Bahan Khotbah Minggu Tanggal 1 Desember 2019 Adven 1 KENAKANLAH SENJATA TERANG Pokararrani tu Pa’buno Masero
Bahan Khotbah Minggu, 1 Desember 2019
(Adven 1)
KENAKANLAH SENJATA TERANG
Pokararrani tu Pa’buno Masero
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 122:1-9 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 2:1-5 |
| Bacaan 2 | : Roma 13:8-14 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Matius 24:37-44 |
| Nas Persembahan | : 1 Tawarikh 16:29 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Roma 13:2-3 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami apa yang dimaksudkan dengan Kristus sebagai senjata terang
2. Jemaat terus belajar dan berjuang untuk hidup berdasarkan senjata terang
Pemahaman Teks
Mazmur 122:1-9 menjelaskan bahwa merupakan suatu kebahagiaan jika ada kesempatan berziarah dan berkumpul bersama umat Tuhan di rumah-Nya yang kudus di Yerusalem. Sukacita besar akan dialami dan dinikmati jika ada lagi kesempatan merayakan kebesaran dan kebaikan Tuhan di sana. Kerinduan seperti ini dikumandangkan tiada hentinya, agar pada saatnya Raja Damai datang memerintah umat-Nya dan damai sejahtera berlaku di sana.
Yesaya 2:1-5 merupakan nubuat bahwa Rumah Tuhan akan berdiri tegak di Yerusalem dan menjadi pusat pengajaran, keadilan, dan kebenaran. Bangsa-bangsa akan pergi ke sana belajar dan menikmati perdamaian dan persaudaraan, sebab di sana tidak ada perang dan permusuhan. Tidak ada lagi yang mengangkat pedang dan belajar perang, sebab alat-alat perang akan diubah menjadi alat pertanian demi kemakmuran kehidupan. Pedang diubah menjadi mata bajak dan tombak diubah menjadi pisau pemangkas karena semuanya telah berjalan dalam terang Tuhan (ay.5).
Roma 13:8-14 menegaskan, bahwa keselamatan semakin dekat. Hal itu digambarkan dengan kata-kata “hampir siang/bangun dari tidur”. Waktu sudah sangat mendesak, sehingga jemaat diminta senantiasa menggunakan senjata terang yakni mengenakan Yesus Kristus sendiri. Sebaliknya, semua yang mengancam dan merusak hendaknya ditanggalkan seluruhnya, agar jemaat mampu hidup menikmati keselamatan yang dianugerahkan Allah, yakni hidup dalam kasih dan damai sejahtera.
Matius 24:37-44 mengingatkan, bahwa kehidupan normal keluarga seperti makan-minum dan kawin-mawin, dapat tetap dilaksanakan seperti biasa, tetapi hendaknya dilakukan dalam keadaan berjaga-jaga. Ini penting agar mereka tidak terlena, tergoda dan terperangkap dengan daya tarik dan kenikmatan hawa nafsu duniawi semata-mata seperti pada jaman Nuh. Orang Yahudi sungguh telah terperangkap dalam rutinitas hidup dan kenyamanan kekinian mereka, sehingga tidak mampu melihat dan memahami arus perubahan yang sedang diprakarsai oleh Allah di dalam diri Yesus Kristus. Kepekaan mereka sudah tumpul dan hilang, sehingga mereka tidak dapat lagi menangkap dan melihat pekerjaan Yesus sebagai bukti kehadiran Sang Mesias di antara mereka.
Korelasi seluruh bacaan terletak pada kedatangan Mesias yang berarti kejayaan bagi Sion. Kerinduan kejayaan sion tidak pernah pupus (Mzm.). Berita kejayaan Sion kembali didengungkan sang nabi (Yes.2:1-5). Di Sion, impian kebahagiaan setiap orang dan bangsa-bangsa akan nyata sebab semua hal yang merusak dan mengancam kehidupan akan diubah, bahkan dibalikan menjadi kedamaian dan kesejahteraan sejati. Rumah Tuhan di Sion akan kembali menjadi pusat pengajaran dan keadilan, sebab pada jaman Yesus, keistimewaan Yerusalem telah hilang dan pudar kembali.
