Bahan Khotbah Kamis Putih Tanggal 29 Maret 2018 PEMBEBASAN DARI PENDERITAAN (Katilendokan Diomai Kamaparrisan)
Bahan Khotbah Kamis Putih, Tanggal 29 Maret 2018
PEMBEBASAN DARI PENDERITAAN
(Katilendokan Diomai Kamaparrisan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 116:1-19 |
| Bacaan 1 | : Keluaran 12:1-14 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Korintus 11:23-34 |
| Bacaan 3 | : Yohanes 13:1-20 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 116:12-14 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yohanes 13:20 |
Tujuan:
-
Jemaat memahami paskah mula-mula
-
Jemaat dengan rendah hati meneruskan tradisi paskah turun temurun.
Pemahaman Teks
Kisah ini adalah akhir dari kisah hidup sebuah kaum yang diperbudak di tanah Mesir. Malam terakhir di Mesir dilalui dengan sejumlah ritual khusus atas perintah Tuhan:
Pertama, Sejarah perjalanan Israel yang selama ini hidup dalam perbudakan, hampir tidak menyadari akan peredaran waktu. Karena itu Tuhan memulai dengan ungkapan "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun” (ayat 2). Hal itu menjadi permulaan sejarah perjalanan bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir. Bahkan begitu lamanya penderitaan itu, sehingga sebagian dari mereka tidak lagi mau keluar dari tanah Mesir.
Kedua, untuk pertama kalinya dalam kitab Ibrani kita menemukan kata Jemaah dalam arti perkumpulan (ayat 3), (lih. H. Rosin-Tafsiran Kitab Keluaran). Tuhan sendiri yang menyebut mereka sebagai sebuah perkumpulan. Ini merupakan proses penyadaran dan pengenalan identitas bahwa mereka adalah satu suku bangsa yang mempunyai sejarahnya sendiri.
Ketiga, Tuhan meminta bangsa Israel untuk menyembelih domba atau kambing dalam melaksanakan perjamuan dalam setiap keluarga (ayat 5), yakni seekor domba untuk setiap rumah tangga. Tetapi jika keluarga itu terlalu kecil untuk memakan habis domba itu, maka ia harus bergabung dengan tetangganya. Perjamuan setiap keluarga atau gabungan beberapa keluarga yang kecil menjadi tanda bahwa mereka telah mengikatkan diri kembali kepada Tuhan. Komitmen ini merupakan tindakan agar mereka tidak lagi menginginkan kehidupan di Mesir yang penuh penderitaan, melainkan mereka harus menjadi bangsa yang besar dan yang mengikatkan diri dalam persekutuan dengan Tuhan.
Keempat, darah dari domba atau kambing yang disembelih dibubuhkan pada pintu bagian atas dan pada kedua tiang pintu (Kel. 12:22). Darah tersebut menjadi tanda bagi Tuhan untuk tidak mengijinkan pemusnah masuk dalam rumah orang Israel (Kel. 12:23). Ini kemudian disebut pesakh (paskah) yang bermakna “melewati”. Tuhan melewati rumah-rumah yang mempunyai tanda darah. Penyelamatan ini semata-mata hanyalah anugerah dari Tuhan. Tuhan melewati rumah yang terdapat tanda darah dan tidak membunuh anak sulung dalam rumah itu. Tuhan melepaskan setiap anak sulung yang berada dalam rumah yang diberi tanda darah. Peristiwa ini kemudian harus diperingati oleh bangsa Israel setiap tahunnya sebagai peristiwa paskah (Kej.12:25,27).
Kelima, daging domba tersebut dimakan dengan sayur pahit dan roti tidak beragi. “Dagingnya harus dimakan pada malam itu juga, dan yang dipanggang harus dimakan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit” (ayat 8). Sayur pahit menandakan segala kepahitan yang pernah dialami oleh bangsa Israel di Tanah Mesir, sehingga untuk mengakhiri kepahitan tersebut, maka pada malam itu mereka memakan sayur pahit (sayur pahit di sini mungkin menunjuk ke jenis sayur seperti selada, sejenis tanaman berbunga biru yang akarnya biasa dicampur dengan kopi, atau sayur lain yang tumbuh di Mesir. (lihat. Alkitab edisi studi). Sedangkan roti tidak beragi menandakan bahwa malam itu menjadi malam yang begitu sibuk dan terburu-buru untuk meninggalkan Mesir. Ragi juga sering dilihat sebagai gejala kebusukan, dan yang mempercepat terjadinya pembusukan. Karena itu, secara kiasan ragi dapat bermakna pengaruh buruk (bnd. Matius 16:6,12) atau pengaruh buruk dari kepercayaan kafir (1 Kor. 5:7-8).
