Bahan Khotbah Minggu ke-36 Tanggal 8 September 2019 KESUNGGUHAN HATI MENGIKUT YESUS (Lantuk Penaa Unturu’ Puang Yesu)
Bahan Khotbah Minggu ke-36 Tanggal 8 September 2019
KESUNGGUHAN HATI MENGIKUT YESUS
(Lantuk Penaa Unturu’ Puang Yesu)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 1: 1-6 |
| Bacaan 1 | : Yeremia 18:1-11 |
| Bacaan 2 | : Filemon 1:1-21 |
| Bacaan 3 | : Lukas 14: 25-35 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Roma 12:1 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Lukas 14:35. |
Tujuan:
1.Jemaat memahami bahwa Tuhan menuntut kesungguhan hati untuk mengikut Yesus.
2.Jemaat memiliki kesungguhan hati dalam mengikut Yesus dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman Teks
Lukas 14:25-35 adalah bagian dari pengajaran Yesus yang dilakukan-Nya dalam perjalanan menuju Yerusalem, tempat Ia akan mengalami penderitaan dan kematian-Nya. Banyak orang yang datang berduyun-duyun mengikuti-Nya (ay. 25), namun mereka tidak menyadari bahwa Yesus justru sedang dalam perjalanan menuju penderitaan dan kematian-Nya. Mereka menyangka bahwa mengikuti Yesus pasti selalu menyenangkan, sebab akan penuh dengan mujizat dan tanda ajaib yang bisa membuat mereka takjub dan makin tertarik mengikuti-Nya. Mereka memiliki harapan yang besar sekali, bahwa Yesus akan segera mewujudkan secara lahiriah janji Tuhan akan datangnya Kerajaan Allah (bnd. Luk. 19:11; Kis. 1:6;). Benar bahwa kedatangan Yesus memang untuk menghadirkan dan memproklamasikan datangnya Kerajaan Allah, namun tidak seperti yang dipikirkan dan yang diharapkan orang banyak itu. Melalui pengajaran-Nya ini, Yesus melawan dan membalikkan pandangan yang keliru tersebut. Hal mengikut Yesus pertama-tama haruslah berangkat dari hati dan komitmen yang sungguh-sungguh.
Dalam ayat 26-27 (bnd. Mat. 10:37-38), Yesus secara tegas menguraikan tentang syarat mutlak yang harus dipenuhi kalau mau mengikut Dia. Dibandingkan dengan rumusan dalam Matius 10:37-38, syarat yang dikemukakan Yesus dalam perikop ini sangat tegas dan radikal. Jika dipahami secara harafiah, penegasan Yesus ini memang dapat menimbulkan kesalahpahaman, seolah-olah orang yang mengikut Yesus harus memusuhi dan tidak mengasihi semua keluarganya, serta membenci bapak, ibu, saudara, isteri (suami), anak, atau bahkan dirinya sendiri (nyawanya). Tentu bukan demikian yang dimaksudkan. Selain bertentangan dengan perintah kelima Dasa Titah (Kel.20:12), kata “membenci” dalam ayat 26 ini sesungguhnya dapat berarti “kurang mencintai”, “tidak mencintai” atau “kurang kasih sayang” (bnd. Ul. 21:15). Dengan kata lain, yang sesungguhnya dikehendaki oleh Yesus, ialah agar orang-orang yang mau mengikut Dia haruslah menjadikan Yesus sebagai prioritas yang terutama dan pertama, lebih dari tuntutan-tuntutan keluarga. Yang bersangkutan harus bersedia memikul salibnya dan harus bersedia menghadapi maut sekalipun. Ketaatan dan kesetiaan pada Yesus tentu saja tidak harus dipertentangkan dengan kasih kepada sesama, sebab justru kasih dan kesetiaan yang total kepada Yesuslah, yang akan menjadi dasar bagi terwujudnya kasih kepada keluarga dan sesama manusia, sebagaimana juga ditegaskan dalam Hukum Kasih (Mat. 22:37-39).
Selanjutnya dalam ayat 28-33, Yesus mengemukakan dua contoh konkrit “kebodohan”, yakni jika seseorang membangun rumah tetapi tidak mampu menyelesaikannya, serta saat seorang raja pergi berperang tetapi tidak memiliki perhitungan matang tentang kekuatan yang dimilikinya. Sedangkan dalam ayat 34-35, Yesus kembali mengingatkan tentang garam bisa membuat cita rasa yang enak dan menjadi pengawet, namun jika telah menjadi tawar, maka garam tersebut tidak akan ada lagi gunanya (lih. Mat. 5:13, Mrk. 9:50). Hal-hal ini pada intinya mau menegaskan pentingnya komitmen dan kesetiaan dalam mengikut Yesus.
Dalam Yeremia 18:1-11, Tuhan meminta nabi Yeremia pergi belajar ke tukang periuk. Dalam proses tersebut, Yeremia belajar bagaimana tukang periuk memilih tanah liat, lalu membentuknya menjadi sebuah periuk. Yeremia melihat bagaimana kesabaran, ketelitian, ketekunan dan kesungguhan si tukang dalam bekerja untuk menghasilkan sebuah periuk. Terkadang dia harus merombak desainnya jika periuk yang dibentuknya itu dipandang tidak sempurna sebagaimana yang ia harapkan. Jika tukang periuk memiliki kesabaran yang tinggi, demikian juga Tuhan memiliki kesabaran yang luar biasa terhadap umat-Nya yang telah menyimpang jauh dari Tuhan. Jika mereka bertobat dari dosa-dosanya, maka seperti periuk di tangan si tukang periuk, demikian juga umat Israel di tangan Tuhan, akan dibentuk sesuai dengan kehendak-Nya (ay. 5-6). Dosa dan kejahatan pasti akan dihukum, tetapi jika mereka bertobat maka pasti Tuhan menarik hukuman-Nya (ay. 7-8).
