Bahan Khotbah Minggu Tanggal 29 Desember 2019 MENDENGAR SUARA TUHAN Umperangi Gamaranna Puang
Bahan Khotbah Minggu Tanggal 29 Desember 2019
MENDENGAR SUARA TUHAN
Umperangi Gamaranna Puang
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 148:1-14 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 63:7-10 |
| Bacaan 2 | : Ibrani 2:10-18 |
| Bacaan 3 | : Matius 2:13-23 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : 2 Korintus 9:7 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Keluaran 15:26 |
Tujuan:
- Jemaat memahami bahwa Allah berkarya dalam sejarah manusia dan Ia dapat menggunakan berbagai sarana dalam menyampaikan kehendakNya
- Jemaat melatih diri dan berusaha melihat pekerjaan Allah dalam setiap peristiwa hidupnya
Pemahaman Teks
Mazmur 148 menguraikan bahwa semua ciptaan layak dan patut memuji-muji Tuhan, sebab Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Pemazmur tidak membiarkan satu orang atau satu ciptaan pun melewatkan memuji Tuhan. Ayat 1-6; segala yang di langit: awan-awan (air yang di atas langit), termasuk malaikat dan bala tentara sorga. Tuhanlah yang menciptakan, menetapkan dan mengendalikannya; semua harus memujiNya. Ayat 7-10; segala yang dibumi, baik yang di dalam laut, di gunung-gunung, embusan angin, kabut, pohon-pohon, semua harus memuji dan memuliakan Tuhan penciptanya. Ayat 11-14, umat manusia dari raja, penguasa, pemerintah dan orang banyak yang dicipta dalam gambar Tuhan, mempunyai lebih banyak alasan untuk memuji Tuhan dibandingkan dengan ciptaan lainnya.
Yesaya 63:7-9 merupakan pujian nabi Yesaya atas belas kasihan dan kasih setia Tuhan bagi umat Israel. Perikop ini menekankan tentang kemurahan, kebaikan, rahmat dan kasih Tuhan yang terus memelihara dan menjanjikan kemuliaan kepada umatNya. Sebagaimana yang telah dilakukan sejak zaman dahulu kala, Tuhan pun terus melakukan sampai pada akhir zaman.
Ibrani 2:10-18 menguraikan tentang peran Kristus Sang penyelamat yang telah mengalahkan iblis dan maut. Ia menguduskan orang-orang yang telah diselamatkan dari kesalahan dan kuasa dosa, serta memisahkannya sebagai umat Allah (ay. 11). Oleh karena yang diselamatkan oleh Kristus adalah darah dan daging (manusia), maka Yesus harus menjadi darah dan daging. Sebab dengan menjadi manusia sejati, Ia dapat memenuhi syarat untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa (ay. 14). Kristus manunggal dengan manusia agar dapat menjadi Imam Besar yang mewakili orang percaya di hadapan Allah (ay. 17). Selaku Imam besar, Kristus memberikan kekuatan dan kasih karunia untuk mengalahkan dosa serta memberikan pertolongan manakala diperlukan orang percaya (ayat 18). Tanggungjawab orang percaya adalah mendekat kepadaNya dan mempercayakan hidupnya hanya kepadaNya.
Matius 2:13-23 menguraikan tentang usaha Herodes untuk membunuh bayi Yesus dan cara Allah menyelamatkan bayi Yesus. Ketulusan dan keterbukaan hati Yusuf kembali menjadi “lahan yang subur” bagi terlaksananya rencana penyelamatan Allah melalui bayi Yesus dan sekaligus menggagalkan kuasa dunia melalui raja Herodes. Herodes berupaya untuk melawan kasih Allah dengan membunuh semua anak laki-laki di Betlehem. Tapi rencana Allah tidak dapat dibatalkan/digagalkan oleh kuasa apa pun di dunia. Yusuf yang mendengarkan dan taat kepada peringatan Tuhan menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk membawa bayi Yesus ke Mesir. Dengan demikian, maka genaplah rencana Allah yang sebelumnya diberitakan oleh nabi, “Dari Mesir Kupanggil AnakKu” (ay. 15, bdk. Hosea 11:1b).