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
Membebaskan diri dari penderitaan adalah hal yang sangat manusiawi, walaupun penderitaan juga sering membuat orang mempunyai pengharapan. “Filosof Ernst Bloch”[1] menyatakan bahwa, “Hanya apabila orang mengalami penderitaan secara radikal, orang memahami apa artinya sebuah harapan.” Pembebasan dari penderitaan dalam bacaan kita dimulai dari sebuah proses kesadaran. Pertama, kesadaran akan waktu. Kedua, kesadaran akan identitas sebagai suatu suku/bangsa. Ketiga, kesadaran akan pentingnya mengikatkan diri pada Tuhan dalam suatu persekutuan keluarga dalam perjamuan. Keempat, kesadaran akan penyertaan Tuhan yang melewati rumah mereka dari maut. Kelima, kesadaran akan segala kepahitan dan pengaruh buruk yang dialami selama di Mesir.
Kelima hal tersebut menjadi penting untuk direnungkan agar kita dapat membebaskan diri dari penderitaan:
Pertama, Manusia yang tidak pernah menyadari bahwa dirinya sedang berjalan dalam waktu, maka tidak akan pernah menggunakan hidupnya dengan baik, seperti bangsa Israel yang tidak lagi menyadari keberadaannya sebagai orang yang tertindas.
Kedua, Lahirnya kesadaran identitas, sebagai satu suku bangsa yang dipilih oleh Tuhan. Tuhan melekatkan identitas baru kepada bangsa Israel, untuk membedakan mereka dari bangsa lain. Identitas adalah sebuah fondasi yang diletakkan oleh Allah agar Isarel menjadi bangsa yang kokoh. Allah menetapkan bangsa Israel sebagai satu (suku) bangsa untuk memulai sejarah mereka. Jika sebelumnya Israel adalah segerombolan manusia yang datang ke Mesir untuk menghindari kelaparan di kampung yang mereka tempati, maka sesuai janji Allah kepada nenek moyang mereka, maka mereka pun akan dijadikan sebagai satu (suku) bangsa.
Ketiga, sebagai bangsa pilihan Allah, maka bangsa Israel harus mempunyai fondasi yang jelas dalam soal keyakinan. Perjamuan kudus yang dilakukan oleh orang Israel dalam keluarga atau kumpulan beberapa keluarga menandakan bahwa bangsa Israel sedang mengikatkan diri kembali dalam persekutuan dengan Allah. Ikatan ini disimbolkan dalam perjamuan bersama dalam keluarga atau beberapa keluarga kecil, yang sebelumnya tidak lagi dilakukan karena kesibukan sebagai pekerja dan karena ketidaktaatan mereka pada Allah. Perintah menyembelih domba jantan yang tidak bercela dalam setiap keluarga untuk perjamuan bersama adalah tanda persekutuan dengan Allah. Hal ini hendak menyadarkan bangsa Israel bahwa sebagai satu bangsa yang telah ditetapkan oleh Allah, maka mereka pun harus selalu mengingat tanda tersebut di malam terakhir mereka di Mesir. Perjamuan ini sekaligus menjadi tanda penyadaran kelepasan dari penderitaan yang selama ini dialami.
Keempat, malam itu semua anak sulung dari orang Israel selamat karena ketaatan mereka meletakkan tanda darah pada pintu bagian atas dan kedua tiang pintu. Allah melewati (pesakh) setiap rumah yang mempunyai tanda darah untuk menunjukkan kedaulatan-Nya kepada bangsa Israel tanpa ada yang bisa menghalangi.
Kelima, melepaskan diri dari penderitaan hanya mungkin terjadi jika manusia menyadari kepahitan yang sedang dialami. Kisah bangsa Israel yang mengkonsumsi sayur pahit dan roti tidak beragi, tidak hanya untuk mengingatkan kepahitan dan pengaruh buruk dari dunia sekitarnya, tetapi sekaligus mengingatkan mereka bahwa perjalanan mereka pun bukanlah hal yang mudah. Sayur pahit bisa menjadi simbol segala kepahitan yang pernah dialami dan yang akan terjadi dalam perjalanan mereka, sedangkan roti tidak beragi menjadi simbol bahwa mereka telah dilepaskan dari segala pengaruh buruk yang ada di sekitar mereka.
[1] Jurgent Moltmant menjadikan filsafat Ernst Bloch sebagai fondasi dalam teologi pengharapan (teology of hope).
Diposting tanggal 26 Mar 2018
