Rabu, 23 Januari 2019 Kidung Agung 4:9-15 KASIH ALLAH DAN KESUCIAN MANUSIA Pa’kaboro’Na Puang na Kamaseroanna Tolino
Rabu, 23 Januari 2019 Kidung Agung 4:9-15
KASIH ALLAH DAN KESUCIAN MANUSIA
Pa’kaboro’Na Puang na Kamaseroanna Tolino
Suatu hari di kelas paud sang guru menyuruh anak-anak untuk membawa apa saja yang menurut mereka paling bersih di rumahnya. Keesokan harinya masing-masing siswa pun mengeluarkan semua barang yang mereka bawa. Namun ada seorang anak yang tidak membawa apa-apa, kecuali membawa sebotol air bersih. Guru tersebut pun bertanya, mengapa sang anak hanya membawa sebotol air? Dengan polos anak itu menjawab, “Air inilah barang yang paling bersih di rumah. Ibu mencuci piring dan baju kotor dengan air ini. Bahkan saya bersama semua keluarga juga membersihkan tubuh dengan air ini. Ini berarti air inilah benda yang paling bersih di rumah”.
Di Timur, sebagian besar rempah-rempah dianggap sebagai barang mewah yang berharga, karena harganya yang sangat mahal. Di dalam pembacaan kita, mempelai pria memuji keindahan mempelai wanita dengan mengibaratkannya seperti rempah-rempah dan juga wangi-wangian (ay. 10,13,14) yang nilainya sangat berharga, sehingga membuat mempelai pria bangga memilikinya. Hatinya berdebar setiap kali melihat mempelai wanitanya (ay. 9). Keadaan ini adalah gambaran kesucian hidup yang tetap dijaga oleh sang mempelai wanita.
Air yang kotor tidak mungkin digunakan untuk membersihkan yang kotor. Karena itu, kasih Allah di dalam Yesus Kristus menyucikan kita dari kehidupan yang penuh dengan dosa agar kita dapat menjadi alat Tuhan. Kesucian hidup dibutuhkan sebagai sebuah respon kita atas kasih dan kebaikan Tuhan dalam kehidupan manusia. Ini adalah standar hidup manusia yang percaya kepada Yesus Kristus. Tidak bisa tidak untuk tidak dilakukan, jika kita ingin menyenangkan hati Tuhan maka yang harus kita lakukan adalah menjaga kesucian itu di hadapan-Nya.
Diposting tanggal 17 Jan 2019
