KAMI PERLU PENDAMPINGAN MENYAMBUT MASA DEPAN
Soal dampak bencana yang terjadi tahun lalu, maka kami yang ada di kawasan Lindu ini dimana warga jemaat berjarak hanya sekitar 5 km dari pinggir Danau Lindu, bahkan air tempat kami tinggal mengalir ke Danau Lindu, maka kami sangat membutuhkan pendampingan, secara khusus karena kami hidup di kawasan hutan lindung Lindu. Dalam konteks demikian, maka kami sangat berharap hal ini tentu Sinode Gereja Prostestan Indonesia Donggala (GPID) dapat bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk antar Sinode Gereja, seperti yang kami alami pada kesempatan ini dimana kami mendapatkan pengetahuan, inspirasi, motivasi untuk melihat potensi yang ada disekitar kami, melihat masa depan secara khusus dalam konteks lokasi hutan lindung. Tentu ini amat penting sebagai bagian dari peran Gereja terhadap kehidupan warga jemaat dan juga peran serta dalam menjaga lingkungan, khususnya hutan lindung Lindu sebagai hutan Konservasi Nasional.
Hal tersebut diatas merupakan rangkuman dari percakapan dalam pembinaan yang dilakukan pada hari Minggu (15/9/2019) di Jemaat Puroo dalam rangka ketahanan pangan dengan kehadirian fasilitator Pnt. Aleksander Mangoting dari Pengurus Pusat Persekutuan Kaum Bapak Gereja Toraja. Untuk kita ketahui, lokasi Jemaat ini ada dalam kawasan hutan lindung Lindu, Sulawesi Tengah.
Perlu tindaklanjut
Dalam pembinaan kali ini, maka sejumlah peserta pembinaan meminta agar ke depan, perlu ada tindak lanjut guna lebih meningkatkan peran warga gereja dalam rangka memelihara hutan lindung tetapi sekaligus dapat hidup selaras dengan alam dimana mereka hidup. Jadi banyak potensi yang ada namun memerlukan pendampingan. Jadi kami sangat memerlukan tindak lanjut.
Catatan perjalan
Untuk mencapai lokasi ini memerlukan kendaraan ojek karena tidak ada mobil umum yang menuju ke lokasi ini. Setelah kita belok dari jalan poros Palu Kulawi, kita masih perlu menempuh perjalanan lebih sepuluh kilometer diawali dengan menanjak kemudian turun sedikit.
Sebelah kanan dan kiri sepanjang jalan, terlihat longsoran dengan batu yang cukup besar. Bahkan kalau hujan untuk motor belum tentu bisa lewat walaupun sebagian jalanan sudah dirabat. Jadi untuk ke sana memerlukan perjuangan yang cukup berat. Belum lagi banyak kayu gelondongan yang terbawah air. Jadi kawasan hutan lindung ini sudah memprihatinkan karena sudah rusak.
Diposting tanggal 24 Sep 2019
