Senin, 15 April 2019 Imamat 23: 1-8 MAKNA IBADAH Gai’na Kamenomban
Senin, 15 April 2019 Imamat 23: 1-8
MAKNA IBADAH
Gai’na Kamenomban
Sering kita mendengar alasan seseorang tidak mengikuti atau menghadiri kebaktian atau beribadah pada hari-hari yang telah ditetapkan, misalnya pada hari Minggu. Sibuk…, pekerjaan lembur… dan lain sebagainya. Ada juga yang rajin mengikuti setiap ibadah namun sekedar formalitas saja. Saya sering mengatakan kepada yang orang yang demikian bahwa kamu itu rugi dua kali: sudah capek dari rumah dan meninggalkan pekerjaan, ibadah tidak diterima lagi oleh Tuhan.
Musa dipakai oleh Tuhan menyampaikan perintah bagi umat mengenai ibadah. Pertama bahwa ada waktu yang Tuhan telah tetapkan serta wajib diikuti oleh umat. Kedua, bahwa ibadah yang ditetapkan Allah ialah kesempatan bagi umat untuk menguduskan diri yang dalam bacaan kita disebut pertemuan kudus. Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menyatakan kekudusan. Pada hari itu seseorang tidak boleh mengerjakan suatu pekerjaan (ay. 3,7,8).
Bagaimana dengan ibadah yang kita lakukan selama ini? Tidakkah kita melalukannya secara formalitas saja? Kita mungkin hadir dalam ibadah namun selalu teringat pada pekerjaan dan segala aktifitas kita yang belum selesai. Disebut sebagai sarana pengudusan, namun kenyataan sekarang ini kadang waktu ibadah dijadikan sebagai waktu untuk bertemu dengan seseorang sehingga selama ibadah berlangsung tidak jarang yang hanya sibuk main dengan HP, berceritera dll. Karena itulah kita diingatkan oleh firman Tuhan hari ini bahwa semestinya ibadah itu kita hargai karena merupakan sarana pengudusan kita melalui relasi dengan Tuhan.
Diposting tanggal 11 Apr 2019
