Bahan Khotbah Minggu Ke-5 Tanggal 3 Februari 2019 SETIALAH PADA PANGGILANMU (Karitutui tu Kaditambaianmu)
Bahan Khotbah Minggu Ke-5 Tanggal 3 Februari 2019
SETIALAH PADA PANGGILANMU
(Karitutui tu Kaditambaianmu)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 71:1-6 |
| Bacaan 1 | : Yeremia 1:4-10 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Korintus 13:1-13 |
| Bacaan 3 | : Lukas 4:21-30 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 138:1-2 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 1 Korintus 13:2 |
Tujuan:
1. Warga jemaat memahami pentingnya sebuah panggilan.
2. Warga Jemaat mempraktikkan kesetiaan terhadap panggilan hidupnya.
Pemahaman Teks
Yeremia dipanggil dan bernubuat ketika Yosia memerintah sebagai raja di Yehuda yang sudah menjadi jajahan Asyur. Hidup keagamaan orang Yehuda sebelumnya sungguh menyedihkan karena telah membawa penyembahan berhala ke dalam rumah Tuhan. Yosia dalam tahun 12 pemerintahannya mulai mengadakan pembaharuan dengan dengan merusak dan menyingkirkan semua patung berhala dan mulai melakukan pemusatan ibadah di Yerusalem. Pemanggilan Yeremia sebagai nabi sejalan dengan pembaruan yang dilakukan oleh raja Yosia.
Yeremia 1:4-10 menguraikan tentang pemanggilan dan pengutusan Yeremia sebagai nabi untuk menyampaikan Firman Tuhan ke tengah-tengah bangsa Yehuda. Paling tidak ada empat hal penting dari pemanggilan Yeremia yang perlu menjadi perhatian kita, yaitu: pertama, Allah telah mengenal Yeremia sebelum ia dibentuk dalam di dalam rahim ibunya (ay.5); kedua, sebelum ia lahir, Yeremia sudah dikuduskan dan ditetapkan sebagai nabi (ay.5,9); ketiga, Yeremia dipanggil pada usia yang masih muda (ay.6); keempat: tugas utama pengutusan Yeremia adalah untuk mencabut, merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, serta sekaligus untuk membangun dan menanam (ay.10). Allah mengenal baik siapa yang dipanggil-Nya. Ia tidak pernah salah pilih. Ia bahkan menjamin akan menyertai dan menjaga orang-orang yang diutus-Nya (ay.8). Tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah untuk memakai siapapun yang dikehendaki-Nya sebagai saksi-Nya. Ia sendiri yang akan memperlengkapi orang yang dipilih-Nya untuk melaksanakan tugas pengutusannya (ay.9).
Perikop 1 Korintus 13:1-13 berisi penjelasan Paulus kepada jemaat di Korintus mengenai kesalahpahaman mereka tentang karunia-karunia lahiriah. Bagi Paulus, kasih adalah yang terutama di antara karunia-karunia lahiriah. Semua karunia sehebat apapun akan sia-sia adanya tanpa kasih. Kasih adalah karunia yang paling utama untuk membangun tubuh Kristus. Kasih yang dimaksud di sini adalah kasih tanpa pamrih sebagaimana yang telah dipraktikkan Yesus dalam mewujudkan misi-Nya menyelamatkan manusia. Kemampuan dan karunia berbicara, bernubuat, memiliki semua pengetahuan dan hikmat manusia dan beragam karunia lainnya, bukan berarti tidak penting dan tidak perlu. Namun menjadi tidak berarti jika tidak ada kasih yang menjadi dasar utamanya. Kasih tanpa pamrih inilah yang harus menjadi dasar bagi orang percaya dalam mewujudkan panggilan hidupnya sehari-hari. Karena dengan kasih tanpa pamrih itulah yang menjadi pemicu dan pemacu sekaligus sebagai dasar, bingkai, dan isi dari kesaksian setiap orang untuk tetap setia dalam melaksanakan tugas panggilannya
Lukas 4:21-30 adalah penegasan Yesus Kristus tentang salah satu nubuatan nabi Yesaya yang telah digenapi dalam diri-Nya. Melalui pengajaran-Nya, orang banyak yang mendengar membenarkan dan sekaligus heran dan takjub akan kemahiran Yesus dalam mengajar. Mereka menjadi heran karena mereka tahu bahwa Yesus ini adalah anak Yusuf tetapi memiliki kemampuan yang menakjubkan. Namun bersamaan dengan itu mereka menjadi kesal dan marah karena menganggap bahwa Yesus menafsirkan sesuka hati nubuatan Yesaya itu, bahkan menggunakannya untuk menyerang dan membongkar kedok mereka. Pengajaran Yesus melalui kata-kata yang indah membuat mereka senang bercampur heran. Namun sikap mereka berubah menjadi kebencian dan marah ketika Yesus mulai menyinggung “perasaan” mereka. Setiap pengkhotbah tentu perlu meneladani sikap Yesus ini. Kebenaran tidak boleh disembunyikan karena alasan kekuatiran membuat para pendengar tersinggung. Kebenaran hendaknya disampaikan secara lantang dan tegas.
