Bahan Khotbah Jumat Agung Tanggal 30 Maret 2018 KEMATIAN YANG MEMBEBASKAN (Kamatean Tu Melendokan)

Bahan Khotbah Jumat Agung, Tanggal 30 Maret 2018
KEMATIAN YANG MEMBEBASKAN
(Kamatean Tu Melendokan)

Bacaan Mazmur : Mazmur 22:1-12
Bacaan 1   : Yesaya 52:13-53:1-12
Bacaan 2   : Ibrani 10:19-25
Bacaan 3 : Yohanes 19: 16-30 (Bahan Utama)
Nas Persembahan   : Mazmur 22:26-27
Petunjuk Hidup Baru : 1 Petrus 4:8

Tujuan:

  1. Jemaat memahami dan meyakini makna kematian Yesus

  2. Jemaat menikmati pembebasan Kristus dan hidup dalam ketulusan,saling memperhatikan dan menolong dalam kasih.

Pemahaman Teks
  1. Keempat bacan alkitab  hari ini menjelaskan bagaimana penderitaan dan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib sebagai berita tindakan dan perbuatan Allah yang mengasihi dan menyelamatkan manusia dan dunia dari kebinasaannya. Perbuatan Allah itu telah “dinubuatkan” dalam Perjanjian Lama (contoh: Mazmur 22 dan Yesaya 52:13-53:1-12) yang digenapi dalam Perjanjian Baru (contoh  Yohanes 19 dan Ibrani 10:10:19-25). Pokok-pokok pikiran dalam tulisan ini diinspirasi beberapa penulis (W.Barclay;Bruce Milne, Yohanes B. Mulyono, Tafsiran Masa Kini).
  2. Hari ini alkitab berbicara tentang Penyaliban (Yoh.19:16b-27) dan Kematian Yesus Kristus (Yoh.19:30).

A. Yesus disalibkan dan mati.

Sejak ditangkap, Ia telah mengalami penderita mental dan fisik.Ia dikhianati murid-Nya sendiri, Ia diejek, difitnah, dan diperlakukan secara kasar. Kini, dengan tertatih-tatih dan dengan luka dan darah sekujur tubuh-Nya Ia berjalan memanggul salib menuju bukit Golguta. Ia disetarakan  penjahat ulung (Luk.23:39,41; Mat.27:44). Penyaliban merupakan cara menghukum dan membunuh  secara brutal, keji dan mengerikan. Yesus  berusaha menghindar: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” Namun, Ia menjalaninya karena itulah yang dikehendaki BapaNya: “…tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat.26:39,Mrk.14:36; Luk22:42).

Pada Salib-Nya tertulis “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” (pasal 19:19). Tulisan itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani. Terlepas dari ketidaktahuan dan atau kekerasan hati Pilatus, secara tidak sadar ia telah menyebarluaskan kebenaran bahwa Yesuslah Mesias yang dinantikan orang Yahudi. Melalui “kekerasan kepala Pilatus”  kebenaran tentang Yesus sebagai mesias  menjangkau  “semua pihak” sebab melalui bahasa Ibrani kalangan “agamawan terjangkau”; melalui bahasa Latin  kalangan “birokrasi-pemerintahan” mendengar dan memahami, dan melalui bahasa Yunani kalangan “intelektual-budayawan” mengerti-menyimak berita tentang Yesus. 

Di atas kayu Salib, Ia tetap memperjuangkan dan memberlakukan kasih melalui  “kesatuan dan keutuhan keluarga”. Ia menginginkan orang-orang yang dicintai dan dikasihi-Nya saling memperhatikan dan menopang agar tidak ada yang hidup terlunta-lunta. Yesus taat dan setia menjalani “jalan salib” sampai tuntas (...Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai  Yoh.19:28)…berkatalah Ia Sudah selesai --Yoh.19:30). Yesus tahu bahwa semua yang dijalani itu sesuai rencana dan kehendak Bapa-Nya. Karena  itu melalui kematian-Nya, Ia telah menyelesaikan dan mewujudkan  penebusan Bapa bagi dunia. Yesus menjadi Anak Domba kurban penghapus dosa, sehingga tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa (Ibr.10:18b).  Melalui diri Yesus Kristus yang tersalib, tabir penyekat Allah dengan manusia disingkapkan dan dikoyakkan sehingga hubungan  Allah  dengan manusia dan segala ciptaan menjadi baru. Allah menjangkau dan merangkul kembali manusia melalui  jalan salib, jalan hina dan keji karena Allah hendak menunjukkan betapa besar kasih-Nya kepada manusia yang hina dan keji karena dosa-dosanya. Kasih yang besar dari Allah mengharuskan Ia mengorbankan anak-Nya yang tunggal menjadi tebusan untuk manusia yang sesungguhnya tidak layak itu “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” 1 Kor. 6:20). Hanya di dalam darah Yesus yang tertumpah manusia menemukan kembali jati dirinya sebagai anak-anak Allah. Hanya melalui Imam Besar sejati, manusia berjumpa kembali dengan Allah Sang Pencipta.

