KAMI BUTUH AIR UNTUK KEHIDUPAN
Sidondo merupakan salah satu jemaat Gereja Toraja di Sulwesi Tengah yang merasakan dan mengalami dampak dari gempa yang terjadi tahun 2018. Kalau kita menilik, maka kerusakan rumah warga jemaat tidak terlalu merisaukan. Namun yang merisaukan sekarang ini adalah ketidakadaan air untuk kebutuhan minum, mandi, dan mencuci sebagai kebutuhan dasar. Sedangkan untuk pertanian khususnya sawah dan kebun sangat sulit karena air irigasi yang mengairi sawah dan juga sumber air bagi kebun masyarakat rusak total. Dalam pantauan penulis, sumber air di sungai Gumbasa sekitar 20 km dari Sidondo baru sementara dibenahi. Hal ini terungkap dalam pembinaan PKBGT se-Jemaat Sidondo yang dihadiri 40 orang, termasuk ibu-ibu dan pemuda di gedung Gereja Toraja Jemaat Sidondo pada tanggal 13 September 2019.
Lebih jauh terungkap bahwa kalau kemarau masih berlangsung dalam hitungan bulan, maka sebagian besar warga jemaat akan menjerit karena kesulitan air. Sekarang ini, pompa air yang digunakan untuk menyedot air dari dalam sumur tidak mampu lagi karena air sudah semakin dalam. Kalau melihat kondisi khususnya bagi masyarakat, maka ada beberapa rumah yang nanti mereka mendapatkan air ketika kedalaman sumur bor 20 meter.
Butuh perhatian
Dalam kondisi di Sidondo khususnya Pastori, maka sangat dibutuhkan sumur bor dengan kedalaman sekitar 20 meter supaya bisa mendapatkan air. Kalau hal ini dapat dilakukan maka selain kebutuhan air di Pastori dan gedung gereja juga kebutuhan air bagi sebagian warga jemaat sekitar pastori dapat terpenuhi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua PKBGT Jemaat Sidondo dan sejumlah anggota Jemaat dalam sesi diskusi dalam pembinaan.
Dalam bagian sambutan Ketua PKBGT Klasis Sulawesi Tengah, Pnt. Elisa Bunga Allo, yang merupakan anggota terpilih DPRD Sulawesi Tengah mengharapkan kerjasama dan kesabaran kita semua dalam menghadapi persoalan ini sambil berusaha, siapa tahu ada alternatif dalam kerangka keluar dari persoalan ekonomi jemaat. Dan itu pulalah yang mendasari kegiatan pembinaan kali ini dimana Pnt. Aleksander Mangoting sebagai fasilitator untuk menggali potensi dan persoalan untuk diarahkan keluar dari pergumulan itu.
Diposting tanggal 14 Sep 2019
