Mengosongkan Diri

Siapa kau.... siapa saya!!! Pada tauki’la!!! inilah kata-kata yang sering kali terbersit dalam pikiran atau hati bahkan tidak jarang terlontar dari bibir seseorang yang merasa diri hebat. Apalagi kalau orang tersebut dikuasai oleh roh materialisme bahwa ia kaya, punya jabatan, punya status sosial tinggi (merasa duka ya to diangga’), dll sehingga tidak ada dalam kamus hidupnya untuk tidak mau kalah. Inilah godaan yang dahsyat dalam diri manusia yang gampang menjerumuskan manusia menjadi sosok yang lupa diri. Dan percaya atau tidak, sifat sombong, tinggi hati dan lupa diri, adalah virus-virus yang banyak kali merusak manusia dalam relasi dengan dirinya sendiri dan sesamanya. Pemahaman yang umum bahwa membiarkan diri direndahkan, difitnah, diremehkan atau dilecehkan adalah sungguh suatu tindakan kebodohan dan sangat menyakitkan.Tetapi anehnya justru pola hidup yang demikianlah yang diproklamirkan, dilakukan dan ditanamkan Yesus. Dia Raja diatas segala raja, yang kekuasaan dan kepemimpinan-Nya agung, mulia dan kekal. Manusia yang sempurna tetapi ironisnya, Ia rela mengosongkan diri, menjadikan diri-Nya sebagai hamba. Tidak cukup itu!!! Ia bahkan rela difitnah, dicercah, dan rela menderita mengorbankan diri dan hidup-Nya. Untuk apa semuanya ini Ia lakukan? Bukan karena Ia bersalah. Bukan pula untuk kepentingan diri-Nya tetapi untuk kepentingan manusia. Manusia yang hidupnya hanya menuju kepada kebinasaan.
Pola hidup pelayanan Yesus itulah Rela merendahkan bahkan mengorbankan diri-Nya demi keselamatan manusia itulah pola pelayanan hidup Yesus. Ia berkata “Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani bahkan untuk memberikan nyawa-Ku bagi semua orang”.
Rela mengorbankan kepentingan pribadi demi kesejahteraan orang banyak. Itulah pola hidup yang Yesus tuntut dari kita. Orang hanya akan dapat mencapai kemanusiaannya yang benar kalau ia selalu sadar bahwa ia adalah mahluk dan Allah adalah Sang Pencipta, dan bahwa tanpa Allah ia tidak mampu berbuat sesuatu.
Diposting tanggal 08 Apr 2016
