Bahan Khotbah Minggu ke-30 Tanggal 29 Juli 2018 TUHAN SANGGUP MENOLONG (Manassa Inang La Natunduiki’ Puang Matua)
Bahan Khotbah Minggu ke-30 Tanggal 29 Juli 2018
TUHAN SANGGUP MENOLONG
(Manassa Inang La Natunduiki’ Puang Matua)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 145:10-18 |
| Bacaan 1 | : 2 Raja-Raja 4:42-44 |
| Bacaan 2 | : Efesus 3:14-21 |
| Bacaan 3 | : Yohanes 6:1-21 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 145:21 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Mazmur 145:20 |
Tujuan:
-
Jemaat meyakini bahwa Tuhan sanggup menolong
-
Jemaat menghidupi cara hidup tolong menolong
Pemahaman teks:
Seluruh bacaan Alkitab dalam kebaktian hari minggu ini, diperjumpakan oleh dua sikap kontras yang dimunculkan oleh tokoh atau pelaku yang dikisahkan di dalamnya. Kedua sikap yang saling bertolak belakang itu ialah sikap optimis (berpengharapan) dengan sikap pesimis (tidak punya harapan) dalam menghadapi situasi problematik (masalah-masalah kehidupan yang belum terselesaikan).
Kitab 2 Raja-Raja banyak mengisahkan tanda ajaib yang dilakukan oleh Elisa, Abdi Allah, di hadapan banyak orang. Salah satunya tercatat dalam pasal 4:42-44, saat ia memberi makan kepada 100 orang hanya dengan dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Tidak mengherankan bila Gehazi muridnya, dengan nada pesimis bertanya, "Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?" Nyatanya, setelah dihidangkan masih ada yang tersisa.
Sikap pesimis yang sama ditunjukkan oleh murid-murid Yesus seperti yang dituliskan dalam Yohanes 6:1-21. Ada dua kondisi kritis yang dihadapi oleh murid-murid dalam kisah tersebut: memberi makan 5000 orang dan melintasi Danau Galilea dalam perahu di tengah badai yang bergelora. Murid-murid begitu pesimis saat dituntut untuk menyajikan makanan secara mendadak kepada lebih dari 5000 orang (Disebut lebih dari 5000 orang karena angka 5000 itu hanya menunjuk kepada laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak). Kalau Gehazi saja pesimis memberi makan 100 dengan dua puluh roti jelai dan sekantong gandum, apalagi murid-murid yang harus menyajikan makanan kepada lebih dari 5000 orang hanya dengan lima roti jelai dan dua ikan. Wajarlah bilamana Andreas, mewakili perasaan dan sikap murid-murid lainnya, dengan nada pesimis berkata, “...apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Pesimisme[1] murid-murid berlanjut ketika perahu mereka diamuk badai. Mereka tentu panik dan sangat ketakutan dalam suasana yang gelap itu. Dalam kedua situasi kritis ini, di mana murid-murid sungguh tak berdaya, Yesus menunjukkan kuasa-Nya menolong mereka.
Kontras dengan keadaan tersebut di atas, bacaan kita tentang Daud dan Paulus justru memperlihatkan sikap optimis[2] dalam menghadapi kehidupan. Dalam Mazmur 145:10-18 Daud mengungkapkan keyakinannya tentang Tuhan yang adalah “penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk, yang memberi ... makanan pada waktunya, yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup, yang adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya, dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, menjaga semua orang yang mengasihi-Nya.” Karena semua sifat Allah yang demikian itu, Daud bersikap positif/optimis (berpengharapan baik) menghadapi kehidupan ini dan bertekad mengajak semua makhluk untuk memuji Allah “seterusnya dan selamanya.”
Optimisme (keyakinan yang menyenangkan) yang sama ditunjukkan Paulus dalam Efesus 3:14-21. Merefleksikan pengalaman hidupnya diperhadapkan dengan berbagai tantangan hidup, ia menyaksikan dan meyakini bahwa Allah sanggup dan “dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan”(ayat 20). Paulus menyadari bahwa untuk sampai pada keyakinan itu, seseorang mesti berakar dalam Kristus serta memahami kasih-Nya. Itulah sebabnya ia berdoa kiranya jemaat dapat memahami kasih Kristus.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan:
-
Bersikap pesimis (mudah putus asa) dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan seringkali menghinggapi perasaan kita, terutama bila persoalan tersebut tampak melampaui kemampuan kita untuk menghadapinya.
-
Bacaan kita hari ini mengisahkan kondisi-kondisi di mana sesuatu yang tidak mungkin dapat terjadi: Murid Elia, yakni Gehazi, yang dengan dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong harus memberi makan 100 orang (2 Raja 4:42-44); murid-murid Yesus yang harus mencari makanan bagi lebih dari 5000 orang; serta murid-murid Yesus yang terombang-ambing gelombang dan gemuruh badai hebat dalam gelap malam di tengah danau.
-
Keterbatasan insani adalah alasan mendasar dan logis yang sering mengundang keraguan bahkan ketakutan manusia menghadapi persoalan-persoalan yang melampaui kemampuannya. Kondisi ini sering disesali atau diratapi manusia, karena pada dasarnya manusia cenderung ingin selalu mampu mengatasi semua persoalannya.
