Bahan Khotbah Minggu ke-16 Tanggal 22 April 2018 TIADA NAMA LAIN (Tae’ Tu Sanga Senga’)
Bahan Khotbah Minggu ke-16 Tanggal 22 April 2018
TIADA NAMA LAIN
(Tae’ Tu Sanga Senga’)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 23:1-8 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 4:1-12 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Yohanes 3:19-24 |
| Bacaan 3 | : Yohanes 10:11-18 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 23:8 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 1 Yohanes 3:23 |
Tujuan:
-
Jemaat memahami dan meyakini bahwa Yesus itulah sumber keselamatan
-
Jemaat menikmati keselamatan hanya dalam Yesus .
Pemahaman Teks
Mazmur 23:1-6, ditulis setelah Daud menjadi seorang raja (ayat 5). Isi mazmur ini adalah gambaran kehidupan Daud sendiri. Sebelum dipanggil Allah untuk diurapi menjadi seorang raja, ia “hanyalah” seorang gembala. Daud tidak diperhitungkan di antara para saudaranya. Namun penunjukan Allah atas dirinya, diungkapkan dalam kalimat, “...kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku....” (ayat 6). Ia bertugas menggembalakan kambing domba ayahnya. Saat inilah ia banyak mengalami kebaikan dan kemurahan Tuhan (bnd. 1 Samuel 17:33-37). Dalam pengembaraan menghindari rencana pembunuhan Saul atas dirinya, Allah melepaskan dia (1 Sam. 24:11-14). Semua kebaikan Tuhan itu diungkapkan dalam Mazmur 23:1-4. Mazmur ini berisi pengakuan yang mengagumkan tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan Daud (ayat 1-4)
Kisah Para Rasul 4:1-12 menggambarkan bahwa atas bimbingan dan penguatan Roh Kudus, para rasul memberitakan berita keselamatan bagi banyak orang. Peristiwa penyembuhan orang lumpuh di depan Bait Allah memberikan sebuah bukti bahwa pemberitaan mereka dilakukan atas penyertaan Tuhan (Kis. 3: 9-10). Atas peristiwa itu banyak orang yang mengikuti mereka dan percaya akan pemberitaan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati (ayat 15). Namun para ahli Taurat, imam-imam dan orang Saduki bukannya percaya dan menerima pemberitaan para rasul. Mereka justru menangkap Petrus dan Yohanes, lalu menyerahkan kepada Mahkamah Agama untuk diadili (ayat 4). Tujuan mereka jelas, yakni melarang Petrus dan Yohanes melanjutkan khotbahnya agar berita mengenai Yesus yang bangkit dari antara orang mati tidak diberitakan. Para anggota mahkamah agama berkepentingan agar berita mengenai Yesus tidak berlanjut, terlebih lagi berita bahwa Ia telah bangkit. Jika berita kebangkitan itu memang benar maka mereka berada di pihak yang “kalah” dan tipu muslihat mereka akan terbongkar (bnd. Matius 28:11-15: para imam kepala menyogok para prajurit untuk berbohong mengenai kebangkitan Yesus). Oleh sebab itu, mereka tetap pada pendiriannya, menentang dan berusaha menghilangkan semua bukti mengenai kebangitan Yesus.
1 Yohanes 3:19-24 Yohanes yang menulis kitab ini adalah Rasul Yohanes yang mengalami penolakan oleh para Ahli Taurat, Orang Saduki dan diserahkan kepada Mahkamah Agama bersama Rasul Petrus ketika mereka menyembuhkan seorang lumpuh dan berkhotbah mengenai Yesus yang dibangkitkan oleh Allah (dalam cerita Kisah 3). Pengalaman ini tidak terjadi begitu saja. Ada kekuatan yang meneguhkan hati mereka sehingga berani menyampaikan Injil. Inilah yang Yohanes ungkapkan dalam prikop ini. “...kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,...Kuasa Roh Kuduslah yang berkarya dalam hati para rasul dan orang percaya. Kuasa-Nya memberikan keberanian untuk menyatakan iman dan juga menghampiri Allah, meminta kepada-Nya, menuruti kehendak-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya (ayat 21,22). Apa yang mereka telah lakukan dilandaskan pada kebenaran dan kehendak Allah. Dalam hubungan dengan Kisah Para Rasul, mereka telah menyatakan kasih-Nya kepada orang lumpuh dan berani memberikan kesaksian mengenai siapa Yesus itu walaupun mereka ditolak, dibenci dan diadili.