B. Pilatus yang Keras Kepala
Dalam menghakimi Yesus, Pilatus mengkhianati hati nuraninya dengan mengorbankan kebenaran demi mempertahankan jabatan dan kekuasaan. Namun, ia berubah menjadi tegas ketika ia menyaksikan bagaimana Yesus konsisten dalam menanggung “kesalahan yang ditimpakan kepada-Nya”. Pilatus tegas menuliskan "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi". Apakah ia bermaksud menghina orang Yahudi?. Ataukah ia telah bertobat atas kesalahannya yakni yang sebelumnya tidak mampu membela kebenaran Yesus?.

Pilatus mewakili manusia pada umumnya yakni “tegas dan konsisiten dalam hal-hal teknis, namun tidak konsisten dalam hal “prinsip dan kebenaran”. Pilatus formalisme tetapi “plin-plan dalam hal prinsip”. Ataukah “keras kepala/tegar tengkuk (te’geran) merupakan cara untuk menyembunyikan kesalahan besar, lalu pura-pura tegas untuk hal yang teknis? Ataukah dapat dikatakan bahwa Allah tetap berkarya dalam kedegilan, kekerasan hati, kesalahan Pilatus?

C. Para Prajurit  Penjudi?
Mereka petugas yang setia melakukan fungsi masing-masing. Bagi mereka, terhukum yang disalibkan berarti penjahat kaliber. Membagi-bagi pakaian terhukum (biasanya orang Yahudi memakai 5 potong perlengkapan yakni sepatu, ikat kepala, ikat pinggang, baju, dan jubah luar) merupakan bonus (tambahan penghasilan) bagi mereka. Jubah Yesus diundi karena tidak ada gunanya kalau di bagi 4 orang. Mereka telah memperlakukan Yesus secara tidak wajar, dan kini, mereka dengan  gembira “berjudi=membuang undi” dan tidak peduli dengan “tawaran Allah” melalui penyaliban dan kematian Yesus Kristus. Sikap dan perilaku prajurit sudah dinubutkan sebelumnya dalam kitab Mazmur 22:19 (Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku). Ketika Yesus berteriak “Aku haus”, ada “belas kasihan” para prajurit, namun tujuannya buruk sebab hanya bermaksud memperpanjang “masa hidup Yesus”, siapa tahu ada perbuatan ajaib dari Yesus (melepaskan diri dari salib).

Apakah sikap dan perilaku sebagaian warga jemaat  yang suka berjudi, tidak peduli lagi dengan “teguran gerejawi”, bahkan melakukan perjudian dalam  ritus-ritus kekristenan, merupakan juga penggenapan perilaku para prajurit yang berjudi di bawah kaki  salib Yesus?

D. Perempuan-Perempuan dan Para Murid.
Yudas telah berkhianat dan Petrus telah menyangkali-Nya mengkhianat dan 9 orang lainnya entah kemana. Namun perempuan dan murid yang dikasihi tetap setia mendampingi Yesus menuju salib. Sesungguhnya “mereka mempertaruhkan hidup mereka” ketika murid lain diam menyembunyikan diri.  Berita terpenting adalah kasih dan kepedulian Yesus tidak pernah pudar sekalipun sesungguhnya Dialah yang membutuhkan topangan kasih dalam penderitaan-Nya. Murid yang dikasihi yakni Yohanes diberikan mandat menggantikan “posisi Yesus” sebagai anak yang setia, pemelihara, dan bertanggungjawab dalam keluarga. Murid yang dikasihi harus memberlakukan  kasih secara konsisten dan konkritnyata dalam hidup keseharian, yang dimulai dari keluarga-keluarga sendiri. Merupakan kemunafikan ketika dengan mudah berkata dan mengajarkan kasih sementara keluarga sendiri diterlantarkan (Band. 1 Yoh. 4;20,dll).

