Bahan khotbah Minggu ke-12 (Prapaskah VI - Ulang Tahun 71 Gereja Toraja) Tanggal 25 Maret 2018
Bahan khotbah Minggu ke-12 Tanggal 25 Maret 2018
(Prapaskah VI - Ulang Tahun 71 Gereja Toraja)
HIDUP DALAM KERENDAHAN HATI
(Tuo Umpamadiongan Penaa)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 45:11-18 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 50:4-9 |
| Bacaan 2 | : Filipi 2:1-11 |
| Bacaan 3 | : Markus 15:16-20a (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 45:18 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Filipi 2:4-5 |
Tujuan :
-
Jemaat memahami penderitaan Yesus
-
Jemaat meneladani kerendahan hati Yesus
Penjelasan Leksionari
Mazmur 45:11-18. Secara umum Mazmur 45 menjelaskan tentang pujian kepada raja dalam pesta pernikahannya. Khususnya bagian ini ayat 11-18, menceriterakan tentang calon permaisuri yang dipuji karena kecantikan parasnya dan pakaiannya yang sangat indah dan megah.
Yesaya 50:4-9, menjelaskan tentang seorang hamba yang diberi lidah yang dapat memberi semangat kepada umat dengan kata-katanya, namun juga sekaligus dia adalah seorang hamba yang taat pada segala hal yang tidak baik yang diperlakukan kepadanya. Ia adalah hamba yang taat. Ayat 5 menegaskan “aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi”. Namun di balik ketaatan sang hamba itu Tuhan akan menolong dia dan meneguhkan dia sebagai yang benar, seperti gunung batu yang kokoh.
Filipi 2:1-14. Menjelaskan tentang ajaran Paulus kepada umat Kristen yang ada di Filipi untuk hidup dalam persekutuan yang didasari kehidupan yang penuh kasih, sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Hal ini hanya bisa tercapai jika umat meneladani kehidupan Yesus Kristus. Yesus Kristus yang dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus di pertahankan. Ia merendahkan diri-Nya dan taat dalam penderitaan bahkan sampai mati di kayu salib. Dalam kerendahan dan ketaatan itulah Allah meninggikan Dia, sehingga dalam namanya semua akan berlutut dan menyembah Dia untuk kemulian-Nya.
Markus 15:16-20. Bagian ini menceriterakan tentang apa yang dialami Yesus setelah ia mendapat hukuman mati dari Pilatus. Penghinaan yang dilakukan para serdadu dengan menghina Yesus sebagi Raja, diberi jubah ungu, disematkan mahkota duri dan memberi penghormatan padanya sebagai Raja Orang Yahudi.
Pemahaman Teks
Injil Markus, adalah injil yang terpendek dari ke empat kitab Injil yang ada. Injil Markus hendak membuktikan tentang siapa Yesus dengan memproklamirkan bahwa “Inilah Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah”. Berbagai mujizat ditulis oleh penulis kitab Injil Markus dan mujizat yang terbesar adalah sengsara dan kematian-Nya. Karena dengan kematian-Nya itulah ada pengakuan dari kepala pasukan Roma tatkala ia berkata” sungguh orang ini adalah Anak Allah”(Markus 15:39)
Pengadilan Yesus. Dalam proses pengadilan Yesus menurut kitab Markus, Yesus diperhadapkan kepada dua pengadilan. Pertama adalah pengadilan agama dan juga pengadilan negara sebagai pengadilan politik. Di pengadilan agama Ia diperhadapkan kepada Kayafas seorang imam besar. Di hadapan Kayafas Yesus dituduh melakukan “penodaan agama”. Bagi orang Yahudi, Yesus telah menodai agama Yahudi dalam berbagai ajaran-Nya. Saat Ia di hadapan imam besar Kayafas orang Yahudi berkata “Kami sudah mendengarkan orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain yang bukan buatan manusia”. Sementara di hadapan Pilatus yang mewakili pengadilan politis, Yesus di tuduh sebagai orang yang akan memberontak kepada kerajaan Roma. Tuduhannya ialah Yesus mengganggap dan menyebut diri-Nya sebagai Raja. dalam pasal 15:2 saat Yesus ada di hadapan Pilatus, Pilatus bertanya kepada Yesus “ Engkaukah Raja Orang Yahudi?” persengkokolan jahat antara agama dan politik akan melahirkan hasil yang jahat pula dan disertai dengan tekanan massa akan melahirkan keputusan yang tak adil. Yesus akhirnya di jatuhi hukuman mati.