Paulus sendiri melihat nubuatan Yesaya dan kerinduan Pemazmur seharusnya menjadi nyata dalam kehidupan berjemaat. Gereja hendaknya menjadi pusat pengajaran kebenaran. Kerinduan kedatangan Kerajaan Allah segera menjadi kenyataan. Pemenuhan kedatangan Yesus segera akan datang, karena itu mereka hendaknya jangan tidur, mabuk dan pesta pora, seperti pada jaman Nuh (Mat.24:37-44). Mereka hendaknya tidak tidur dan hidup dalam kegelapan (Rm.13:11-14: pesta pora, cabul, iri hati, perselisihan), tetapi hendaknya bangun dan berjaga-jaga serta mengenakan senjata terang. Dunia masih sibuk terpesona dan terlena, serta terperangkap dengan kekinian-sesaat sehingga tidak mampu melihat dan memahami terang yang segera dan sedang akan datang sebagaimana dalam pengajaran, perbuatan dan bahkan diri Yesus sendiri.
Pemahaman Bahan Utama (Roma 13:8-14)
Pesan dalam bagian ini sangat penting dan menentukan yaitu keselamatan semakin dekat. Jadi sekaranglah waktu yang tepat dan menentukan. Jangan sia-siakan waktu dan lengah, sehingga kehilangan kesempatan seperti gadis-gadis bodoh (Mat.25). Dunia yang gelap akan segera berlalu dan hilang. Orang percaya yang telah dibaptis, mengenakan Kristus dan dipindahkan dalam dunia baru yang sejahtera, sedang datang dan diatur berdasarkan pola kasih dari Allah di dalam Yesus Kristus.
1. Waktu Mendesak (ay. 11): Apa yang harus dilakukan?
Orang percaya harus melakukan semua nasihat untuk hidup sebagai orang-orang yang dimerdekakan dalam Kristus, yakni melakukan apa yang terdapat dalam ayat 11-14 yaitu bangunlah, berjaga-jagalah, hidup dalam terang tanggalkanlah dosa yakni: pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan, iri hati (ay.13) dan kenakanlah Kristus sebagai senjata terang. Semua itu harus dilakukan karena keselamatan semakin dekat. Waktu kedatangan Kristus kembali semakin dekat. Tidak ada yang tahu kapan persisnya waktu kedatangan-Nya kembali, karena itu tindakan yang paling baik dan tepat adalah berjaga-jaga. Waktu menjelang kedatangan-Nya sangat menentukan karena menyangkut kegenapan keselamatan yang telah diberikan kepada yang percaya. Jadi mesti siap dan berjaga-jaga menyongsong kedatangan-Nya (Mat.24:42,44). Jangan sampai tertidur seperti 5 wanita bodoh (Mat.25:1-13) sehingga tidak mendapat bagian dalam kebahagian yang sejati, tanda-tanda Syalom (bdk. Yes.2:3-5).
2. Mengenakan senjata terang (ay. 12-13).
Malam dan kegelapan” akan berlalu sehingga “siang dan terang” segera datang. Jadi semua yang dilakukan dalam kegelapan mesti ditanggalkan dan digantikan dengan yang semestinya dilakukan dalam siang. Perbuatan-perbuatan kegelapan, yaitu perbuatan-perbuatan yang lebih banyak dilakukan pada waktu malam karena akan memalukan dan mendapat hukuman jika dilakukan pada siang hari, harus ditanggalkan dan diganti dengan baju yang baru dan bersih.
