Bahan Khotbah Minggu ke-29 Tanggal 22 Juli 2018 TUHAN SETIA PADA JANJINYA (Manappa’ Tu Puang Lako Pangallu’Na)
Bahan Khotbah Minggu ke-29 Tanggal 22 Juli 2018
TUHAN SETIA PADA JANJINYA
(Manappa’ Tu Puang Lako Pangallu’Na)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 89:20-27 |
| Bacaan 1 | : 2 Samuel 7:1-17 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : Efesus 2:11-22 |
| Bacaan 3 | : Markus 6:30-34,53-56 |
| Nas Persembahan | : 2 Samuel 7: 29 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Efesus 2:19-20 |
Tujuan:
-
Jemaat memahami bahwa Allah setia melaksanakan Janji-Nya
-
Jemaat setia kepada janjinya.
Pemahaman Leksionari
2 Samuel 7:1-17 menjelaskan bahwa ayat 2-3, merupakan desakan Natan agar Daud membangun Bait Allah. Perintah Natan kepada Daud, “lakukanlah apa yang ada dalam hatimu, Tuhan pasti akan menyertai engkau”. Ayat 5-7 Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud, “Beginilah firman Tuhan: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Ku diami?. Dalam teks Ibrani ada permainan kata “rumah” (bayait) dalam janji Allah kepada Daud, ayat ini bisa berarti Bait Allah, tetapi bisa juga berarti keturunan (keluarga). Jadi inti Firman Allah adalah: “jangan mendirikan rumah (Bait Allah) bagi-Ku”. Ayat 11-13, tetapi aku akan membangun rumah (memberikan keturunan) bagimu dan salah seorang dari padamu akan membangun rumah (Bait Allah) bagiku”. Ayat 14-16 merupakan ayat kunci di mana terdapat Janji Tuhan kepada Daud, bahwa “Aku akan menjadi Bapanya dan ia akan menjadi anak-Ku. Kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti kuhilangkan dari pada Saul. Bahwa keluarga serta kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku”
Efesus 2:11-22, menjelaskan tiga hal Penting yang ditekankan Paulus kepada Jemaat di Efesus yaitu: Pertama, pengajaran kehidupan orang Yahudi dan Yunani sebelum menerima Kristus. Kedua, ajaran tentang Yesus Kristus. Ketiga, cara hidup orang yang sudah menerima Kristus. Khusus dalam Efesus 2:11-22 dapat dibagi tiga yakni: Ayat 11-12, menjelaskan tentang hidup di luar Yahudi dan Kristus. Ayat 13-17, menguraikan tentang hidup dalam Kristus dan ayat 18-22 menjelaskan tentang kehidupan orang yang dipersatukan dalam Kristus.
Siapakah orang-orang bukan Yahudi ini? Sebenarnya pemisahan seperti ini adalah cara berfikir orang Yahudi saja, yang menganggap bahwa hanya Yahudi saja yang berhak atas anugerah Allah. Karena para nabi terus-menerus mengingatkan bahwa Allah menghendaki supaya bangsa-bangsa lain juga menyembah Allah (Yer. 4:2), dan bahwa mereka ingin mengenal Allah Israel (Yesaya 42:1-4). Cerita tentang Yunus juga mengingatkan kita bagaimana Allah mengasihi musuh Israel. Allah menghendaki agar suatu saat Ia akan menjadi satu-satunya penguasa atas segala bangsa dan mereka akan bersama-sama menyembah-Nya (Maz.47:8-9, 86:8-9) dan kerajaan yang akan Ia dirikan, di dalamnya terdapat berbagai suku bangsa dan bahasa yang mengabdi kepada-Nya (Dan.7:14). Sama halnya dalam PB, justru Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan. Ia menyembuhkan siapa saja yang sakit, misalnya orang yang kerasukan setan di Gerasa sebuah kota yang bergaya Yunani (Mark. 5), menyembuhkan seorang bisu tuli di wilayah Tirus dan Sidon(Mark. 7:31-37) dan hamba seorang perwira di Kapernaum (Mat. 8:5-13). Para Rasul memutuskan bahwa setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Allah dan melakukan kebenaran, dikasihi Allah (Kis.10:35). Paulus menegaskan, bahwa baik orang Yahudi maupun bukan orang Yahudi yang percaya kepada kepada apa yang telah Allah perbuat melalui Yesus akan diterima sebagai umat yang baru (Gal. 2:11-16).
Markus 6:30-34,53-56, menguraikan tentang Para rasul yang berkumpul dan merupakan rasul-rasul yang telah dikirim oleh Yesus berdua-dua. Mereka diberi kuasa mengalahkan roh-roh jahat, mereka tidak boleh membawa bekal apa-apa dalam perjalanan bahkan uang dalam ikat pinggangpun jangan, kecuali tongkat. Boleh memakai alas kaki tetapi jangan memakai dua baju (ayat 7-13). Kini mereka kembali berkumpul dengan Yesus untuk mengadakan laporan pertanggung jawaban atas apa yang para rasul telah kerjakan. Laporan pertanggungjawaban para rasul ini diadakan di suatu tempat yang teduh dan tenang, sehingga mereka boleh beristirahat sejenak (re-treat).
Pada ayat 33, rupanya berbeda dengan yang mereka inginkan, karena setibanya di tempat yang dituju ternyata orang banyak telah lebih dulu tiba ditempat tersebut karena orang banyak itu mengambil jalan darat. Ayat 34 hati Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan lalu Ia mengajari mereka banyak hal, dan dengan mujizat yang luar biasa Ia memberi makan kepada semua yang hadir yakni lima ribu orang laki-laki. Mujizat ini mengingatkan kita kepada mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada pemberian makan kepada empat ribu orang dan tersisa tujuh bakul banyaknya (Markus 8:1-10). Peristiwa ini juga mengingatkan kita pada Allah yang memberi makan kepada orang Israel di padang gurun ketika keluar dari tanah Mesir (Baca: Keluaran 16 dan Bilangan 11).
