Tak Sanggup Mendengar Kabar Baik
Pemimpin jelas berbeda dengan penguasa. Pemimpin berpikir dan bertindak untuk kepentingan yang dipimpin. Penguasa cenderung berpikir untuk dirinya, untuk mempertahankan kekuasaannya dan mengambil keuntungan sebanyak dan selama mungkin dari kekuasaannya. Pemimpin mempersiapkan penggantinya sedangkan penguasa berusaha menyingkirkan siapapun yang dianggap memiliki pengaruh dan potensial menggesernya atau mengambil alih kuasanya. Pemimpin memuliakan dan menggunakan kekuasaan dengan baik untuk kesejahtraan yang dipimpin. Penguasa menjadikan kuasa sebagai alat yang dimiliki, tetapi sekaligus juga sebagai tujuan hidup. Bagi penguasa, berkuasa itu nikmat tetapi bagi pemimpin kuasa adalah tanggungjawab.
Para pemimpin Yahudi (mungkin sebagian besar), terutama pemimpin agama jelas-jelas sudah menjadi penguasa yang takut kehilangan pengaruh, takut kehilangan kuasa, dan takut terhadap resiko perjuangan kemerdekaan. Mereka sudah menikmati hidup sebagai yang menikmati kekuasaan atas kelompok umat yang sedang terjajah oleh kekaisaran Romawi.
Ketakutan telah memicu timbulnya niat jahat dan tekad buruk yang luar biasa. Mereka membenci kebaikan yang dilakukan oleh Yesus, dan memandang Lazarus dengan kesaksiannya sebagai ancaman yang harus segera diakhiri. Mereka seolah-olah tidak punya pilihan dalam upaya mempertahankan kekuasaan kecuali membunuh saingan.
Sungguh menyedihkan, bahwa para pemimpin agama justru takut mendengar kabar baik, tak sanggup mendengar kabar mengenai hadirnya sosok yang lebih baik, yang sesungguhnya tidak bermaksud membentuk partai baru, apalagi menggulingkan pemerintah yang sedang berkuasa.
Pokok yang menjadi perenungan atau didiskusikan:
- Benarkah pernyataan ini: “ketidakmampuan (tidak percaya diri) menyebabkan seorang memandang yang lain sebagai saingan, bahkan lawan yang harus disingkirkan.”
- “Kalau dia memang lebih baik, mengapa saya harus marah jika dia yang terpilih.”
Diposting tanggal 08 Apr 2016