Pokok-pokok pengembangan khotbah
-
Setiap orang Kristen adalah orang yang dikasihi, dipilih, dipanggil dan diselamatkan Allah di dalam dan melalui karya pengorbanan Yesus Kristus. Oleh karena itu kita bertanggung jawab untuk menghidupi kasih, pilihan, dan panggilan Allah itu dalam kehidupan sehari-hari. Bersamaan dengan itu, kita pun diberi tugas dan tanggung jawab untuk menyampaikan dan memberitakan kehendak Allah kepada siapapun dan kapanpun melalui kata dan perbuatan sehari-hari. Oleh karena itu tugas kesaksian dan pelayanan bukan hanya tanggung jawab pejabat gereja, tetapi semua orang percaya. Gereja Toraja mengakui adanya jabatan Imamat Am Orang Percaya, yakni jabatan sebagai raja, imam, dan nabi (silahkan pengkhotbah menjelaskan ketiga jabatan imamat am ini). Sebagai orang yang dipanggil sekaligus diutus, kita yakin sepenuhnya bahwa Dia yang telah memilih, memanggil dan mengutus kita, juga akan memperlengkapi kita dengan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk melaksanakan tugas panggilan, kesaksian dan pelayanan kita.
-
Untuk dapat mewujudkan tugas kesaksian dan panggilan sebagaimana tersebut di atas, maka syarat utamanya adalah kesetiaan. Panggilan Allah itu tidak tergantung pada pertimbangan manusiawi, tetapi pada kesetiaan melaksanakan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Dalam ayat 7, kepada Yeremia ditegaskan janganlah kau katakan aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu haruslah kau sampaikan. Tidak ada tawar menawar tentang apa dan kapan kita harus menyampaikan kehendak Tuhan. Karena itu berbagai alasan yang seringkali dikemukakan berdasarkan logika dan pertimbangan manusiawi, seperti alasan masih muda dan tidak pandai bicara (ay.6) atau beragam alasan lainnya, hendaknya dikesampingkan. Kesetiaan adalah salah satu sikap yang juga ditekankan Yesus dalam pengajaran-pengajaran-Nya, misalnya saat berbicara mengenai penggunaan talenta dalam Matius 25:14-30 (bnd. Luk. 19:11-27), atau juga dalam Lukas 16:10-13. Menurut Yesus, jika seseorang setia dalam perkara kecil, pasti setia dalam perkara yang lebih besar (pengkhotbah dapat mengangkat kisah-kisah dari Perjanjian Lama tentang orang-orang yang tetap setia pada panggilannya, seperti: Nuh, Yusuf, Daniel, dll, atau kisah-kisah nyata lainnya yang dapat menjadi inspirasi dan memberi penguatan tentang pentingnya kesetiaan).
-
Selain kesetiaan, faktor lain yang sama pentingnya adalah kasih. Orang percaya adalah orang-orang yang telah menerima kasih sejati dari Allah di dalam dan melalui Yesus. Orang percaya diberi tugas dan diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi mewartakan kasih dalam setiap situasi kehidupan sehari-hari. Kasih tanpa pamrih adalah suatu penanda kualitas dan kualifikasi dari orang-orang yang telah menerima dan menikmati kasih Allah, yang wajib diwujudkan dalam hubungan dengan siapapun. Interaksi dan komunikasi dengan sesama akan sangat bermakna jika didasari oleh kasih. Paulus lebih jauh menegaskan wuud kasih itu dengan mengatakan, bahwa “kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakbenaran tetapi ia bersukacita karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor. 13:4-7). Yeremia dipanggil dan diutus untuk menyampaikan kehendak Tuhan bagi bangsanya karena Tuhan begitu mengasihi mereka. Bagi Yesus, kasih kepada Allah dan sesama manusia adalah hukum yang utama dan pertama bagi setiap orang percaya (Mat. 22:37-40).
Kesetiaan untuk menyuarakan kebenaran dan kehendak Allah sangat mungkin diperhadapkan dengan tantangan, penolakan dan perlawanan, bukan hanya yang berasal dari luar, tetapi juga dari kalangan diri sendiri. Apalagi kalau yang bersangkutan merasa terganggu, terusik, atau terancam dari “zona nyaman” yang selama ini telah dihidupi dan dinikmatinya. Ini adalah resiko dan konsekwensi logis yang harus dihadapi oleh para pejuang kebenaran, keadilan dan kebaikan. Orang Kristen harus berani menyampaikan kebenaran dan meluruskan sesuatu yang menyimpang, meskipun harus menerima kritik, kecaman atau bahkan ancaman. Tugas pengutusan orang percaya adalah untuk mencabut, merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan berbagai hal yang tidak benar, serta sekaligus membangun dan menanam tata kehidupan yang sesuai kehendak Tuhan. Orang percaya yang setia pada panggilannya tetap akan menyatakan dan memberitakan kebenaran, sekalipun ia menghadapi banyak tantangan, karena ia yakin sepenuhnya bahwa Tuhan akan tetap menjaga dan memeliharanya.
Diposting tanggal 29 Jan 2019
