Bahan Khotbah Minggu ke-28 Tanggal 12 Juli 2020 MENJADI PESEMAIAN FIRMAN Mendadi Panta’nakan Kadan-Na Puang
Bahan Khotbah Minggu ke-28 Tanggal 12 Juli 2020
MENJADI PESEMAIAN FIRMAN
Mendadi Panta’nakan Kadan-Na Puang
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 119:105-112 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 55:10-13 |
| Bacaan 2 | : Roma 8:1-11 |
| Bacaan 3 | : Matius 13:1-9, 18-23 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 119:108 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Mazmur 119:17 |
Tujuan:
- Jemaat memahami bagaimana hidup dalam tuntunan Firman Allah
- Jemaat hidup dan melakukan Firman Allah dalam kehidupannya sehari-hari
Pemahaman Teks
Yesaya pasal 55:10-13 adalah bagian dari pasal 49-55 yang fokus pada masa depan yang baru bagi umat Israel. Yerusalem yang tinggal puing-puing akan dibangun kembali. Umat Tuhan akan kembali dengan sukacita dan dihantar dengan damai. Pembebasan yang menggembirakan itu digambarkan dengan gunung-gunung dan bukit-bukit yang bergembira, serta pohon-pohonan di padang yang akan bertepuk tangan (ay.12). Orang Israel tidak perlu meragukan janji ini, karena Tuhan sendiri yang menjanjikannya. Firman-Nya tidak akan sia-sia (ay.11), ibarat hujan dan salju yang turun dari langit dan tidak akan kembali ke situ, tetapi untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yakni mengairi bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberi benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan (ay.10). Nubuat pembebasan itu terwujud pada tahun 538 SM, saat Raja Koresy membebaskan orang Israel kembali ke tanah airnya.
Roma 8:1-8 adalah jawaban Paulus terhadap “jeritan hatinya (pergumulannya)” yang diungkapkan pada pasal sebelumnya (Rm. 7:13-26), yaitu hidup oleh Roh. Roh yang memberi hidup telah memerdekakan (membebaskan) manusia dari dosa dan hukuman maut melalui Yesus (ay.2), yang adalah Anak yang diutus sendiri oleh Allah untuk menanggung semua hukuman dosa, sehingga tuntutan Hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging tetapi menurut Roh (ay.3-4). Dengan hidup menurut Roh, maka pikiran kita diarahkan untuk memikirkan hal-hal yang menurut Roh. Keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera dan sebaliknya keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah (ay.5-6).
Matius 13:1-9, 18-23 berisi pengajaran tentang Kerajaan Allah yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan dengan maksud agar pendengar-Nya dapat memahami, mengerti dan menghayati esensi dari isi pengajaran-Nya. Perumpamaan dengan penjelasannya haruslah diperhatikan bersama-sama, karena penjelasan menerangkan perumpamaan, dan perumpaan menggambarkan penjelasan. Dalam ayat 3-9 Yesus mengangkat satu perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih tetapi jatuh di tempat yang berbeda. Ada 4 kategori tempat benih itu jatuh: di pinggir jalan, di tanah berbatu-batu, di semak duri dan di tanah yang baik. Yesus langsung mengartikan makna dan dampak dari masing-masing tempat benih tersebut jatuh. Setelah itu, dalam ayat 18 -23 Ia menjelaskan tujuan utama dari pengajaran yang disampaikanNya. Firman Allah adalah benih yang ditaburkan, sedangkan 4 kategori tempat benih itu jatuh menunjuk kepada 4 sikap dari orang-orang yang mendengar dan menerima Firman yang disampaikan.
Korelasi Bacaan: Allah tetap setia mengasihi umat-Nya dalam kondisi bagaimanapun, serta terus menerus menciptakan dan menyediakan tatanan baru bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Puncak kasih Allah itu mewujud dalam kedatangan Yesus sebagai yang diutus Allah dalam menanggung beban dan dosa manusia. Orang yang mengikuti-Nya tidak lagi mengikuti cara hidup dan pola pikir kedagingan, tetapi menurut tuntunan Roh menuju hidup damai sejahtera. Hidup orang percaya akan selalu dituntun oleh Roh, karena itu hidupnya menjadi tempat pesemaian bagi Firman Tuhan, sehingga Firman itu tumbuh subur dan berbuah lebat.
Pokok-Pokok yang dapat dikembangkan dalam khotbah.
1. Ada ungkapan yang cukup terkenal dalam manajemen perencanaan, yaitu Failing to plan means planning to fail (gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan). Ungkapan ini bukan hanya sekadar menekankan bahwa perencanaan itu penting, tetapi juga memberi peringatan yang tidak kalah pentingnya bahwa dalam merencanakan sesuatu perlu pertimbangan yang sungguh-sungguh matang dengan memperhitungkan semua aspek terkait yang diperkirakan turut berpengaruh bagi terlaksananya rencana tersebut. Demikian juga dengan para petani. Petani adalah orang-orang yang memiliki perencanaan yang matang baik menyangkut penyediaan bibit yang baik, penyiapan lahan, pesemaian, waktu tanam dan lain-lain. Hal ini dilakukan agar usahanya tidak sia-sia, sebab kalau salah dalam perencanaan maka akibatnya fatal. Ia bisa mengalami gagal panen yang tentu akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidupnya dan keluarganya. Sekalipun telah direncanakan dengan matang, tetapi kadang yang terjadi di luar perkiraan karena faktor-faktor yang di luar kendali manusia.
