Jangan Salah Memilih Sandaran Hidup

Orang banyak yang mengagumi dan merindukan Yesus sungguh sudah tak tahan menunggu waktunya Yesus bertakhta di Yerusalem. Sambutan mereka semakin meriah oleh karena Yesus menuju Yerusalem menunggangi keledai, sebagaimana layaknya raja. Keledai adalah hewan yang memang biasa menjadi tunggangan raja (Zak. 9:9, Mat. 21:5), walaupun secara umum keledai adalah alat transportasi umum untuk pengembara miskin.
Iring-iringan dan puji-pujian yang dilantunkan menggambarkan suasana penyambutan raja yang dinanti-natikan. Namun mereka semua, termasuk murid-murid-Nya sendiri belum mengerti siapa dan bagaimana Yesus akan menjadi raja. Baik Yesus maupun murid-murid-Nya beserta orang banyak sama-sama berpikir tentang raja dan kerajaan beserta kemuliaannya. Lagi pula Yesus sendiri sudah bertindak sebagai raja yang telah ditunggu, Ia pun menerima baik sambutan orang banyak.
Mereka memikirkan hal yang sama tetapi dengan cara dan isi pemikiran yang sangat berbeda. Maka dari itu murid-murid-Nya sendiri belum mengerti apa yang sedang terjadi dan apa maksud nas dari Perjanjian Lama: "Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.” (Zak. 9:9). Mereka baru mengerti setelah Yesus dimuliakan, dan yang dimaksudkan adalah setelah Yesus mengalami kematian dan menang atasnya.
Puji-pujian kepada Yesus harus berpangkal pada kematian dan kebangkitan-Nya. Maka, makna kemenangan-Nya sesungguhnya lebih kuat terasa dalam duka dan derita; bukan dalam kejayaan duniawi. Sesulit dan seburuk apapun keadaan yang dialami, tak ada lagi yang perlu ditakuti, sebab Dia adalah Raja kehidupan, yang menaklukkan segala kuasa mematikan. Bangkitlah hai perempuan! Bersandarlah pada Raja kehidupan, dan jangan sandarkan hidupmu pada para penguasa politik, yang sama rapuhnya dengan mahluk lain.
Diposting tanggal 09 Apr 2016
