Bahan Khotbah Sabtu Sunyi Tanggal 31 Maret 2018 KEMATIAN BUKTI KETIDAKBERDAYAAN MANUSIA (Kamatean Tandamanassana Katangpakulleanna Torro Tolino)

Bahan Khotbah Sabtu Sunyi, Tanggal 31 Maret 2018
KEMATIAN BUKTI KETIDAKBERDAYAAN MANUSIA
(Kamatean Tandamanassana Katangpakulleanna Torro Tolino)

Bacaan Mazmur : Mazmur 31:1-6
Bacaan 1   : Ayub 14:1-14 (Bahan Utama)
Bacaan 2   : 1 Petrus 4:1-6
Bacaan 3 : Matius 27:57-66
Nas Persembahan   : Mazmur 31:20
Petunjuk Hidup Baru : 1 Petrus 4:8

Tujuan:

  1. Jemaat memahami ketidakberdayaannya menghadapi kematian

  2. Jemaat semakin berserah diri kepada Tuhan

Pengantar
Kisah Ayub adalah peristiwa yang terjadi sebelum bangsa Israel ada. Yeheskiel 14:14,20 menceriterakan Ayub sebagai orang yang setia di zaman purba. Kitab Ayub mengisahkan tentang penderitaan yang dialami manusia. Ayub bicara tentang penyebab penderitaan manusia dan peran Tuhan dalam penderitaan tersebut. Ayub sendiri menjadi pemeran utama cerita yang disebut oleh Tuhan sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:8). Rangkaian kisah ini ditulis dalam bentuk puisi yang sarat dengan makna. Kitab ini bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan penting yang dihadapi manusia dalam kesehariannya seperti: Dari mana datangnya penderitaan? Mengapa orang baik/saleh menderita? Apakah penderitaan akibat dari dosa manusia?

Pemahaman Teks
“Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan” (Ayub 14:1). Kita pasti akan heran dengan ungkapan ini, karena sesungguhnya tidak ada manusia yang dilahirkan oleh laki-laki, melainkan semuanya lahir dari rahim perempuan. Jika Ayub menyebut manusia lahir dari rahim perempuan, ini bisa menunjuk pada kejatuhan dan keberdosaan manusia pertama, bahwa manusia yang dilahirkan, lahir bersama dengan keberdosaannya, karena lahir dari rahim yang juga penuh dosa, karena tidak mungkin “mendatangkan yang tahir dari yang najis, seorang pun tidak!” (ayat 4). Ayub menyebutnya bahwa setiap manusia yang lahir dari rahim perempuan, dilahirkan bersama dengan kegelisahan dan umur yang terbatas. Dalam bahasa Ayub, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Heideger menyebutnya, “ada menuju kematian”. Artinya setiap manusia adalah makhluk yang terbatas dan sedang menuju kematian. Manusia tidak hanya lahir bersama kegembiraan, tetapi juga dilahirkan bersama dengan kegelisahan dan ketakutan dari rahim perempuan.

Pada ayat 7, Kitab Ayub memberi sebuah analogi dengan sebatang pohon. “Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai” (ayat 7-9). Pohon yang ditebang akan bersemi setelah akarnya menemukan air, tetapi manusia tidak lagi mempunyai harapan untuk hidup ketika dia telah mati. Manusia yang terbatas ini berbaring dan tidak bangkit lagi. Ayub mengandaikan manusia yang mati seperti air menguap dari dalam tasik atau seperti sungai yang surut dan menjadi kering (ayat 11). Manusia seperti tasik dan sungai yang kehilangan air, sehingga tidak lagi bisa disebut tasik atau sungai ketika dia tidak dialiri oleh air. Orang Toraja menyebut, pissan tuo, pissan mate (Hidup hanya sekali dan kematian pun hanya satu kali).

Pada ayat  14 sebuah pertanyaan menarik dikemukakan oleh Ayub; “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi”? Ayub sesungguhnya telah menjawab pertanyaan ini dalam ayat sebelumnya, bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Tetapi sebagai orang yang masih hidup, Ayub mengatakan: “bahwa akan menaruh harap selama hari-hari pergumulannya, sampai tiba waktunya”. Kesadaran akan kematian membuat Ayub mempersiapkan dirinya. Dalam kesadaran akan kematian, Ayub justru menaruh harap pada Tuhan, sampai tiba waktunya.