Pokok-Pokok yang dapat dikembangkan
Menurut Harun Hadiwijono, akibat dosa dapat dirangkumkan dalam dua hal yaitu.[1]. Pertama, dosa mengakibatkan hidup manusia ada di bawah perbudakan dosa. Tuhan Yesus pernah berkata seperti dalam Yohanes 8:34, bahwa setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Rasul Paulus menulis suratnya kepada Jemaat di Roma, bahwa barang siapa berbuat dosa, ia menyeret dirinya sendiri ke dalam perbudakan, di mana ia harus menaklukkan dirinya kepada tuntutan-tuntutan dosa ...” (Rm.6:13). Dosa memperbudak batin, pikiran, hati dan tubuh serta anggota-anggotanya. Dalam Efesus 4:17-19 ditekankan bahwa: “Sebab itu ku katakan dan ku tegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia, dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran”.
Kedua, dosa mengakibatkan manusia terkena murka Allah. Murka Allah akibat dosa[2] melindas hidup manusia pada masa kini dan juga pada masa mendatang. Murka itu tidak hanya berlaku bagi bangsa yang tidak mengenal Allah, tetapi juga kepada bangsa Israel. Orang Israel berusaha hidup memenuhi segala tuntutan Taurat, tetapi usaha itu dilakukan tanpa pengertian yang benar. Hal itu disebabkan karena pikiran Israel juga telah digelapkan oleh murka Allah, sehingga mereka tidak mengenal kebenaran Allah, dan berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rm.10:2-3). Menyangkut orang-orang yang tidak mengenal Allah, maka murka Allah juga berlaku karena mereka hidup dalam pengertian yang sia-sia serta hidup yang gelap jauh dari persekutuan dengan Allah (bnd.Efesus 4:17-19).
Siapapun pasti berpotensi untuk jatuh dalam kesalahan. Seorang seperti Daud, yang benar-benar ingin mengikuti Allah dan diberkati berlimpah oleh-Nya, juga masih rentan jatuh ke dalam godaan. Akibatnya, Daud harus menuai apa yang ia tabur. Anak yang lahir dari perzinahan harus diambil darinya (2 Samuel 12:14-24). Lebih-lebih lagi, ia harus menderita kesengsaraan atas putusnya hubungan yang intim dengan Allah (Mazmur 32 dan 51).
Apakah nabi Natan Keliru? Ada beberapa ahli Biblika yang menjelaskan bahwa nabi Natan berbicara sebelum mendengar Firman Tuhan. Kalimat nabi Natan kepada Daud: “lakukanlah apa yang ada dalam hatimu, Tuhan pasti akan menyertai engkau (Ayat 2-3). Nabi Natan keliru karena ia telah berkata kepada Daud agar melaksanakan rencana pembangunan Bait Allah, akan tetapi dia telah memperbaiki kesalahannya setelah Allah menampakkan diri kepadanya dalam sebuah penglihatan (ayat 4-5).
Pada ayat 5-7 Daud tidak diperkenankan untuk membangun Bait Allah. Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud, “…Beginilah firman Tuhan: “Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Ku-diami? Pada ayat 12-14, apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu, kemudian anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.
Aplikasi:
-
Pelanggaran Daud seharusnya menjadi himbauan bagi kita untuk menjaga hati, mata, dan pikiran kita. Adalah jauh lebih baik menghindari dosa daripada menghadapi akibat dosa di kemudian hari.
-
Dalam arti politis, “Rumah Daud” tidak bertahan lagi sejak kerajaan Israel jatuh ke tangan Babel pada tahun 587 Sebelum Masehi. Akan tetapi, janji Allah kepada Daud telah menjadi dasar pengharapan akan datangnya seorang Mesias.
-
Ayat Kunci. Sebagaimana yang sudah kita renungkan minggu lalu, ayat kunci adalah ayat 14-16 di mana terdapat janji Tuhan kepada Daud, kekal dan setia: Aku akan menjadi Bapanya dan ia akan menjadi anak-ku. Kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti kuhilangkan dari pada Saul. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.
-
Bayangan Yesus. Dalam perjanjian ini (ayat 16), bayangan Tuhan Yesus dapat ditemui. Ditegaskan kembali dalam Injil Lukas 1:3-33, ketika seorang malaekat menampakkan diri kepada Maria untuk memproklamirkan kedatangan Yesus dan berkata, “Ia akan menjadi besar dan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
-
Janji Setia Tuhan: Allah selalu bermurah hati memberi pengampunan, bahkan untuk dosa yang paling buruk, ketika kita sungguh-sungguh bertobat.
[1] H. Hadiwijono, Iman Kristen, hlm. 240-241.
[2] Tuhan Allah bukanlah sebab adanya dosa. Dalam PL mengatakan bahwa jauh daripada Allah untuk melakukan kefasikan dan kecurangan (Ayub 34:10 bnd. Mzm 92:16; 118:1,29; 136:1). Bahkan sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Allah murka terhadap dosa yang diperbuat manusia (Kel 23:22; Yes. 63:10). Bahkan dikataka bahwa dosa memisahkan manusia dari Tuhan Allah (Yes 59:1-16). Dalam PB dikatakan bahwa Allah adalah terang dan bahwa di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Terang itu ada di dalam Yesus Kristus (bnd. Yoh. 1:5, 18).
Diposting tanggal 16 Jul 2018