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
  • Apa perbedaan kematian Yesus dengan kematian “tokoh-tokoh dunia” lainnya? Kematian Yesus berdasarkan rencana panjang Allah bagi dunia.
  • Jalan salib menjadi pilihan Allah sebagai bukti betapa besar dan tak terjangkaunya kasih Allah. Kasih Allah dijawab dengan perlawanan, kebencian, amarah, hinaan, cercaan, dan perilaku anti sosial lainnya. Allah tidak mundur, Ia tidak menyayangkan anak tunggal-Nya menjadi kurban. Ia merelakan anak-Nya dan Anak-Nya taat dan setia menanggung semua kehendak bapa-Nya. Penderitaan dan kematian Yesus telah dinubuatkan (Maz.22, Yes.52-53,dll) dalam rangka merealisasikan peneyelamatan Allah bagi dunia (Ibr.10:18-25,dll).
  • Kasih yang tak pernah  pudar. Atas nama ekonomi, karir, SARA dan lain-lain, manusia  cenderung tidak mampu membelakukan kasih yang sejati, malahan sebaliknya, semakin giat membangun tembok-tembok pemisah . Peristiwa salib dan kematian Yesus menginspirasi kita untuk mengoreksi dan menilai ulang sikap dan perilaku kita. Ketidakberesan manusia tidak menghalangi dan membatasi kasih agung mulia dan tulus-iklas. Rencana Allah tidak terbelenggu perlawanan dan atau rancangan dan kesuksesan manusia.
  • Secercah Harapan dari sisa-sisa yang kecil. Pada jaman itu, perempuan (dan “murid yang dikasihi”) tidak sepopuler murid lain namun justru merekalah yang hadir pada saat-saat  genting dan menentukan. Mari kita belajar untuk hati-hati dengan tampilan-tapilan populer dan tidak menyepelekan peran mereka yang  “diam tak berdaya”. Selalu ada harapan-harapan baru.

Diposting tanggal 26 Mar 2018

Daftar Artikel

Yesaya menggambarkan bahwa Tuhan akan bertindak pada waktunya (ay. 8). Dalam menyatakan tindakan-Nya.....

Selengkapnya ..

Matius 2:13-23 menguraikan tentang usaha Herodes untuk membunuh bayi Yesus dan cara Allah menyelamat.....

Selengkapnya ..

Matius 1:18-25 menuturkan riwayat kelahiran Yesus yang menegaskan bahwa kelahiran Yesus bukanlah has.....

Selengkapnya ..

Kalau kita menelusuri lebih jauh dan menyeluruh tentang wilayah Sulawesi Barat dimana pelayanan Gere.....

Selengkapnya ..

Mazmur yang kita baca pada saat ini mengajak semua makhluk dan ciptaan di bumi memuji nama TUHAN, ba.....

Selengkapnya ..

Mazmur 148:1-6, mengungkapkan mengenai penciptaan alam semesta dan segala isinya hanya oleh Tuhan. A.....

Selengkapnya ..

Maria adalah pribadi yang sangat rendah hati di hadapan Tuhan baik ketika Elisabet memuji karena dia.....

Selengkapnya ..

Tuhan menyatakan murka-Nya kepada bangsa Israel karena pengkhianatan mereka. Beratnya penderitaan ya.....

Selengkapnya ..

Demikianlah yang terjadi pada diri murid-murid Yohanes setelah mengetahui bahwa pelayanan Yesus tela.....

Selengkapnya ..

Dalam suratnya, rasul Paulus telah menyebut jemaat Galatia telah berlaku bodoh (psl.3:1) mengapa dem.....

Selengkapnya ..

Hal “tidak enak hati” juga ternyata di alami oleh raja Daud ketika ia telah merasakan ke.....

Selengkapnya ..

Sejak pertama kali umat Tuhan kembali ke Yerusalem, Bait Allah sudah mulai dibangun namun sayang ter.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...