Sabtu, 18 Agustus 2018 Yohanes 6:32-40 ROTI YANG MEMBERI KEHIDUPAN
Sabtu, 18 Agustus 2018 Yohanes 6:32-40
ROTI YANG MEMBERI KEHIDUPAN
Setiap orang memiliki makanan favorit. Ada yang suka roti kukus, deppa tori’, buroncong, kue bolu, dll. Namun, semua makanan itu, seenak dan sebanyak apa pun, pasti akan habis, lalu kita berusaha untuk membeli atau membuatnya lagi. Pernahkah kita, ketika sedang menikmati makanan-makanan favorit di atas, kita teringat terhadap Yesus yang menyebut diri-Nya roti hidup?
Dalam percakapan Yesus dengan orang banyak di Kapernaum, kita dapat mengamati alur perkataan Yesus. Mula-mula, Ia berbicara dengan menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal (Dia). Dalam hal ini, Yesus ingin merujuk pada Allah, yang dari pada-Nya roti hidup berasal. Setelah itu, Yesus dengan tegas menggunakan kata ganti orang pertama tunggal (Aku). Di sini, Yesus hendak menekankan bahwa roti yang datangnya dari Allah, tak lain adalah Yesus sendiri. Roti yang dimaksud bukan roti yang sekali makan lalu habis, atau pun seperti yang dinikmati orang Israel di padang gurun, tetapi roti yang memuaskan kebutuhan rohani/spiritual manusia. Roti yang dimaksud adalah roti yang memberi kehidupan, yakni Yesus yang memberi diri-Nya kepada dunia. Oleh karena itu, kita juga mendengar Yesus mengatakan, “Akulah terang dunia”, “Akulah pokok anggur”, “Akulah gembala yang baik”, “Akulah kebangkitan dan hidup”. Semua penggambaran-penggambaran tersebut ingin menjelaskan bahwa Yesus memberi diri-Nya kepada dunia.
Yesus, telah menggambarkan diri-Nya sebagai roti hidup yang memberi kehidupan bagi manusia. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyambut roti itu. Menyambut roti hidup yang diperumpamakan dalam diri Yesus, adalah bentuk penyerahan diri seperti Yesus yang telah menyerahkan hidupnya untuk dunia. Karena itu, marilah kita memberi kehidupan kita untuk sebuah kebenaran yang mengenyangkan kehidupan spiritual orang lain.
Diposting tanggal 09 Aug 2018
