Bahan Khotbah Minggu ke-29 Tanggal 19 Juli 2020 TEGAR DI TENGAH TEKANAN Tumanan lan a’gan Mabanda’
Bahan Khotbah Minggu ke-29 Tanggal 19 Juli 2020
TEGAR DI TENGAH TEKANAN
Tumanan lan a’gan Mabanda’
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 139:1-12 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 44:1-8 |
| Bacaan 2 | : Roma 8:12-25 |
| Bacaan 3 | : Matius 13:36-43 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Hakim-Hakim 6:18 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Roma 8:15 |
Tujuan:
- Jemaat mamahami bahwa Allah tidak membiarkan anak-anak-Nya berjalan sendiri.
- Jemaat hidup tidak kehilangan pengharapan menjalani kehidupan yang penuh tantangan.
Pemahaman Teks
Mazmur 139 berisi pengakuan bahwa tidak ada yang tersebunyi bagi Tuhan. Di manapun, kapanpun dan apapun yang dilakukan manusia semua berada dalam jangkauan Tuhan. Pengakuan iman ini tidak mampu dijangkau dengan akal dan pikiran manusia (ay. 6). Itulah alasan sehingga pemazmur memohon kepada Tuhan untuk menguji dan menyelidiki hati dan pikirannya (ay. 23) sekaligus memohon kiranya Tuhan selalu menuntunnya di jalan yang benar (ay. 24).
Yesaya 44:1-8 adalah bagian dari perikop tentang penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya Allah yang sejati, tidak ada yang lain. Allah menyingkapkan kebodohan membuat patung dari logam dan kemudian berdoa minta tolong kepadanya (ay. 12-20). Allah memberikan tantangan-Nya kepada dunia yang menyembah berhala dengan menyatakan keberadaan-Nya yang kekal serta keunikannya sebagai satu-satunya Allah yang kekal, Dia menunjukkan kesaksian tentang penggenapan nubuat-nubuat (satu fenomena khas dari Perjanjian Lama) sebagai jenis bukti dari kuasa ilahi, yang tidak pernah dapat dihasilkan oleh agama ciptaan manusia manapun. Terhadap penggenapan nubuat ini bangsa Yahudi berdiri sebagai saksi, yang memberikan verifikasi (bukti) kepada seluruh dunia bahwa TUHAN-lah satu-satunya Allah, dan tidak ada perlindungan dalam siapapun, selain dalam Dia.
Roma 8:12-25 adalah lanjutan dari perikop sebelumnya di mana Paulus kembali menekankan, bahwa kuasa kebangkitan Yesus Kristus disediakan bagi kita melalui Roh Allah yang diam di dalam kita. Bagian ini dibagi dalam dua perikop besar yakni ayat 12-17 yang menguraikan tentang peran Roh Kudus yang telah memerdekakan kita, sehingga kita layak disebut anak-anak Allah. Sedangkan ayat 18 menguraikan pengharapan dari anak-anak Allah bahwa dengan pengharapanlah orang-orang percaya tetap teguh dan kuat bertahan dalam berbagai tekanan yang dihadapi atau dialami.
Matius 13:36-43 merupakan sebuah perumpamaan yang dikemukakan Yesus untuk menjelaskan maksud-Nya. Sama seperti perumpamaan sebelumnya, kali ini Yesus mengangkat perumpamaan dari konteks dan kondisi yang riil dari para pendengar-Nya, yaitu lalang di antara gandum. Permintaan murid-murid kepada Yesus "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu "(lay. 36), mengisyaratkan bahwa mereka mengaku kalau mereka tidak tahu, dan mereka mengatakannya tanpa malu-malu. Mungkin saja mereka memahami perumpamaan itu secara umum, tetapi mereka ingin mengertinya secara lebih khusus, dan ingin memastikan bahwa pengertian mereka itu sudah benar. Dalam ayat 37-39, Yesus menjelaskan maksud perumpamaan-Nya. Penabur adalah Anak Manusia, ladang adalah dunia, benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan, lalang adalah anak-anak si jahat, musuh yang menaburkan benih lalang adalah iblis, waktu menuai adalah akhir zaman dan para penuai adalah malaikat. Pada waktu panen-lah nantinya, baru lalang dikumpulkan dan dicampakkan ke dalam api. Dalam ayat 43a Yesus memberi jaminan, bahwa orang-orang benar (anak-anak Kerajaan) akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan Allah.