Menanggalkan perbuatan kegelapan dengan keharusan mengenakan senjata terang jelas menggambarkan adanya usaha dan perjuangan berat. Melawan dan mengubah perbuatan-perbuatan kegelapan dalam menyongsong kedatangan kembali Kristus membutuhkan kerja keras dan semangat perjuangan yang terus-menerus serta menggunakan senjata rohani yang lengkap.
Perbuatan kegelapan seperti apakah yang akan dihadapi? Pada bagian ini disebutkan 6 hal yang sangat mendesak dan menjadi sumber halangan dalam berjaga-jaga sambil menantikan kedatangan/kegenapan keselamatan. Keenam hal itu adalah pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan, iri hati. Keenam perbuatan ini sering disebut sebagai tanda-tanda dosa yang khas dalam dunia dan merupakan kehidupan tanpa Kristus. Agustinus, salah seorang Bapa Gereja beroleh pertobatan melalui ayat ini (ay.13-14). Agustinus mengatakan, betapa Allah menemukan dirinya melalui firman ini. Seluruh kebobrokan moralnya berakhir karena firman jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
Pesta pora adalah bersukacita secara berlebihan, sehingga tanpa sadar sudah merendahkan martabat kemanusiaan dan mengganggu ketenteraman orang lain. Kemabukan, adalah terperangkap dalam ketergantungan alkohol dan akan sangat berpotensi merusak kesehatan dan menimbulkan keonaran. Percabulan adalah wujud ketidaksetiaan dan mengumbar kesenangan sesukahati, kapan dan di mana saja. Hawa Nafsu adalah berani melakukan di muka umum hal-hal yang tidak pantas dilakukan. Perselisihan adalah semangat persaingan yang kotor dan tidak terkendalikan dan bertentangan dengan kasih. Sedang Iri hati adalah rasa tidak puas dengan apa yang dimiliki dan iri dengan kelebihan orang lain.
3. Mengenakan Yesus sebagai senjata terang (ay. 14)
Mengenakan senjata terang atau menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan (ay.12) dan tidak sibuk untuk hal-hal yang hanya menguntungkan/memuaskan diri sendiri. Berjuang menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan tidak bisa dilakukan dengan kekuatan sendiri karena sesungguhnya kekuatan manusia diarahkan justru untuk memuaskan kepentingan dirinya sendiri. Berusaha memasuki terang dan meninggalkan kegelapan, hanya bisa dilakukan jika “bersekutu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya”. “Jika kita telah menjadi satu dengan kematian-Nya kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm. 6:5) atau “kamu semua yang dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal.3:27). Mengenakan Kristus berarti menjadikan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh kehidupan. Kristus menjadi pusat kehidupan. Kristus menjadi kriteria dan ukuran segala sesuatu dalam kehidupan.
Orang yang telah dibaptis sama dengan mengenakan Kristus tetapi Kristus hendaknya dipakai sebagai senjata (bukan sekedar sebagai baju) untuk mengalahkan perbuatan-perbuatan gelap (ay.12) sekaligus mengalahkan pemuasan keinginan-keinginan sesaat yang merusak dan membawa ke dalam kegelapan (ay.13). Perlengkapan yang dibutukan adalah “senjata terang” sebagai gambaran betapa dibutuhkannya kesiapan dan kewasdaan diri dalam mempertahankan,memperjuangkan, dan menempuh kehidupan baru, hidup dalam terang bukan kegelapan. Hidup berdasarkan standard dan kriteria Kristus. Atau dengan kata lain kehidupan yang mengenakan Kristus adalah kehidupan yang berusaha dan berjuang “semakin serupa dengan Kristus” (bdk. Rm 8:29; 2 Kor.3:18; Fil.3:21;)
Pokok-pokok pengembangan khotbah
- Tema Mengenakan Kristus sebagai senjata terang dimaksudkan agar warga jemaat mempersiapkan diri sebagaimana “umat Israel” menyongsong kelahiran Mesias yang diberitakan dalam Yesaya 65 dan jemaat mula-mula (Jemaat Roma) menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
- Mengenakan Kristus dan senjata terang.
