WARGA JEMAAT TORO BUTUH MENTOR
Berbicara tentang Jemaat yang letaknya cukup jauh dari kota yang terdampak bencana lalu adalah Jemaat Toro, Gereja Prostestan Indonesia Donggala (GPID) yang warganya hidup disekitar pinggir hutan lindung Lindu, dimana sebagian warganya perlu mendapatkan bimbingan dan mentoring dari luar agar dapat mereka hidup menikmati hasil bumi mereka tetapi sekaligus turut mendukung keberadaan hutan lindung Lindu. Jadi kami sangat membutuhkan bimbingan, arahan atau mentor dalam kondisi kami disini. Hal itu diungkapkan oleh Papa Mery dan beberapa warga jemaat yang kami temui sebelum pembinaan di Jemaat Toto pada tanggal 17/9/2019.
Dalam konteks kami di Toro dimana gedung gereja kami sudah mau runtuh sehingga menurut bagian teknik tidak akan mungkin lagi digunakan dimasa mendatang, walaupun baru ditahbiskan pada tahun 2017 bertepatan dengan sidang tahunan GPID, maka ke depan kami perlu untuk bekerja keras dalam membangun kebersamaan guna membangun kembali gedung gereja.
Lebih jauh terungkap, bahwa warga jemaat Toro sangat berterima kasih atas kehadiran fasilitator Pnt. Aleksander Mangoting dari Pengurus Pusat Persekutuan Kaum Bapak Gereja Toraja Dalam pembinaan yang dihadiri puluhan peserta berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan persaudaraan. Dalam pembinaan kali ini tetap pada tema “Ketahanan pangan paskah bencana” dengan titik berangkat dari perubahan pola pikir, kemampuan untuk melihat berbagai potensi di sekeliling sehingga potensi itu dapat dimaksimalkan dengan diberi arahan dan pendampingan untuk dapat memaksimalkan potensi yang ada.
Perlu Mentoring ke depan
Dalam melihat pergumulan, maka kami selaku warga jemaat Toro masih membuthkan tenaga yang dapat mengarahkan, membimbing, memberi inspirasi, memberikan pelatihan untuk dapat memaksimalkan potensi yang ada di sekitar kami. Jadi kami butuh mentoring, dan kalau masih memungkinkan kami tetap dimentori dari fasilitator kali ini. Demikian permintaan peserta.
Diposting tanggal 25 Sep 2019