Tidak banyak orang yang siap seperti Ayub. Siap dalam segala pergulatan hidup, bahkan siap menghadapi perkara yang lebih sulit yakni kematian. Ayub nampaknya sangat yakin bahwa penderitaan dapat dipakai oleh Tuhan untuk membawa manusia kepada sebuah cara pandang baru untuk memahami kedaulatan Tuhan. Tuhan bisa menguji setiap orang seperti yang dilakukan terhadap Ayub, tetapi sekaligus memurnikan iman manusia, untuk melihat mana emas murni dan mana yang bukan (1 Petrus 1:7). 

Dalam bacaan yang kedua Petrus hendak menyatakan bagaimana semestinya menggunakan waktu yang tersisa pemberian Tuhan. Jika kematian adalah puncak dari ketidakberdayaan kita sebagai makhluk yang berdosa, maka Petrus nampaknya ingin memberi peringatan bagaimana kita menggunakan waktu yang ada untuk kemuliaan Tuhan. “Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2).

Dalam kitab injil Matius, dikisahkan bagaimana Tuhan Yesus yang memateri dalam bentuk tubuh manusia, menjadi tidak berdaya. Yusuf seorang Arimatea menjadi saksi dari kekakuan tubuh Yesus. Dia memperlakukan mayat Yesus seperti halnya tradisi Yahudi dalam memakamkan seorang yang meninggal. Yesus dimakamkan ke dalam kubur batu sesuai tradisi yang biasa dilakukan pada zamannya bahwa Yesus dikafani dan kemudian dikuburkan dalam liang batu. Yang menjadi istimewa adalah makam Yesus dijaga ketat dan dimaterai oleh penguasa yang ada diwilayah tersebut. Itu pertanda bahwa manusia Yesus yang dikuburkan bukanlah manusia yang biasa-biasa saja, tetapi manusia yang luar biasa. Saat itu Yesus sudah mati, tetapi justru mereka yang tidak percaya Yesus itulah Tuhan, justru ketakutan dengan mematerai dan menjaga kubur Yesus. Jean Luc Marion menyebut, “Allah itu mahakuasa justru ketika Dia tidak ada, ketika Dia kalah, ketika Dia mati” Allah pernah tiada, Allah pernah tunduk pada cintanya sendiri dengan tidak tinggal dalam keabadian, tetapi masuk dalam dunia ketidakabadian. Masuk ke dalam dunia orang mati. Kemahakuasaan Allah justru terlihat ketika Dia bisa memperlihatkan bahwa Dia bisa masuk dalam dunia ketidakabadian. Manusia hanya bisa bicara tentang keabadian, tetapi dia akan bungkam dan berhenti bicara ketika ada digerbang ketidakabadian. Akal manusia berhenti pada gerbang ketidakabadian. Dante Aleghieri menyebut, “Pada momen itu bahasa manusia tidak bisa berkata apa-apa.” Yesus tidak hanya ada pada dunia keabadian, tetapi juga telah melangkah masuk pada gerbang ketidakabadian. Teolog besar seperti Karl Rahner menghayati bahwa kemenangan Kristus, berarti menghadirkan kisah pilu kesengsaraan serta kematian-Nya di Salib. Ke-Allah-an Kristus kita jumpai ketika dia dapat menyeberang melewati gerbang ketidakabadian (gerbang kematian).

Pokok pokok yang dapat dikembangkan
Ayub memperlihatkan kepada kita bahwa manusia dilahirkan bersama dengan kegelisahan dan umur yang terbatas. Kegelisahan dan keterbatasan itu telah tertanam dalam struktur filsafat manusia (dalam bahasa yang lebih sederhana, kegelisahan dan keterbatasan adalah hakikat manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dalam keberdosaan). Ayub memang sangat tidak berdaya dalam menghadapi berbagai pergulatan hidup, tetapi dalam kondisi seperti itu, Ayub masih mempunyai kesadaran bahwa hidup manusia memang akan berhadapan dengan maut. Kesadaran itu menyadarkan Ayub betapa manusia tidak mungkin menghindar dari segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dia lahir bersama dengan kegembiraan dan kegelisahan dan sedang menuju pada kematian, ini sebuah fakta yang tidak mungkin dihindari. Penerimaan akan keterbatasan (bahwa manusia sedang menuju kematian) justru akan membuat manusia menjadi otentik (menjadi dirinya sendiri), sebaliknya penolakan akan fakta keterbatasan membuat manusia semakin gelisah berhadapan dengan dirinya sendiri.    