Surat Filemon termasuk bagian surat-surat (Efesus, Filipi, Kolose, Filemon) yang ditulis Paulus ketika ia dipenjara. Filemon adalah anggota Jemaat Kolose dan rumahnya dipakai untuk pertemuan-pertemuan jemaat (ay.2). Dia adalah seorang tuan tanah berkebangsaan Yunani yang berdomisili di lembah Lycus wilayah Kolose. Onesimus yang menjadi pokok pembicaraan dalam perikop ini adalah salah seorang budak Filemon yang melarikan diri dan bertemu dengan Paulus di Roma, yang membuatnya menerima Injil. Setelah pertobatannya, Paulus meyakinkan Onesimus untuk kembali ke Filemon, dan meminta agar Filemon dapat menerima Onesimus kembali, bukan lagi dalam status sebagai budak tetapi sebagai saudara dalam Kristus (ay. 16). Menerima Onesimus dengan kasih dan pengampunan, adalah sama dengan menerima Paulus sendiri (ay.17). Bagi Paulus, ketulusan dan pengampunan merupakan dasar utama dalam upaya saling menerima satu terhadap yang lainnya. Keteguhan hati dalam mengikut Yesus hendaknya dibuktikan dengan kesediaan menerima dengan penuh kasih dan pengampunan saudara-saudara seiman tanpa memandang latar belakang atau masa lalunya.
Pokok-Pokok pengembangan khotbah
- Ada orang yang masuk Kristen dengan harapan, bahwa masalah-masalah yang dihadapinya dapat selesai dengan segera. Agama Kristen, bahkan Yesus sering dipandang sama dengan tukang sulap yang dengan ‘sim salabim” segera dapat membebaskan dan melepaskan kita dari semua masalah dan beban hidup yang dihadapi. Mereka tidak menyadari bahwa sebagai orang yang telah diselamatkan di dalam dan melalui karya Yesus, orang Kristen sesungguhnya diberikan sebuah tanggung jawab yang besar. Orang Kristen tidak lepas dari berbagai persoalan kehidupan, tetapi pada sisi lain tetap diyakini bahwa Tuhan akan tetap mengaruniakan kekuatan, kesabaran, ketekunan, dan ketegaran dalam menghadapinya.
- Kehidupan yang berpadanan dengan panggilan sebagai pengikut Yesus hanya dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari jika hubungan dengan Tuhan tetap terpelihara dengan baik. Salah satu syarat yang mendasari terpeliharanya hubungan yang baik dengan Tuhan, yaitu iman dan kesungguhan hati dalam mengikuti dan mengasihi Tuhan. Setiap orang yang menjadi pengikut Kristus harus bersedia dan rela melepaskan berbagai ikatan yang (potensial) dapat menjadi penghalang bagi perwujudan iman dan kasih kepada Tuhan. Sebagai orang yang telah menerima anugerah keselamatan, setiap orang Kristen wajib mempraktikkan pola kehidupan yang berpadanan dengan panggilan itu. Ia harus mengasihi Tuhan lebih dari keluarganya (Luk. 14: 26), selalu siap memikul salibnya dan menyangkal dirinya (Luk. 9:23), serta dibenci orang karena Nama Yesus (Mat. 10:22; 24:9; Mrk. 13:13; Luk. 21:17), bahkan rela kehilangan nyawa karena imannya (Luk 14:26). Dengan demikian, orang Kristen dituntut selalu (bukan kadang-kadang) memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kesungguhan hati dalam mengikut Yesus harus mendasari, mewarnai dan melingkupi semua aspek kehidupan orang percaya.
- Kesungguhan hati dalam mengikut Tuhan ditandai oleh kesediaan untuk membiarkan diri kita dibentuk oleh Tuhan sesuai dengan kehendak dan kemauan-Nya. Seperti halnya tukang periuk, jika tanah liat di tangannya itu rusak, ia akan mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Dalam kerangka itu, yang dibutuhkan adalah pengakuan dosa (bertobat) dari segala kejahatan, memperbaiki tingkah laku dan perbuatan (Yer. 18:8, 11). Harus diakui bahwa sebagai manusia, kita memiliki banyak kelemahan, kekurangan dan keterbatasan, baik dalam pikian, perkataan dan perbuatan kita sehari-hari. Untuk itulah dibutuhkan pertobatan dan pengakuan dosa secara terus menerus sebagai bukti konkrit dari kesungguhan hati dalam mengikut Yesus.
- Kesungguhan mengikuti Yesus hendaknya diwujudkan juga dalam bentuk kasih yang nyata, dan meneguhkan sesama orang kudus, serta bersedia menerima orang lain sebagai saudara dengan apa adanya dan tidak melihat masa lalunya (Fil. 1:5, 7, 16). Hubungan antar sesama orang percaya adalah hubungan sebagai saudara satu dengan yang lain, tanpa perbedaaan status, jenis kelamin, jabatan, keadaan ekonomi dan berbagai perbedaan lainnya. Kesungguhan hati mengikut Yesus diwujudkan secara nyata dalam membangun, membina, dan memelihara persaudaraan tanpa pamrih antar sesama umat Tuhan.
Diposting tanggal 03 Sep 2019