Penghinaan di balik penghormatan, Yesus adalah Raja dan Tuhan. Namun para serdadau menghina Yesus sabagi raja, dengan mengenakkan jubah ungu, menaruh mahkota duri dan menghina dengan perkataan “salam, hai Raja Orang Yahudi”. Sesudah itu, para serdadu memukul kepala-Nya dan meludahi. Inilah yang disampaikan nabi Yesaya pasal 50 dalam bacaan kedua bahwa sang hamba Tuhan itu akan taat saat ia mendapatkan perlakuan kekerasan. Yesaya menuliskan “aku akan memberi punggungku kepada orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku, aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku di nodai dan diludahi”(ayat 6). Dan dalam penghayatan Paulus akan penderitaan Yesus, ia menuliskan “yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa sebagai seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib(Filipi 2:6-7).
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
Pertama, hari ini kita memperingati ulang tahun Gereja Toraja yang ke 71 tahun. Tentu masih teringat dalam benak kita rangkaian perayaan ulang tahun yang ke-70, yang kita peringati pada tahun yang lalu. Pertanyaan yang selalu muncul adalah di manakah kekuatan Gereja Toraja sehingga ia dapat berdiri dan bertumbuh sampai hari ini? Jawaban kita bisa bermacam-macam tentang kekuatan Gereja Toraja. Tapi saat Gereja Toraja bersepakat untuk mengambil 1 Korintus 3:11 menjadi dasar Alkitabiah, maka ini adalah dasar yang kuat. Ayat ini berkata “Karena tidak seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus”. Sesungguhnya inilah kekuatan Gereja Toraja, kekuatan yang fundamental dan sangat mendasar, yakni tergantung pada Kristus sendiri.
Kedua, Yesus adalah teladan kerendahan hati. Rendah hati dalam kamus bahasa Indonesia artinya tidak sombong atau tidak angkuh. Kesombongan dan keangkuhan biasanya lahir karena orang mengandalkan sesuatu yang dimilikinya. Orang dapat sombong karena kekayaan, kepintaran, kekuatan dan sebagainya. Atau dengan kata lain kesombongan biasanya lahir saat manusia menganggap dirinya lebih dari orang lain. Mengapa Yesus kita sebut sebagai teladan dalam kerendahan hati? Pembacaan kita hari ini menyebutkan bahwa Yesus dalam kesetaraan dengan Allah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa sebagai manusia. Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Saat Ia ditangkap di taman Getsemani, murid-murid-Nya mengadakan perlawanan kepada para serdadu Romawi yang akan menangkap Yesus. Namun Yesus menengur murid-murid dan berkata “masukkan pedangmu ke dalam sarungnya sebab barang siapa yang menggunakan pedang akan binasa dengan pedang. Atau kau sangka bahwa aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat untuk membantu Aku?”. Yesus sebagai Anak Allah, tidak menggunakan kuasa yang ada pada-Nya agar terhindar dari penghinaan, penderitaan dan kematian. Sebaliknya, Ia menanggalkan semua yang seharusnya Ia pertahankan agar manusia dapat ditebus dan diselamatkan dalam diri-Nya. Tujuan semua yang dilakukan Yesus adalah “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada dilangit dan yang ada diatas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemulian Allah, Bapa!
Ketiga, dampak kerendahan hati. Sering kita melihat kerendahan hati sebagi sesuatu yang tidak punya arti. Orang mengatakan “rendah hati tidak jamannya hari ini” atau “Jika bisa sombong kenapa harus rendah hati”. Atau “biar miskin yang penting bisa sombong”, serta ungkapan-ungkapan lain yang ingin mengatakan kerendahan hati itu tidak lagi penting dalam zaman yang menjadikan kompetisi dan persaingan sebagai keharusan agar dapat bertahan. Yesus telah memberi teladan itu bagi kita, bahwa hidup dalam situasi apapun kerendahan hati harus menjadi patron hidup. Mengapa harus hidup dalam kerendahan hati? Dalam Amsal 22:4 dikatakan “ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan”. Luar biasa janji Tuhan kepada hidup orang yang rendah hati. Tapi Pengamsal juga menekankan kepada kita bahwa kerendahan hati itu harus dalam bingkai takut akan Tuhan. Kenapa? Bukankah dalam perjalanan manusia sering orang bisa berubah menjadi sombong dan angkuh saat mereka telah kaya, dihormati dan sebagainya. Orang yang rendah hati dan takut akan Tuhan tidak akan berubah karakter hidupnya dalam situasi apapun yang dialami dan dinikmati. Amin
Diposting tanggal 19 Mar 2018