Korelasi
Kemurahan, kebaikan, rahmat dan kasih Allah dalam perjanjian dan penyelamatan-Nya telah dinikmati oleh umat sejak turun-temurun (Yesya 63:7-9) dan seluruh ciptaan. Sebab itu, seluruh ciptaan harus memuji dan memuliakan Tuhan (Mazmur 148). Keterbukaan, ketulusan dan ketaatan hati seperti Yusuf yang dapat memampukan menangkap dan memahami pesan, perintah, dan kehendak Allah dalam rencana penyelamatanNya (Mat. 2:14,21). Kehidupan beriman seperti itulah yang dikehendaki oleh Tuhan, sehingga semua rintangan, tantangan, dan godaan dapat dihadapi dan dijalani bersama dengan Sang Juruselamat yang menjadi Imam Besar kita di hadapan Allah (Ibrani 2:10-18).
Garis Besar Khotbah
- Kelahiran Yesus adalah anugerah terbesar Allah bagi dunia. Kelahiran Yesus Kristus merupakan peristiwa terbesar dalam sejarah dunia, sesuatu yang historis dan monumental, yang luar biasa dan agung. Dia adalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia. Setiap umat yang telah menerima kasih karunia itu, seharusnya menjalani hidup anugerah Tuhan dengan mendengarkan, menaati, dan setia melakukan Firman Tuhan setiap hari, memuji dan memuliakan Tuhan (Maz.148:11-14).
- Cara Tuhan untuk menuntun dan melindungi umatNya. Usaha Herodes untuk melenyapkan bayi Yesus dan cara Tuhan melindungiNya mengungkapkan beberapa kebenaran tentang cara Tuhan memeliharakan umatNya, yaitu:
- Allah tidak melindungi Yusuf, Maria dan bayinya tanpa kesiapan dari mereka, yaitu mendengar suara Tuhan dan taat kepada kehendak-Nya (Mat.2:13,19-20,22). Perlindungan dan pemeliharaan Tuhan mensyaratkan ketaatan pada bimbingan Allah.
- Allah mengizinkan hal-hal yang sulit dipahami menimpa kehidupan umat agar kehendakNya dilaksanakan;
- Perlindungan dan pemeliharaan Allah senantiasa diperluhkan karena musuh tidak akan pernah berhenti menyarang orang percaya yang setia.
- Berserah diri pada Sang Imam Besar. Ada banyak keadaan yang menempatkan orang Kristen digembleng dan tempa untuk menjadi alat kesaksian Tuhan. Tanggung jawab setiap orang Kristen adalah mendekatkan diri pada Sang Imam Besar, yaitu Kristus Yesus, sebab Dia akan memberikan pertolongan saat diperlukan (Ibr. 2:17-18). Pada saat tergoda untuk tidak setia kepada Allah dan menyerah kepada dosa, maka harus berdoa kepada Kristus sebagai Imam Besar kita di hadapan Allah. Tekanan dan ancaman hidup memang tidak diinginkan, tetapi jika Tuhan memakainya sebagai sarana untuk menyatakan kehendakNya maka harus diterima secara positif sebagai bagian dari proses dari Tuhan dalam mendatangkan/menghadirkan damai sejahteraNya.
- Mendengar suara Tuhan. Yusuf mendengar dan bertindak menerima Maria. Hal ini hendak menegaskan bahwa banyak orang yang tekun mendengar tapi tidak mau bertindak. Dalam hal ini Yusuf dapat dibandingkan dengan Herodes yang tidak mau mendengar. Jika Yusuf mau mendengar suara Tuhan lalu menyelamatkan bayi Yesus, maka Herodes justru menolak untuk mendengarkan perkataan Tuhan yang adalah Pencipta.
Diposting tanggal 29 Dec 2019
