitu cemas dan hampir putus asa. Ia sedang dikeja.....

Selengkapnya ..

Daud adalah pribadi yang dekat dengan Tuhan, juga pernah mengalami situasi demikian. Daud merasa tid.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...