Korelasi Bacaan: Pengalaman hidup orang Israel menjadi bukti otentik bahwa tidak ada ilah lain yang patut disembah selain Allah. Allah yang benar dan satu-satunya itu telah menyatakan diri dalam Yesus Kristus melalui karya penebusan-Nya. Orang-orang yang menerima penebusan dalam Yesus disebut anak-anak Allah yang terus menerus dituntun dan dibimbing oleh Roh Kudus untuk menghasilkan buah-buah kebenaran. sekalipun kehidupan anak-anak Allah berada di antara, bersama dan di tengah-tengah kuasa kegelapan, namun pada akhirnya akan nampak bahwa anak-anak Tuhan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Allah.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan dalam khotbah
- Setiap orang pasti (=pernah) menghadapi dan mengalami tantangan, pergumulan, persoalan dan atau masalah dengan beragam sifat, intensitas, maupun sikap dalam menghadapinya. Ada yang sifatnya ringan, sedang maupun berat. Intensitas dan waktunyapun berbeda, ada yang sangat jarang dan waktunya singkat, ada yang sangat jarang tetapi waktunya lama, ada yang sering tetapi waktunya singkat, atau ada sering serta waktunya lama. Sikap dalam menghadapi tantangan, pergumulan atau persoalan juga berbeda pada setiap orang. Ada yang menyikapi suatu persoalan sebagai suatu masalah yang berat, tetapi bagi orang lain yang mengalami persoalan yang sama menganggapnya hanya masalah ringan, atau sebaliknya. Tantangan, masalah atau persoalan yang kita hadapi, selain berasal dari luar, juga dari dalam diri sendiri. Banyak orang sering tidak menyadari bahwa masalah atau persoalan yang dihadapinya sebenarnya bersumber dari dalam dirinya sendiri dan seringkali masalah ini sering lebih berat dari pada yang bersumber dari luar diri kita.
- Perumpamaan lalang di antara gandum adalah penggambaran dari realitas yang dialami dan dihadapi orang-orang percaya. Anak-anak Tuhan (digambarkan sebagai gandum) akan hidup di tengah dan bersama dengan anak-anak si jahat (digambarkan dengan lalang). Mereka hidup dan tumbuh bersama, menggunakan tanah yang sama, air yang sama, udara yang sama dan pupuk yang sama. Mungkin saja pertumbuhan lalang lebih baik dan subur dibanding dengan gandum, bahkan bisa saja lalang menghimpit dan menghalangi pertumbuhan gandum. Namun satu hal yang pasti, ialah sekalipun dihimpit dan atau dihalangi pertumbuhannya, gandum tetaplah gandum yang tidak mungkin berubah menjadi lalang dan pada saat panen akan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam lumbung. Sedangkan lalang, pada waktu panen tiba, lalang justru akan dikumpulkan dan dibakar. Lewat perumpamaan ini Yesus mau menegaskan, bahwa kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya tidak lepas dari berbagai tantangan atau persoalan, bahkan mungkin saja merasa terhimpit dan tak berdaya terhadap dan dalam lingkungannya. Yesus sejak awal sudah memberikan peringatan-peringatan tentang resiko-resiko yang akan dihadapi atau dialami orang-orang yang percaya kepada-Nya (Mat. 10:16, Yoh. 15:18-27).
- Sekalipun orang percaya hidup dalam berbagai tantangan dan tekanan, namun orang percaya tidak boleh kehilangan pengharapan. Orang Kristen memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah yang disembah dan dipercayainya adalah Allah tidak pernah meninggalkannya. Tidak ada yang tersembunyi bagi Dia. Tangan kanan-Nya yang memegang (Mzm. 139). Dialah Allah Kekal yang memberi jaminan bagi umat-Nya, bahwa tidak ada allah lain, selain Dia (Yes. 44:1-8). Kehidupan orang percaya senantiasa dipandu dan dituntun oleh Roh Kudus, sehingga tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh yang telah menjadikannya sebagai anak-anak Allah. Kita tidak menerima roh perbudakan yang membuat kita tidak takut lagi, tetapi Roh yang memerdekakan kita sehingga kita dapat memanggil Allah “ya Abba, ya Bapa”. Oleh karena itu penderitaan yang kita alami tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Kita ingin menjalani hidup kita kini dalam pengharapan itu (Rm. 8:12-25).
- Gereja dipanggil dan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar bagi dunia, yang mewujud secara sempurna di dalam dan melalui Yesus Kristus. Gereja dipanggil dan diutus untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah (syalom), serta menjadi berkat bagi dunia. Diakui dan disadari sepenuhnya, bahwa dalam mewujudkan misi pengutusan ini, orang Kristen pasti menghadapi banyak tantangan, perlawanan dan tekanan, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Kesetiaan dan ketaatan penuh pada Allah yang telah memilih dan mengutus kita menjadi fondasi utama bagi kita, sehingga tetap tegar dalam menghadapi berbagai tekanan yang dihadapi. Kita terarah pada masa depan yang gemilang di dalam Kerajaan Allah, ketika Yesus datang kembali. Pengharapan inilah juga yang memampukan setiap orang percaya untuk tetap tegar dalam menghadapi tekanan. Roh Kudus tetap dan terus menerus menguatkan, meneguhkan dan memayungi kita dalam menghadapi berbagai tekanan dan penderitaan. Sebuah payung memang tidak menghentikan hujan dan badai, namun dengan payung kita dapat berjalan menembus hujan dan badai.
Diposting tanggal 16 Jul 2020