2. Salah satu cara yang Yesus gunakan dalam pengajaran-Nya ialah menggunakan perumpamaan, dengan maksud agar pendengar-pendengar-Nya dapat lebih memahami makna/arti dari apa yang ingin Ia sampaikan. Yesus mengambil perumpamaan dari contoh-contoh riil kehidupan sehari hari. Kali ini perumpamaan yang digunakan Yesus adalah perumpamaan tentang penabur. Ketika penabur keluar menaburkan benih gandum di ladang (di Palestina hanya ada ladang dengan gandum sebagai komoditas utama untuk kebutuhan hidup sehari-hari), ada yang jatuh di jalan kemudian dimakan oleh burung-burung (ay.4). Sebagian jatuh di tanah yang berbatu (ay. 5-6). Di Galilea kadang-kadang ada batu besar di bawah ladang yang ditutupi oleh lapisan tanah yang tipis. Karena lapisan tanahnya cukup tipis, maka benih itu cepat berkembang karena lebih banyak mendapatkan sinar matahari dibandingkan jika benih itu ditutupi tanah dengan yang dalam. Namun ketika terkena terik matahari yang cukup menyegat, benih itupun layu dan menjadi kering karena tidak dapat membentuk akar yang dalam. Selain itu, ada juga yang jatuh di semak duri (di ladang juga sering terdapat semak-semak duri oleh karena proses pembajakan ladang seringkali tidak sampai mencabut akar-akar semak dan duri yang masih tersembunyi di bawah lading). Itu sebabnya, ketika akar semak/duri itu tumbuh maka dapat menghalangi dan menghimpit pertumbuhan gandum (ayat 7). Selain jatuh di tiga tempat tersebut di atas, ada pula sebagian benih yang jatuh di tempat yang baik kemudian berbuah. Dalam kenyataan di Palestina saat itu, ada satu butir gandum dapat menghasilkan tiga puluh, enam puluh atau seratus butir (ay.8). Dalam ayat 18-23 Yesus mengartikan empat kategori tempat jatuhnya benih tersebut sebagai hal yang menunjuk pada empat kategori sikap dari orang yang mendengar firman.
3. Matius 28:19–20 berisi amanat Yesus bagi para murid-Nya untuk memberitakan Injil ke segala bangsa. Amanat ini telah diwujudkan murid-murid Yesus secara terus menerus di semua tempat dan di sepanjang zaman. Pada setiap tempat dan situasi di mana firman (Injil) diberitakan, orang-orang yang menerima dan mendengarnya juga selalu terbagi dalam 4 (empat) kategori yang diumpamakan dengan tempat benih (Injil) itu jatuh. Satu hal yang pasti bahwa mungkin hanya sedikit benih yang jatuh di tanah yang baik tetapi hasilnya (dampaknya) luar biasa, karena ada yang berbuah tiga puluh, enam puluh atau seratus butir. Jadi persoalannya bukan terutama terletak pada kuantitas (jumlah/banyaknya) orang yang menerima pemberitaan firman itu, tetapi terletak pada kualitas (mutu) dari orang yang menerimanya sebagai pesemaian yang baik bagi tumbuhnya benih-benih Injil untuk menghasilkan buah yang baik dan berkualitas.
4. Dalam sejarah Gereja Toraja juga nampak dengan jelas, bahwa oleh pimpinan Roh Kudus, Injil datang di Toraja melalui penginjil yang diawali oleh datangnya Zendeling A.A.van de Loosdrecht sebagai utusan dari Gereformeerde Zendingsbond (GZB) tahun 1913. Injil diberitakan dan disampaikan kepada banyak orang di berbagai tempat dan situasi di Toraja, tetapi tidak semua orang yang mendengar dan menerima firman yang dberitakan itu dapat menerimanya dengan sungguh-sungguh. Pada mulanya hanya sedikit orang yang menerima pemberitaan Injil itu benar-benar menerima dan mengamininya sehingga mampu menghasilkan buah-buah yang lebat untuk kemudian menjadi awal terbantuknya persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus di Toraja. Mereka telah menjadi pesemaian Injil yang merambat dan merambah berbagai tempat dan golongan masyarakat, sehingga dari waktu ke waktu jumlah orang yang menerima dan meyakini Injil itu semakin bertambah. Mereka seperti halnya kita, juga memiliki banyak kelemahan, keterbatasan dan kekurangan, tetapi hati dan hidup mereka menjadi tempat pesemaian Injil untuk bertumbuh, berakar dan berbuah lebat. Kita juga adalah orang-orang yang telah menerima dan meyakini Injil yang diberitakan oleh orang-orang sebelum kita. Pertanyaannya adalah apakah kita juga menjadi tempat pesemaian yang baik, sehingga Injil Kerajaan Allah itu dapat berbuah di dalam dan melalui kehidupan kita? Kata-kata, sifat dan sikap kita sehari-hari menjadi penanda langsung, bahwa kita benar-benar telah menjadi pesemaian Injil, yang dengannya generasi setelah kita juga dapat menerima, menjalani dan mengalami dengan keyakinan penuh, bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan semua orang yang percaya (Rm. 1:16).
Diposting tanggal 08 Jul 2020