Seharusnya semua orang percaya mengenakan Kristus karena semua orang percaya telah dibaptis (mati dan bangkit bersama Kristus-lihat penjelasan di atas). Jadi cara hidup, berfikir, berkelakuan dan bertutur mestinya mengikuti dan mencerminkan cara hidup Kristus. Seperti kata Paulus, bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam aku…(Gal.2:20). Secara negatif dikatakan jangan merawat dirimu untuk memuaskan keinginannya (Rm. 13:14b). Tubuhmu (hidupmu) bukan lagi milikmu sendiri tetapi milik Kristus. Kriteria hidupmu adalah kriteria Kristus dan bukan lagi kriteriamu sendiri (bnd. 2 Kor.3:3 :Kamu adalah surat Kristus).
- Mengenakan baju terang tidaklah cukup mesti. Karena itu hendaknya disertai pula dengan mengenakan senjata terang. Terjadi situasi khusus yang genting dan sangat mendesak. Seolah-olah akan ada perang. Karena itu dibutuhkan persiapan yang matang. Mereka tidak boleh lengah dan malas-malasan, melainkan mesti tetap siaga. Selalu proaktif dan dinamis. Waktu sangat berharga karena itu gunakan setiap kesempatan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Apa yang diperbuat hendaknya diperbuat menurut ukuran Kristus, yakni Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jikalau engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Kor.10:31). Orang percaya menjadi pelopor kebaikan dan perdamaian sebagaimana dinubuatkan Yesaya bahwa di Sion kesejahteraan dan pengajaran akan terpancar dan alat perang akan diubah menjadi alat kebaikan dan alat pertanian yang produktif untuk kebutuhan kehidupan. Dampingi warga jemaat mempersiapkan diri menikmati tanda-tanda kebahagian. Bimbing warga jemaat meninggalkan pola perilaku dan pola hidup yang justru membawa kepada kebobrokan moral dan malapeta yang menjerumuskan dan menghancurkan diri,keluarga,dan masyarakat. Secara tegas kitab Roma mengatakan: “Jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati…” (Rm.13:13b). Firman ini telah menjadi dasar perubahan hidup Agustinus. Menurutnya, ayat ini tidak perlu ditafsirkan, langsung saja dilaksanakan dengan menghindari semua itu. Tinggalkan masa lalu yang penuh pemuasan diri sendiri. Jangan terperangkap dan dipenjarakan kebiasaan-kebiasan lama yang buruk. Kini saatnya menatap dan menikmati masa depan yang disediakan Allah dalam Yesus Kristus. Jangan terperangkap dalam “celaka” (Rm. 13-13b)
Sehubungan dengan itu, terdapat beberapa hal yang patut direnungkan dalam persiapan natal dan beragam kegiatan masyarakat Toraja sepanjang Desember, yakni:
1. Apakah seluruh keinginan kita sudah makin sesuai dengan keinginan-keinginan Kristus ataukah justru terutama untuk memuaskan diri sendiri?
2. Apakah seluruh perasaan, pikiran dan tindakan-tindakan kita semakin menolong kita untuk semakin serupa dengan Kristus ataukah justru semakin membuat kita semakin serupa dengan dunia?
3. Apakah seluruh tindakan, perayaan-perayaan, pelayanan-pelayanan kita semakin memperlihatkan kasih yang memuliakan Tuhan atau justru hanya untuk kepentingan diri, kelompok dan gereja kita sendiri?
4. Kiranya menjadi pertimbangan kita untuk mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan, dan iri hati. Kiranya Khotbah akan membawa pengaruh sepanjang bulan Desember. Dengan demikian, bulan Desember tidak lagi menjadi ajang pesta pora yang pada gilirannya memicu dan mendorong terjadinya hal-hal yang tidak berkenan bagi Tuhan.
Diposting tanggal 26 Nov 2019