-
Pada banyak kondisi ketika manusia merasa mampu seringkali ia berlagak seakan-akan tidak butuh bantuan pihak lain, termasuk Allah sendiri. Ini sering terlihat pada mereka yang dengan angkuh menerima nikmat hidup sementara, misalnya mereka yang kuat, kaya, dan atau sehat. Sebaliknya, ada orang yang seringkali begitu takut menghapi berbagai situasi hanya karena ketakutan-ketakutan itu terlalu dibesar-besarkan. Akibatnya, ia tidak berani atau tidak berusaha melakukan tindakan apapun yang sesungguhnya masih mungkin untuk dilakukannya. Dalam hal inilah tampak pembeda antara manusia yang pesimis (tidak berpengharapan) dengan yang optimis (berpengharapan). Inilah yang tampak dikontraskan dalam bacaan kita hari ini, murid-murid Yesus dan Murid Elia di pihak yang pesimis dengan Daud dan Paulus di posisi yang optimis. Pesimisme murid Yesus dan Elia terjadi karena mereka mengandalkan diri mereka sendiri, sementara Paulus dan Daud optimis karena mereka mengandalkan Tuhan. Bagi Daud dan Paulus, tidak ada yang mustahil kalau Tuhan mau bertindak. Itulah dasar pengharapan Paulus dan Daud.
-
Manusia telah tercipta sebagai makhluk yang terbatas. Keterbatasan insani yang melekat pada hakikat dirinya seharusnya membawa manusia sampai pada kesadaran sebagai mahkluk atau ciptaan, yang membutuhkan dan mencari pertolongan dari Allah. Kesadaran akan keterabatasan ini dapat dan seharusnya membawa manusia pada sikap batin yang positif, yaitu berhenti bersandar pada dirinya lalu mengarahkan sandaran hidupnya pada Tuhan yang Maha Kuasa.
-
Tuhan seringkali membawa manusia ke dalam keadaan yang menyadarkannya atas ketakberdayaannya. Inilah yang dilakukan oleh Yesus. Ia sudah tahu bahwa bagi murid-murid, adalah mustahil untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk dimakan oleh 5000 orang dalam waktu mendadak (bnd. Yoh 21:6). Ia melakukan hal itu untuk mencobai mereka, lalu melakukan mujizat-Nya supaya mereka sadar dan tahu bahwa Allah mampu menolong mereka, melampaui kemampuan mereka yang terbatas itu.
-
Tuhan selalu punya cara untuk memelihara dan mencukupkan kebutuhan umat-Nya. Mereka yang percaya pada Tuhan tidak akan berkekurangan. Ia adalah Allah yang selalu hadir dan berkarya dalam kehidupan umat-Nya, baik melalui cara yang tampak biasa dan kasat mata oleh manusia, maupun dalam wujud mujizat. Banyak hal dimana mujizat Allah itu tetap nyata, namun manusialah yang tidak menyadarinya. Agustinus, Bapa Gereja, pernah berkata: Tiap hari Allah melakukan mujizat yang jauh lebih besar dari pada yang terjadi dalam pemberian makan kepada 5000 orang, karena Allah memberi makan seluruh dunia dengan menciptakan ladang gandum dari sedikit biji gandum. Tetapi orang tidak memperhatikan mujizat ini!
Aplikasi:
-
Hal yang sudah umum bahwa kita sering merasa tidak berdaya menghadapi berbagai persoalan dalam hidup ini. Tak terhitung banyaknya masalah dalam bidang kesehatan, pekerjaan, pendidikan anak, karir, ekonomi, dan berbagai hal di masa depan kita. Ibarat sebuah perjalanan, jalan yang kita lalui kadang begitu terjal. Dalam beberapa kasus, mungkin kita masih dapat mengandalkan orang-orang di sekeliling kita. Namun sayangnya, kadang pula orang-orang di sekeliling kita tampil justru sebagai batu sandungan atau sebagai penghalang perjalanan kita. Dalam situasi itu, seringkali kita mulai putus asa. Tak jarang pula orang lalu memilih jalan pintas atau menghalalkan berbagai cara asal dapat melewati rintangan tersebut. Ironisnya, dengan cara itu jalan kita biasanya kian terjal. Kita makin terlilit dalam perangkap masalah akibat ulah kita sendiri.
-
Adalah hal yang tampak manusiawi bilamana manusia sering menemukan jalan buntu dalam hidupnya. Tapi adalah hal yang benar dan imani bilamana dalam semua hal manusia mengandalkan Tuhan. Allah sengaja menciptakan manusia dalam keadaan yang tidak mampu mengatasi semua permasalahan hidupnya, supaya dengan demikian manusia tetap merasakan ketergantungannya kepada Tuhan. Namun demikian, dalam segala keterbatasannya itu, manusia harus selalu berusaha berbuat semampunya, karena selebihnya dari usaha manusia itu adalah usaha dan tindakan Allah yang Maha Berdaulat. Ia, dalam hikmat dan otoritas-Nya (kekuasaan untuk bertindak), akan melakukan apa yang dipandang-Nya baik bagi umat-Nya. Yang pasti dan jelas, Tuhan selalu sanggup menolong dan mengatasi semua persoalan.
Diposting tanggal 24 Jul 2018