Yohanes 10:11-18 menggambarkan bahwa tugas pokok seorang gembala ialah bertanggung jawab atas kelangsungan hidup gembalaannya. Bagi Yesus, seorang gembala tidak hanya bertanggung jawab menunjukkan padang rumput dan air yang tenang. Dia menempatkan diri-Nya sebagai seorang Gembala. Maksud Yesus jelas, yakni Gembala yang baik, memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Dalam hal ini, Ia menggambarkan sebuah hubungan yang sangat khusus dengan umat-Nya, hingga Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-Nya (umat-Nya).
Pokok-Pokok Pikiran yang dapat dikembangkan
Pertama, Mukadimah Pengakuan Gereja Toraja dimulai dengan kalimat, “Yesus Kristus itulah Tuhan dan Juruselamat”. Pernyataan ini menjelaskan hal yang sangat jelas mengenai Yesus Kristus. Pengakuan ini sekaligus penegasan sikap atas “banyaknya” konsep keselamatan yang diajarkan dalam agama-agama. Keselamatan hanya oleh karya Allah di dalam Yesus Kristus. Selain itu tidak ada keselamatan yang lain. Yesus adalah satu-satunya. Pengakuan ini bukan tanpa alasan. Dua orang pernah bercerita mengenai Patung Yesus di Burake. Salah satunya, memang pernah ke Burake dan tinggal di sana beberapa lama mengamati dan melihat patung Yesus di sana. Seorang lagi tidak pernah ke sana. Ia hanya mendengar cerita patung itu dari orang lain. Manakah di antara dua orang ini yang dapat berceritera menggambarkan patung Yesus dengan tepat? Yang pernah ke sana dan tinggal di sana mengamati patung itu bukan? Benar. Demikian juga jika kita mau mengenal Bapa dan Rumah Bapa (Yohanes 14), pasti Anak yang tinggal di rumah Bapa-lah yang bisa menceritakannya dengan benar. Dan Yesus sendiri mengatakan, “...Aku pergi ke situ, untuk menyediakan tempat bagimu....” (ayat 2). Yesus menceritakan dengan sangat jelas mengenai rumah Bapa dan apa yang Dia akan lakukan kepada orang percaya. Inilah alasan kita mempercayai bahwa Dialah jalan satu-satunya, tiada nama lain yang oleh-Nya kita mendapatkan kepastian keselamatan kecuali di dalam diri sang Anak.
Kedua, Hati-hati dengan status. Bandingkan dengan status atau komentar di medsos, bisa berujung pidana. Tetapi status yang ini beda. Maksudnya status sebagai pemuka agama. Pemuka agama bisa menjadi agen kebaikan dan pembawa berita keselmatan dari Allah, tetapi juga bisa justru sebaliknya. Secara logika sederhana, para ahli Taurat, orang Saduki, para imam dan tua-tua bangsa Yahudi yang akan berada di depan dan pertama-tama menyambut kehadiran Yesus sebagai Juruselamat. Merekalah yang menganggap diri lebih tahu mengenai kebenaran dari Allah yang telah disampaikan para nabi di Perjanjian Lama. Tetapi kenyataannya, justru merekalah yang menentang, dan sulit percaya bahkan justru melawan dan menuduh Yesus menghujat Allah dan juga sebagai penyesat. Mengapa? Pertama, karena mereka menganggap diri paling memahami kebenaran Allah. Tidak ada yang lain selain mereka. Tidak ada dialog, tidak ada kebenaran pada diri orang lain bahkan dalam diri Yesus sekalipun (Mat. 28:14,15, Luk 23:1,2). Kedua, jabatan dalam agama dijadikan status quo, dianggap sebagai yang berkuasa dan paling berhak menentukan baik buruknya, salah benarnya suatu perkara (Bnd. Mat. 15:1-3). Ini kemudian berakibat pada politisasi agama bagi kepentingan dan kelanggengan kelompok mereka tanpa melakukan esensi dari kebenaran agama itu sendiri (Luk. 10:30-32). Timbullah sikap marah bahkan dendam bagi yang dianggap mengancam eksistensi mereka (Mat. 21:23, 26:1-5, Luk. 11:53-54). Hal ini menjadi koreksi bagi yang diberikan Allah jabatan dalam keagamaan, baik di jemaat masing-masing, di tingkat klasis, wilayah, sinode dan di lingkup pelayanan yang lain.
