Selasa, 25 September 2018 Amsal 27: 21-27 TAHU TIDAK TAHU
Selasa, 25 September 2018 Amsal 27: 21-27
TAHU TIDAK TAHU
Seorang ahli di bidang filsafat menggambarkan tiga karakter manusia dalam memberikan komentar atas sesuatu. Yang pertama, orang yang memang tidak tahu apa yang dibicarakan tetapi memberikan pendapat. Kedua, orang yang tahu hanya sedikit tetapi juga memberikan komentar. Ketiga, orang yang memang paham akan hal yang dibicarakan. Pertanyaannya, kita berada dimana? Mungkin sedikit atau kebanyakan, berada pada golongan pertama. Tidak tahu apa-apa tetapi merasa paling tahu, bahkan ngotot dan tidak mau mengalah.
Inilah yang dimaksud kitab Amsal. Sangat berbahaya, jika merasa tahu, pintar, paham padahal hanya perasaan. Jika orang bodoh yang dikuasai oleh kebodohannya memang tidak dapat dikendalikan (ay.22), ia akan mempertahankan apa yang dia anggap benar walaupun tidak memahami yang sebenarnya. Untuk itu kita diajak untuk mengenal setiap keadaan dan juga apa yang kita miliki. Memiliki hikmat adalah lebih baik dari memiliki hanya harta benda yang banyak. Itu tidak akan menjadi jaminan pasti kebaikan hidup (ay.24). Jika kita memiliki kambing domba maka perlu ada rumput dan jika makanannya tercukupi, dipastikan kita mendapatkan bulu domba, susu yang berlimpah dan daging yang gemuk (ay.23-27). Semuanya itu bisa didapatkan ketika kita memelihara dan merawat apa yang menjadi milik kita.
Tahu atau tidak tahu itu baik. Bahwa kita harus sadar jika memang tidak tahu, tidak perlu memberikan komentar apalagi jika ngotot memaksakan pendapat. Inilah yang dimaksudkan kitab Amsal. Jangan berada dalam kebodohan kaena pada akhirnya akan membawa kepada celaka yang amat dalam. Berikanlah tempat kepada hikmat dan kasih Allah yang akan menuntun pada jalan yang berkenan kepada-Nya.
Hikmat adalah harta berharga orang percaya. Amin
Diposting tanggal 21 Sep 2018
