Bahan Khotbah Minggu ke-42 Tanggal 21 Oktober 2018 KORBAN YANG SEMPURNA Pemala’ Sundun
Bahan Khotbah Minggu ke-42 Tanggal 21 Oktober 2018
KORBAN YANG SEMPURNA
(Pemala’ Sundun)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 104:1-9 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 53:4-11 |
| Bacaan 2 | : Ibrani 5:1-10 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Markus 10:35-45 |
| Nas Persembahan | : Yesaya 53:4 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Mazmur 91:11 |
Tujuan :
- Jemaat memahami bahwa Yesus Kristus berkorban untuk penebusan dosa manusia
- Jemaat rela berkorban untuk kepentingan banyak orang
Pemahaman Teks
Ada dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk jabatan sebagai Imam Besar. Pertama, Seorang Imam Besar harus dipilih dari antara manusia (ayat 1). Seorang Imam Besar hanya dapat menghadap Allah untuk manusia jika ia dipilih dari antara manusia oleh Allah sendiri. Hal ini dimaksudkan agar ia sungguh-sungguh memiliki belas kasihan terhadap sesama manusia. Itulah maksud rasul Paulus dengan mengatakan Yesus Kristus tidak mengenakan tabiat malaekat melainkan tabiat manusia. Kedua, Seorang Imam Besar ditetapkan bagi manusia dalam hubungannya dengan Allah (pasal 5:1). Imam besar ditetapkan karena manusia, untuk sebuah pekerjaan yakni menolong manusia dalam penyembahan kepada Allah.
Rasul Paulus memperbandingkan posisi Imam Besar Harun dengan posisi Yesus sebagai Imam Besar yang sempurna. Bagi orang Yahudi, Imam besar pertama-tama harus diampuni sebelum ia berdiri di hadapan Allah untuk mempersembahkan korban pengampunan dosa bagi bangsa Yahudi, sementara Yesus sebagai Imam Besar yang sempurna, tidak lagi harus diampuni karena Dia adalah Imam besar yang tidak berdosa, dan Ia memiliki belas kasihan yang jauh melebihi Harun. Yesus lebih dari semua yang dituntut dari Imam besar Harun, bahkan Yesus sebagai Imam Besar mengorbankan diri-Nya karena dosa yang dilakukan manusia. Pengorbanan Yesus merupakan kemuliaan besar karena melalui pengorbanan-Nya, manusia yang telah mati karena dosa mendapat pengampunan untuk memperoleh hidup yang kekal. Ia meninggalkan kemuliaan yang dimiliki-Nya lalu mengambil rupa seorang hamba bahkan menjadi korban di atas kayu salib untuk penebusan bagi umat manusia. Dia dianiaya dan membiarkan diri-Nya ditindas, bahkan ia tidak memberi perlawanan sedikitpun seperti seekor domba yang dibawa ke pembantaian (Yes.53:7) sebagai bukti bahwa Ia benar-benar membiarkan diri-Nya untuk menerima penderitaan dan bahkan kematian sekalipun hanya karena ingin menyatakan belas kasihan-Nya kepada manusia yang telah berada dalam ketidakberdayaan akibat dosa. Yesaya menggambarkan para hamba Allah yang dianiaya, mengalami kesengsaraan dan dibunuh oleh manusia, tetapi hamba Allah itu dalam kepasrahannya kepada Allah, telah dibenarkan dan bahkan ditinggikan oleh Allah. Dalam jabatan-Nya sebagai Imam besar, Yesus tidak mempersembahkan korban dari darah binatang seperti Harun, melainkan ia mengorbankan dirinya sendiri, satu kali untuk selama-lamanya (Ibr.10:10).
Di dalam diri Yesus Kristus, seluruh syarat sebagai Imam Besar digenapi, jauh dari seluruh syarat yang dituntut dari Harun sebagai Imam Besar. Ia tidak berdosa, Ia memiliki belas kasihan dan Ia sendiri menjadi korban karena dosa. Dalam pengorbanan inilah dinyatakan kemuliaan besar bagi Yesus sebagai Imam Besar yang kepada-Nya ditimpakan seluruh hukuman manusia atas dosa, dan dari pada-Nya manusia menerima anugerah keselamatan. Dari gelar-Nya sebagai Imam Besar, Yesus tidak pernah memuliakan diri-Nya, dan tidak menuntut kemuliaan itu, tetapi dari sang Bapa Ia menerima kemuliaan melalui ketaatan-Nya melakukan seluruh kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia. Kemuliaan bukan merupakan hak yang harus dituntut kepada Allah tetapi adalah anugerah berdasarkan panggilan dan pemilihan Allah bagi kita. Yesus menegur murid-Nya ketika mereka menuntut posisi di sebelah Yesus (Markus 10:35-45). Posisi kita di hadapan Allah hanyalah sebagai orang yang menerima anugerah dan belas kasihan Allah, sehingga keberadaan kita tidak lebih dari seorang hamba yang harus tunduk di bawah kehendak-Nya. Menjadi pengikut Yesus bukan untuk sebuah jabatan atau gelar melainkan menjadi hamba dan pelayan-Nya.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
- Penderitaan Yesus adalah suatu korban yang mendamaikan dan mendatangkan penebusan bagi kita. Demikian dikatakan rasul Paulus dalam 1 Kor.5:7, bahwa Anak Domba Paskah telah disembelih yaitu Kristus, Darah Kristus di atas salib telah memperdamaikan segala sesuatu dengan Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di Sorga (Kol.1:20), dan oleh darah-Nya kita telah beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa kita (Ef.1:7)
- Yesus Kristus ditentukan oleh Allah menjadi Imam Besar karena Dia sendiri sebagai Anak Allah yang menjelma menjadi manusia dan dengannya Allah menyatakan diri kepada kita. Dosa telah memutuskan hubungan manusia dengan Allah dan untuk menghubungkan kembali dengan Allah, tidak bisa oleh manusia yang berdosa melainkan haruslah dengan seorang pengantara yang tanpa dosa yakni Yesus Kristus yang ditentukan oleh Allah sendiri.
- Yesus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek. Pernyataan ini hendak menegaskan Yesus sebagai Imam Besar yang merujuk kepada Imam Melkisedek sebagai:
Imam yang tidak diurapi dengan minyak seperti Harun melainkan dengan Roh Kudus
Imam yang tidak mempersembahkan binatang, melainkan Roti dan Anggur (Kej.14:18), yang merupakan lambang perjamuan yang dilakukan oleh Yesus Kristus pada perjamuan malam bersama murid-murid-Nya.
Imam yang mempersatukan pekerjaan Imam dan Raja dalam dirinya sekalipun hal itu dilarang di kalangan bangsa Israel, tetapi dinyatakan bahwa Kristus (Tunas) itu akan berbuat demikian (Zak.6:12,13)
Kedua lambang Imam Besar yang ada pada Imam Besar Harun dan Melkisedek dipersatukan dalam diri Yesus Kristus sebagai gambaran bahwa Ia adalah Imam Besar yang sempurna.
4. Walaupun penderitaan yang dialami Yesus sangat sukar dan amat pahit, tetapi ia tetap berusaha taat kepada Bapa-Nya. Dan sesudah Ia mencapai kesempurnaannya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr.5:9). Untuk itu tanggung jawab kita selaku pengikut Kristus adalah berusaha untuk taat kepada Allah sehingga kita dapat mencapai keselamatan yang sempurna.
Diposting tanggal 17 Oct 2018