Jika fakta keterbatasan tidak mungkin dihindari, maka kita tentu harus menggunakan waktu yang ada untuk hal-hal yang bermakna. Ayub pada ayat  14 secara jelas mengungkapkan penyerahan dirinya, “bahwa dia akan menaruh harap pada Tuhan, pada hari-hari di mana dia bergumul sampai tiba pada hari kematiannya. Ungkapan penyerahan total ini menunjukkan betapa Ayub menyadari semua keterbatasan yang dia punyai. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Ayub kecuali membawa semuanya dihadapan Tuhan. Kitab Petrus meminta kita untuk memakai waktu yang ada bukan untuk keinginan manusia, tetapi berdasarkan keinginan Allah. Ada begitu banyak keinginan kita, tetapi keinginan itu belum tentu adalah keinginan Allah. Kepada orang-orang pendatang yang tersebar di, Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, (1 Petrus 1:1) Petrus mengatakan kepada mereka bahwa,  “Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang.” Orang-orang ini adalah orang yang tidak pernah sadar akan hidupnya yang terbatas. Kebahagiaan hidup mereka diukur berdasarkan kenikmatan duniawi. Tetapi apa yang mereka lakukan itu pada akhirnya mereka harus siap mempertanggungjawabkan kehendak mereka. “Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” (1 Petrus 4:5).

Pada sisi yang lain dalam bacaan yang ketiga, Yesus dalam kondisi yang kaku. Yesus mengalami kematian sebagai seorang manusia. Ini bukti ketidakberdayaan sebagai seorang manusia, tetapi sekaligus menyatakan kekuasaan Allah. Artinya dalam kematian Yesus, sekaligus mau memperlihatkan dua hal dalam satu peristiwa. Kematian menyatakan ketidakberdayaan bagi seorang manusia, tetapi juga menyatakan bahwa di sana ada kemuliaan Allah mau dinyatakan. Sebagai manusia Dia tidak berdaya, tetapi sebagai Allah Dia telah menyeberang melewati gerbang keabadian. Yesus tidak tinggal dalam keabadian (sorga), tetapi Dia pun tidak tinggal dalam ketidakabadian (bumi) untuk menantikan kebangkitan seperti manusia yang lain. Yesus pada akhirnya melewati ketidakabadian menuju kepada kekekalannya sebagai Allah. Di sanalah ada peristiwa kebangkitan di mana kemuliaan Allah dinyatakan.          


Diposting tanggal 26 Mar 2018

Daftar Artikel

Matius 2:13-23 menguraikan tentang usaha Herodes untuk membunuh bayi Yesus dan cara Allah menyelamat.....

Selengkapnya ..

Matius 1:18-25 menuturkan riwayat kelahiran Yesus yang menegaskan bahwa kelahiran Yesus bukanlah has.....

Selengkapnya ..

Kalau kita menelusuri lebih jauh dan menyeluruh tentang wilayah Sulawesi Barat dimana pelayanan Gere.....

Selengkapnya ..

Mazmur yang kita baca pada saat ini mengajak semua makhluk dan ciptaan di bumi memuji nama TUHAN, ba.....

Selengkapnya ..

Mazmur 148:1-6, mengungkapkan mengenai penciptaan alam semesta dan segala isinya hanya oleh Tuhan. A.....

Selengkapnya ..

Maria adalah pribadi yang sangat rendah hati di hadapan Tuhan baik ketika Elisabet memuji karena dia.....

Selengkapnya ..

Tuhan menyatakan murka-Nya kepada bangsa Israel karena pengkhianatan mereka. Beratnya penderitaan ya.....

Selengkapnya ..

Demikianlah yang terjadi pada diri murid-murid Yohanes setelah mengetahui bahwa pelayanan Yesus tela.....

Selengkapnya ..

Dalam suratnya, rasul Paulus telah menyebut jemaat Galatia telah berlaku bodoh (psl.3:1) mengapa dem.....

Selengkapnya ..

Hal “tidak enak hati” juga ternyata di alami oleh raja Daud ketika ia telah merasakan ke.....

Selengkapnya ..

Sejak pertama kali umat Tuhan kembali ke Yerusalem, Bait Allah sudah mulai dibangun namun sayang ter.....

Selengkapnya ..

Dalam suatu penglihatan, Yehezkiel melihat sebuah sungai pemberi hidup yang mengalir dari Bait Suci......

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...