Rabu, 18 September 2019 Ayub 40:1-9 KEBESARAN TUHAN (KamatandeanNa Puang Matua)
Rabu, 18 September 2019 Ayub 40:1-9
KEBESARAN TUHAN
(KamatandeanNa Puang Matua)
Ketika TUHAN menyuruh Ayub untuk menjawab pertanyaan-Nya, jawaban Ayub adalah, “Aku ini terlalu hina.., jawaban apakah yang dapat aku berikan?”. Dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris, kata hina yang dipakai Ayub adalah veil, yang artinya bernilai sangat kecil. Ayub merasa dirinya bernilai sangat kecil di hadapan TUHAN yang begitu besar. Penderitaan, ternyata tidak membuat Ayub menyaksikan kebesaran TUHAN. Bahkan, ditengah penderitaan-Nya ia memilih menutup mulutnya dari pada mencoba-coba meragukan kebesaran-Nya.
Teks ini rupanya memang ingin menekankan kebesaran TUHAN, sebab afirmasi akan kebesaran-Nya juga keluar dari mulut TUHAN sendiri, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan retoris. Intinya, dapatkah manusia membandingkan dirinya yang kecil dengan TUHAN yang suaranya adalah guntur? Pertanyaan retoris ini jelas jawabannya: Ayub, kita tidak dapat membesarkan diri kita di hadapan TUHAN.
Manusia bergumul dengan segala dinamika hidupnya: senang, susah, bahagia, sedih, sukses, gagal, kehilangan, dsb. Dapatkah manusia mengatakan TUHAN itu besar hanya ketika ia sedang berada pada situasi hidup yang menguntungkan? Apakah TUHAN menjadi kurang berkuasa ketika kita sedang terpuruk? Tidak! Suatu kali, dalam ibadah pelepasan jenasah seorang profesor di sebuah Gereja, keluarga yang berduka beserta segenap pelayat dengan khusyuk dan nyaring menyanyikan, “Kami memuji kebesaranMu...”. Benarlah, dalam iman Kristen, di hadapan kematian sekalipun, ada pengakuan bahwa TUHAN tetap gagah perkasa, tidak ada yang dapat mengurangi kebesaran-Nya. Amin
Diposting tanggal 09 Sep 2019