Ketiga, pekerjaan Allah tidak dapat dihentikan dengan usaha apa pun. Jika rencana para imam yang berlaku, maka berita mengenai kebangkitan Yesus tidak akan pernah ada. Para prajurit telah disogok untuk memberi kesaksian bahwa Yesus tidak bangkit. Namun kuasa Allah yang mereka lawan, tetap bekerja. Di depan wilayah kekuasaan mereka, justru Petrus dan Yohanes datang mendemonstrasikan bahwa kuasa Allah dalam Yesus yang telah dibangkitkan itu benar-benar tidak terbendung. Di Bait Allah, saat jam sembahyang hampir tiba dan banyak orang berkumpul, tidak terkecuali para penentang Yesus Kristus dan pengikut-Nya, seorang lumpuh disembuhkan dalam nama Yesus Kristus dari Nazaret. Peristiwa ini segera disambung dengan khotbah di Serambi Salomo (tempat di sisi Timur Bait Suci dan diperuntukkan bagi umat-namanya disesuaikan dengan Raja Salomo, anak Raja Daud yang membangun Bait Suci pertama kali Kis.3). Seharusnya Rasul Petrus dan Yohanes takut karena berhadapan langsung dengan para lawannya. Namun kuasa Roh Kudus dalam diri mereka memberi keberanian untuk menyatakan dan mengajarkan kebenaran mengenai Yesus. Bahkan berita mengenai Yesus tidak hanya mengenai berita kebangkitan-Nya namun sebuah pernyataan yang menjadi dasar iman setiap orang percaya, dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia”.
Aplikasi
Naluri manusia menginginkan yang terbaik, entah itu rumah terbaik, gaji terbaik, nilai terbaik, karier terbaik, pelayanan terbaik dsb. Namun apakah kita juga menginginkan yang terbaik dari Tuhan? Semoga jawabnya ia. Dan yang terbaik dari Tuhan dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Terbaik karena tidak ada duanya. Terbaik karena tidak dikalahkan oleh kematian. Terbaik karena menyatakan keselamatan yang pasti bagi kita. Sebagai respons atas yang terbaik yang Tuhan berikan ialah hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya.
Jabatan yang Allah anugerahkan dalam hidup ini entah itu di kantor, perusahaan, status dalam kampung, kedudukan dalam keluarga bahkan dalam gereja adalah kesempatan untuk memuliakan dan menyatakan kehendak Allah. Bukan menjadikannya sebagai alat untuk membenci, menghakimi bahkan menganggap yang lain lebih rendah. Di dalam jabatan, terselip pesan kebaikan, bukan digunakan untuk menindas. Kebenaran tidak dapat ditutupi dengan tipu muslihat apa pun. Jangan tergoda untuk melakukan usaha menyembunyikan kebenaran (dari) Allah. Karena barang siapa melakukannya, ia akan semakin jauh dari kebenaran Allah. (Kebenaran tidak dapat ditutupi oleh tipu muslihat apa pun...jika usaha “halus” tidak berhasil maka orang akan menempuh cara lain yang kasar dan tidak dapat disembunyikan lagi bahkan dengan intensitas yang berlebihan.)
Memiliki jiwa patriot iman. Bahwa hidup dalam kebenaran Allah bukanlah untuk dihormati, diagungkan dan disanjung. Sebaliknya kita harus hadapi tidak jarang tantangan, bahkan hinaan dan penolakan. Jika hal itu terjadi, mari belajar bahwa kuasa Roh Kudus telah menguatkan Rasul Petrus dan Yohanes untuk tekun dan setia dalam pemberitaan walaupun menghadapi resiko penentangan dan pengadilan para mahkamah agama. Karena bukan kita yang ditolak tetapi firman Allah. Dengan kesetiaaan iman yang demikian, makna “Tiada Nama Lain” mendapatkan penegasannya bahwa hanya di dalam Yesus yang kita percayai ada kepastian keselamatan.
Diposting tanggal 20 Apr 2018
